<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664</id><updated>2011-11-04T16:49:55.403+07:00</updated><category term='tentang diri-ku'/><category term='tentang segala hal'/><category term='tentang keluarga-ku'/><category term='tentang Shabrina'/><category term='tentang Rais'/><title type='text'>Perjalanan Cinta</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>87</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-8158615615081764125</id><published>2010-01-21T07:17:00.004+07:00</published><updated>2010-01-21T07:46:55.118+07:00</updated><title type='text'>Kalo lagi Gak Punya Duit ...</title><content type='html'>Kalo lagi gak punya duit, macam-macam perasaan berkecamuk di dada. Tapi ternyata definisi 'gak punya duit' buat setiap orang bisa berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat satu orang, 'gak punya duit' bukan berarti bener-bener gak punya duit lohh .. 'Gak punya duit' buat orang-orang jenis ini bisa berarti dia tidak mau ikut serta dalam sesuatu. Tidak mau ikut patungan karaokean, tidak mau patungan beli hadiah buat teman, tidak mau ikut arisan yang menurutnya 'gak jelas' dan lain-lain alasan yang intinya dia tidak mau ikut mengeluarkan uang untuk sesuatu. Alasan 'gak punya duit' yang ini sering saya pakai ketika ada teman yang sangat memaksa membeli dagangannya ;p ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat orang lain, 'gak punya duit' bisa berarti out of bujet. Orang-orang jenis ini biasanya tidak mau repot dan -mungkin agak sedikit pelit ;)-. Contohnya saja ibu mertua ku (maaf ya ibu, eva jadikan contoh). Dulu beliau pernah cerita, buat beliau yang namanya duit sudah jelas pengeluaran dan porsinya setiap bulan, jadi kalo ada pengeluaran ekstra -apalagi untuk hura-hura- beliau langsung berkata "Gak punya uang !"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat orang yang lain lagi, 'gak punya duit' itu berarti pura-pura. Biasanya orang-orang jenis ini tidak mau terlihat menonjol. Dia tidak mau dianggap punya duit banyak terus oleh lingkungannya. Biasanya orang-orang seperti ini adalah orang-orang kaya lama yang sudah terbiasa dengan barang-barang mewah selama bertahun-tahun. Sehingga mereka tidak pernah merasa harus membuktikan dirinya dengan membeli barang-barang itu untuk menunjukkan status mereka. Persis seperti ayah seorang teman saat kuliah dulu. Pernah aku liat, dengan enaknya beliau naik motor dengan bercelana pendek dan bersendal jepit pergi ke kantor pusat bank Mandiri dan langsung masuk ke ruangan Mandiri Prioritas sesampainya disana. Dan kompak bengong-lah semua pegawai bank disana -termasuk aku- melihat beliau ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat orang yang lain, 'gak punya duit' ya memang berarti 'gak punya duit'. Yang satu ini terkadang membuat kita sering merasa tidak berdaya. Padahal kondisi 'gak punya duit' itu bersifat sementara. Alloh pasti akan memberi rezeki dari pintu yang tidak disangka-sangka kepada hamba-Nya. Mosok gak percaya sama Alloh ?... Hayooo ;p Malah sering disaat kita bersyukur dan bersedekah disaat kita 'gak punya duit' menjadikan tiba-tiba kita kejatuhan rezeki tak terduga. Kalo gak percaya buktikan dehhhh ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalo kata mama-ku "Jangan pernah bilang gak punya duit, nanti gak punya duit beneran !" Waduuuuhhhh ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-8158615615081764125?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/8158615615081764125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=8158615615081764125&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8158615615081764125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8158615615081764125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2010/01/kalo-lagi-gak-punya-duit.html' title='Kalo lagi Gak Punya Duit ...'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-5982321254554687329</id><published>2010-01-20T08:56:00.007+07:00</published><updated>2010-01-20T09:34:30.382+07:00</updated><title type='text'>Brina dan Bunda Belajar Banyak Pagi ini</title><content type='html'>Pagi ini, Brina bangun dan langsung bertanya "Nomor berapa bis jemputan-ku,bunda?". &lt;br /&gt;Sejak TK sampai kelas 2 semester 1 ini, Brina selalu diantar jemput oleh-ku. Sekolah, pergi les, ke rumah temannya, kemana saja, Brina tidak pernah berpisah dari ku. Tidak enak saja rasanya bila salah satu dari kami, hanya pergi sendirian. oleh karena itu tak jarang juga aku bawa Brina pergi pengajian, arisan bahkan ketika aku sedang hang out dengan sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku dan Rais mencoba, Brina mulai belajar untuk pergi dan pulang sekolah sendiri dengan bis jemputan sekolahnya. Salah satu kelebihan dari &lt;a href="http://www.sekolah-aljannah.com"&gt;sekolah Brina&lt;/a&gt; adalah terkoordinirnya fasilitas antar jemputnya. Semua antar jemput secara resmi dikoordinir langsung oleh sekolah dan ini membuat kami merasa aman untuk 'melepas' anak tunggal.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/S1ZqiIWgsII/AAAAAAAAASw/K6bgJk5dlJ8/s1600-h/antarjemput.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/S1ZqiIWgsII/AAAAAAAAASw/K6bgJk5dlJ8/s400/antarjemput.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428643535431708802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Acara sarapan pagi, aku lalui dengan agak grogi. Aneh saja rasanya, pagi-pagi masih belum berdandan untuk pergi mengantar Brina. Walau sudah mandi tapi masih berdaster, aku layani Brina dan Rais sarapan. Hari ini, Rais juga khusus cuti untuk 'melepas' anak kami pergi sekolah sendirian untuk pertama kalinya. Berlebihan kah ?.. Hmmh mungkin :) .. Tapi sebagaimana Brina, ini juga pengalaman pertama kami sebagai orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Rais berencana untuk membuntuti bis jemputan dari belakang agar setidaknya Brina merasa aman masih melihat kami di belakang bis jemputannya. Brina sendiri, tidak menunjukkan perbedaan tingkah laku, Dia cuma penasaran dengan nomor bis jemputannya. Dia tetap sarapan seperti biasa dengan menu telor ceplok kesukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sarapan, aku bantu Brina menguncir rambutnya, sambil berusaha mengorek-ngorek isi hati.&lt;br /&gt;"Brin, nanti kenalan ya sama teman2 di jemputan.."&lt;br /&gt;"Iya Bun, ada kok anak kelas 2 Akar yang juga naik jemputan Kota Wisata",katanya sambil terus memakai kaos kaki&lt;br /&gt;"Nanti bunda dan ayah ngikutin dari belakang ya Brin.."&lt;br /&gt;"Iyaaa.. tapi nanti bunda dan ayah gak usah ikut masuk cluster-cluster. Tunggu aja di gerbang cluster.. Takutnya dimarahin pak Satpam"&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum kecil membayangkan satpam komplek perumahan kami yang terkenal dengan 'keribetannya'. Ternyata hal itu juga diperhatikan oleh Brina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tin.. tin... akhirnya datang juga mobil ELF putih jemputan Brina. Tepat jam 6.10 seperti janji pak Romli supir jemputan lewat smsnya tadi malam.&lt;br /&gt;"Bun, gak usah ngikutin aku dehh..aku bisa kok pergi sekolah sendiri"&lt;br /&gt;Loh..loh..aku dan Rais cuma bisa bengong saja melihat Brina yang langsung berlari cepat sambil mencium pipiku dan ayahnya sekilas.&lt;br /&gt;"Assalamu'alaikum, Bun.. Aku udah janjian mau duduk di bangku depan", kata Brina sambil melambaikan tangan dari jendela bis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai pesan pada pak Romli sang supir bis, aku dan Rais mengantar Brina pergi sekolah hanya dari depan rumah.. Duh, duh..ternyata Brina lebih mandiri dari yang kami duga. Gadis kecil kami sudah besarrr ;) hehehehhee...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-5982321254554687329?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/5982321254554687329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=5982321254554687329&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/5982321254554687329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/5982321254554687329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2010/01/brina-dan-bunda-belajar-banyak-pagi-ini.html' title='Brina dan Bunda Belajar Banyak Pagi ini'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/S1ZqiIWgsII/AAAAAAAAASw/K6bgJk5dlJ8/s72-c/antarjemput.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-7178609494682644928</id><published>2010-01-17T10:22:00.006+07:00</published><updated>2010-01-17T10:47:41.886+07:00</updated><title type='text'>Begitu Kecil Hati</title><content type='html'>Disaat-saat sedang merasa 'jatuh' dan 'kalah' seperti sekarang ini, bingung memikirkan bagaimana caranya bisa 'membangkitkan' lagi hati ini. Banyak sebenarnya yang membuatku sedang merasa kecil hati sekarang. Remeh temeh sebenarnya, tapi mungkin di saat ini, hal itu sangat berpengaruh buat hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, walaupun tidak pernah punya resolusi tahunan, aku punya target tahunan yang -walaupun tidak ngoyo- tapi aku bertekad mewujudkannya. Dan aku merasa tahun 2009 kemarin, targetku itu meleset. Pengen sih tidak merasa 'that's not a big deal' toh masih ada hari esok, toh masih ada kesempatan, tapi rasa ngeganjel itu tetap ada dalam hati ini walau tahun 2010 ini sudah berjalan hampir 1 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sabar" itu kata Rais&lt;br /&gt;Pengen aku sabar..Sungguh.. Tapi kenapa kali ini terasa amat susah. Mungkin untuk orang se-cuek aku hal ini sangat mengherankan. Toh ini target duniawi, apa yang perlu dikejar lagi kalo memang tidak tercapai ? Bersyukurlah dengan apa yang sudah ada sekarang, Walaupun satu hal tidak tercapai, tapi begitu banyak pencapaian-pencapaian yang sudah aku lakukan tahun kemarin. Pengen aku merasa seperti itu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah sifat manusia yang selalu merasa tidak cukup ? Ataukah ini sifat manusia yang selalu merasa rumput tetangga lebih hijau dari miliknya ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan ku yang begitu mendalam terhadap apa yang aku lakukan di tahun kemarin, ternyata berimbas pada hari-hari ku belakangan ini. Aku jadi cepat nangis, jadi cepat sedih. Aneh memang karena aku merasa ini bukanlah aku. Tapi setiap aku merasa 'mentok', maka bayangan kegagalan pencapaian ku di tahun kemarin lantas otomatis mengecilkan hatiku. Dan membuatku menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kecil hati nya aku saat ini membuat Rais menjadi bingung. Entah berapa kali, dia tergeragap melihat reaksi ku menghadapi sesuatu. Aku yang biasa easy going berubah menjadi begitu sensitif. Tapi herannya, begitulah mungkin laki-laki, Rais tidak pernah bertanya ada apa dengan ku. Padahal aku sangat ingin dia bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin besok, perlahan aku harus mulai menata hatiku. Rasa kecil hati itu memang masih ada, biarkan saja. Mungkin aku memang kecewa, kekecewaanku begitu mendalam sehingga membuat hatiku menjadi sempit. Mungkin inilah saat surutnya perasaanku. Aku tidak mau memaksa hatiku untuk kembali pulih. Aku percaya bahwa hati ini akan sembuh pada waktunya.. Insya Alloh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-7178609494682644928?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/7178609494682644928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=7178609494682644928&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7178609494682644928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7178609494682644928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2010/01/begitu-kecil-hati.html' title='Begitu Kecil Hati'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-1943811185453848191</id><published>2010-01-15T09:15:00.007+07:00</published><updated>2010-01-15T10:37:46.678+07:00</updated><title type='text'>Rasanya Lebih Nyaman .. Rasanya Lebih Tenang ..</title><content type='html'>Agak mundur ke belakang, akhirnya aku dan Rais memutuskan Brina untuk pindah sekolah. Dimulai pada bulan September 2009 lalu, kami ajak Brina untuk berkeliling mencari sekolah baru. Ada 3 sekolah yang kami datangi yaitu &lt;a href="(http://www.sdia20.sch.id/"&gt;SD Islam Al Azhar Cibubur&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.sekolah-aljannah.com/"&gt;Sekolah Alam dan Sains Al Jannah di Pondok Rangon &lt;/a&gt;dan &lt;a href="http://www.globalmandiri.com/"&gt;Sekolah Global Mandiri di Legenda Wisata&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkeliling ke 3 sekolah ini, membaca brosur dan mempertimbangkan berbagai hal yaitu, biaya masuk, sistem pembelajaran, dan wilayah, akhirnya pilihan itu mengerucut menjadi 2 yaitu SD Islam Al Azhar, Cibubur dan Sekolah Alam dan Sains Al Jannah, Pondok Rangon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa akhirnya menjadi 2 pilihan karena kami berdua mencapai kata sepakat untuk lebih memprioritaskan pendidikan agama untuk Brina. Apalagi melihat pengalaman saat Brina bersekolah di &lt;a href="http://www.sdnpikip.net/"&gt;SDN RSBI Rawamangun 12 pagi&lt;/a&gt; (dulu SDNP Komplek IKIP / SD Labschool)dimana kami melihat bahwa role model yang baik adalah bagian terpenting dari pembentukan sikap mental anak. Hal ini bukan berarti di sekolah berbasis agama anak kita PASTI akan mendapat role model yang baik yaaa, tapi setidaknya pendidikan agama memegang peranan penting dalam mendukung pembentukan sosok guru dan kepala sekolah yang amanah, jujur dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brina pun terlihat antusias dengan 2 sekolah ini. "Aku gak pake jilbab sendirian lagi Bun", itu pendapatnya saat aku tanyakan apakah dia suka dengan 2 sekolah ini. Pernyataan yang lucu, karena terus terang kami berdua tidak begitu memperhatikan kondisi ini. Toh, di SD Islam Al Azhar Cibubur pun tidak mewajibkan siswanya untuk berjilbab, walau banyak juga siswa yang berjilbab disana. Tapi buat Brina, masalah jilbab ini adalah hal ini penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kami berdua berdiskusi tentang hal ini. Buat Rais yang academic minded, memang susah untuk menerima konsep Multiple Intelligence yang kebetulan diterapkan oleh 2 sekolah pilihan ini. Buat Rais, sekolah itu berarti nilai, rangking dan prestasi akademik yang bagus. Yang namanya sekolah ya harus nilai raport standardnya, itu buat Rais. Sedangkan buat ku (yang mungkin agak lebih 'gaul') konsep Multiple Intelligence adalah jawaban buat Brina. Karena, bukan sombong yaa, untuk masalah akademis, aku tidak meragukan Brina. Ini terbukti dengan bisa bertahannya Brina menjadi rangking 1 di kelas 2 ini, tapi aku melihat Brina punya minat lain yang sebagai orang tua -aku dan ayahnya- harus jeli melihatnya sebagai sebuah potensi yang harus dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brina suka menulis, suka musik,dan sangat tertarik dengan sains. Sering aku melihat Brina serius di laptopnya berjam-jam menulis cerita. Dan di waktu luangnya dia sangat suka membaca buku-buku sains 'dunia khayal' (istilah ayahnya). "Aku baca buku untuk cari inspirasi, Bunda", katanya. Begitu juga saat dia melihat orang main gitar, Brina bisa duduk di depan orang itu memperhatikan jari-jari pemain gitar itu dengan muka takjub sampai permainan gitarnya selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sih, bisa saja mengembangkan potensi anak lewat kursus ini itu. Tapi aku tidak mau membebani Brina dengan banyak kursus dulu saat ini. Aku ingin Brina berada dalam lingkungan yang mendorong minatnya, yang bisa mendukung potensi nya itu. Hmmh, bukan berarti di SDN RSBI Rawamangun 12 (SDNP Komplek IKIP/SD Labschool) tidak ada fasilitas lab sains atau ruang musik, tapi sebagaimana halnya sekolah 'konvensional' lainnya, aku menganggap sekolah itu tidak bisa membantu aku menjadi mitra untuk mengembangkan potensi Brina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami ajak lagi Brina pergi dan berkeliling ke 2 sekolah ini. Pada kunjungan kedua ini, kami berusaha untuk memfokuskan pada keinginan Brina, sekolah mana yang lebih dia sukai. Di kunjungan kedua inilah mulai kelihatan betapa antusiasnya dia ketika berkunjung ke Sekolah Alam dan Sains Al Jannah. Brina terlihat antusias ketika melihat hamparan tanaman di taman obat keluarga sekolah ini. Brina juga terlihat antusias ketika melihat siswa-siswa yang sedang belajar di luar kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sekolah yang satu ini unik, sejauh mata memandang ada siswa yang sedang belajar. Di saung tengah danau, di gazebo, di masjid, di kebun, dimana saja ada suasana belajar. Guru-gurunya dengan lincah menenteng papan tulis kemana-mana diiringi dengan para siswa di belakangnya. Dilihat dari posisi yang agak tinggi, sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan melihat iring-iringan guru dan anak didiknya itu dibawah sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi fasilitas sekolah ini, amat memuaskan buat kami. Kolam renang, lapangan futsal, masjid, WC yang bersih, lab-lab yang sangat lengkap, kelas yang luas bahkan BMT tempat anak menabung pun tersedia disana. Subhanallah, dari dulu aku memang memimpikan anakku bisa belajar dalam suasana yang menyenangkan. Sekolah ini juga amat luas. Ada kebun binatang mini, ada kolam ikan, ada kebun percobaan, ada taman obat keluaga, wahhhh... pasti Brina bisa bebas bergerak dengan luas lahan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sengaja, di kunjungan kedua itu, kami bisa bertemu dengan Kepala Sekolahnya. Kepala Sekolahnya adalah seseorang bermata lebar dengan senyum yang tak kalah lebarnya. Disitulah Rais menuntaskan 'hasratnya' tentang konsep Multiple Intelligence dengan berdiskusi dengan bapak Kepsek. Aku sendiri tidak begitu memperdulikan diskusi itu, karena bagiku yang terpenting adalah Brina. Saat Brina senang dan antusias, itulah inti pencarianku buat sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah istikharah dan sholat hajat, aku dan Rais mantap untuk mendaftar ke Sekolah Alam dan Sains Al Jannah. Semoga ini adalah sekolah yang bisa mendukung potensi Brina. Semoga Brina senang dengan sekolahnya. Semoga usaha kami orang tua nya untuk mencarikan sekolah terbaik buat Brina mendapat ridho dari Alloh SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih nyaman rasanya, lebih tenang rasanya, apabila kita bisa menitipkan buah hati kita pada guru-guru yang kita percayai integritasnya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-1943811185453848191?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/1943811185453848191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=1943811185453848191&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1943811185453848191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1943811185453848191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2010/01/rasanya-lebih-nyaman-rasanya-lebih.html' title='Rasanya Lebih Nyaman .. Rasanya Lebih Tenang ..'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-3198323968849545528</id><published>2010-01-14T09:54:00.007+07:00</published><updated>2010-01-14T10:19:01.755+07:00</updated><title type='text'>Aku Kembali ...</title><content type='html'>Setelah hampir 2 tahun tidak meng-update blog ini, hari ini dengan bismillah, aku coba untuk mulai menulis lagi..Setelah hampir terbiasa dengan tulisan-tulisan pendek ala status facebook, timbul juga rasa kangen itu, rasa ingin berbagi dan ingin bercerita menuntaskan rasa dengan sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duluuuuu, blog ini sangat 'ramai'.. Silih berganti teman-teman, saudara bahkan suami ku yang pengen mengintip 'isi hatiku' pasti akan pergi ke blog ini. Aku memang terbiasa mencurahkan perasaan, pendapat bahkan marahku disini. Tapi ya itu tadi, sejak era facebook, blog ini mati suri.. Sedih sebenarnya, karena tulisan-tulisan dalam blog ini adalah aku. Dengan kata lain, bila ingin tahu bagaimana aku ya bisa dilihat lewat tulisan-tulisan ku di blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook memang agak 'merusak' ritme hidupku dalam berbagi. Duluuu (kalo boleh disebut dulu yaa..) aku bisa menulis tentang perasaanku berjam-jam dengan berbagai sudut pandang, dengan berbagai analisa (yg kata orang bertele-tele) tapi aku senang ... Yah begitulah tulisanku, begitulah aku ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Alloh, ini janjiku, aku mau menghidupkan kembali blog ini. Supaya bisa jadi tempat pelarian buat orang-orang yang sedang ingin rehat dari rutinitas atau yang sekedar ingin tahu kabar ku...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-3198323968849545528?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/3198323968849545528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=3198323968849545528&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3198323968849545528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3198323968849545528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2010/01/aku-kembali.html' title='Aku Kembali ...'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-564040188760482644</id><published>2008-08-13T19:30:00.003+07:00</published><updated>2008-08-13T19:39:08.351+07:00</updated><title type='text'>Capek, Kuat dan Hati</title><content type='html'>3 hal yang sedang mendominasiku saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu betapa masih panjangnya perjalanan ini. Beneran deh, ingin banget rasanya menemukan motivasi baru yang -mungkin- lebih menggairahkan dan membuat fun. Tapi setelah merenung, motivasi yang kupunyai sekaranglah yang paling masuk akal. Apakah aku harus mencari-cari sesuatu yang jauh diatas sana ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dari dulu sampai sekarang, hidupku ini seperti air mengalir saja, perlahan kusadari bahwa aku juga memerlukan muara dari semuanya. Bukan bermaksud untuk menjadi seorang filsuf, aku tidak serumit itu, aku juga bukan orang yang serba menanyakan ini itu untuk sesuatu yang harus dihadapi, tapi mempertanyakan kemana akhirnya perjalanan ini berakhir aku pikir bisa memberiku semangat yang sekarang hampir meredup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga sudah berusaha mencari variasi dalam hidup. Sepertinya sudah begitu banyak variasi yang aku punyai saat ini. Mulai dari pemuasan batiniah sampai pengungkapan identitas diri, semua sudah aku miliki sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru ku bilang, "Kamu terlalu menginginkan semuanya berjalan sempurna". Mungkin juga itulah penyebabnya. Sebagai orang yang membiasakan hidupnya mengalir, tuntutan-tuntutan yang ada pada diriku saat ini begitu membebani diri. Bagaimana tidak terbeban bila ada sepasang mata mungil menatap di sana dan sebuah cinta putih memintaku untuk berbuat yang terbaik ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga bukan orang yang suka mencari pembenaran bila ternyata hidupku ini mengalir tidak sesuai dengan keinginan orang lain. Aku adalah orang yang cukup jujur untuk mengakui kesalahanku. Tapi bisakah aku berfikir seenteng itu bila yang menjadi taruhannya adalah masa depan buah cintaku sendiri ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sekarang aku harus lebih mengeraskan hati. Karena hatilah sumber segalanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-564040188760482644?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/564040188760482644/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=564040188760482644&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/564040188760482644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/564040188760482644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/08/capek-kuat-dan-hati.html' title='Capek, Kuat dan Hati'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-8707897779429015998</id><published>2008-08-08T15:37:00.000+07:00</published><updated>2009-03-06T15:38:45.212+07:00</updated><title type='text'>SD IKIP, Mengungsi !</title><content type='html'>Sudah 1 pekan Shabrina mengungsi ke SD Rawamangun 13/14/15 dan SMP 74 pasca kebakaran SD IKIP. Dan karena numpang, mau tak mau harus masuk siang setelah siswa2 SD Rawamangun dan SMP 74 bubar sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari 1, adalah hari penuh kebingungan. Bisik2 tak senang yang ditujukan karena macetnya jalan di depan SD Rawamangun menebar di sana-sini. "Mentang-mentang anak orang kaya, seenaknya aja bikin macet di sekolahan kita", begitu celetukan seorang ortu murid SD Rawamangun. Saya hanya bisa tersenyum kepadanya. Duh, ibu, kami pun tak berharap seperti ini. Tapi ini musibah ya bu, bisa menimpa siapa saja dan kapan saja, semoga kita semua bisa saling berempati. Begitu sahutku dalam hati, walau sebenarnya tiada kata yang keluar dari mulut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran dibuka dengan dikumpulkannya anak-anak di lapangan. Ada pak Arief Rachman di sana, beliau sangat ngemong dengan mengatakan "Anak-anak, Apapun yang terjadi kalian harus tetap belajar !". mungkin ini adalah simpati paling baik yang pernah aku dengar menanggapi kejadian kebakaran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu kami lalui dengan berbagai keluhan yang terlontar dari mulut para orang tua murid, mulai dari tidak nyamannya ruangan kelas yang tidak berkipas angin, jadwal les yang harus direschedule, jalanan yang macet di siang hari, dll. Tapi herannya anak-anak sepertinya tidak terpengaruh oleh pengungsian ini. Shabrina dan teman-teman tetap asyik berlari-lari bermain di lapangan. Apakah benar hanya orang tua yang membesar-besarkan hal ini ? Entah, aku sudah terlalu capek untuk memikirkannya :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi WC nya memang agak jorok. Yah, 1 level berada di bawah WC di SD IKIP. Tapi yah begitulah WC SD Negeri pada umumnya, begitu pikirku. Aku pun mencarikan Brina alternatif lain untuk pipis di WC SMP 74 yang lebih bersih. Tapi menjelang istirahat, para penjaga sekolah SD IKIP menyikat, membersihkan dan menyiram karbol di WC SD itu. Cukup lumayan hasilnya..:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari 2, hampir semua orang tua mengantar anaknya hari ini ke sekolah. Gosip yang mengatakan bahwa ada anak SD IKIP yang dipalak oleh SD Rawamangun menyeruak sejak semalam. Deringan telepon dan sms meributkan malam tadi. Dan aku terguncang ketika mengetahui ada kata 'pisau' di dalamnya. "Ada anak kelas 4 SD IKIP dipalak di kamar mandi dengan pisau oleh anak SD Rawamangun", begitu bunyi sms nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran orang tua aku pikir sangat beralasan. Kesenjangan sosial itu memang begitu jauh. Aku tidak tahu apakah anak-anak usia SD bisa melihat sebuah kesenjangan. Melihat tidak tapi merasakan iya, begitu pendapatku. Memang dibandingkan siswa SD IKIP, anak-anak SD Rawamangun tingkat perekonomiannya berada jauh dibawahnya. Di mulai dari cara berpakaian, macetnya jalan di depan sekolah karena mobil-mobil para pengantar, HP yang mereka pegang dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi terus terang, SD Rawamangun 13/14/15 dan SMP 74 ini tidaklah se'parah' katanya. Sekolahnya cukup bersih, anak-anaknya pun cukup ramah dan guru-gurunya juga sering tersenyum. Aku merasa seperti kembali pada puluhan tahun yang lalu ketika masih SD. Ini baru SD negeri yang normal. Apakah SD IKIP, SD Negeri kurang normal ? hehehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jajanannya mengingatkan aku pada jajanan masa SD dulu; makaroni asin, siomay 300-an/buah, burger 3000-an, aer aus, es kebo, cireng, cimol-cimolan, martabak mini dll. Puas kucicipi hari itu semua jajanan semi 'jorok' versi SD Negeri. Ahh, sepertinya semuanya baik-baik saja kok, mungkin aku yang terlalu khawatir dan tidak mensyukuri apa yang ada, inilah kesimpulan yang aku buat ketika sedang mengunyah cireng penuh saos. Aku menetapkan hati untuk menenangkan diri. Aku cuma gak pengen Brina menangkap kegelisahanku. Toh, dia baik-baik saja. Brina gak mengeluh dan tetap gembira setiap pergi sekolah. Semoga semua ini hanyalah adaptasi yang harus dijalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini juga datang surat dari komite sekolah SD IKIP yang ditandatangani oleh ketua komite sekolah SD IKIP, ibu Elva Waniza. Isinya permintaan sumbangan sukarela dari para ortu untuk membersihkan puing di SD IKIP, membayar penjaga malam di sana, dll, agar secepatnya bisa diadakan evaluasi dan uji kelayakan, apakah bangunan SD IKIP masih layak ditempati atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari 3, adalah hari penuh kehebohan. Kekhawatiran orang tua akan keselamatan anak-anaknya di sekolah pengungsian ini ternyata tidak ditanggapi dengan baik oleh para guru. Aku melihat ini adalah perbedaan cara pandang saja. "Ibu cuma punya 2 anak, sedangkan kami harus mengurusi 800 anak", begitu tanggapan seorang guru SD IKIP ketika ada seorang ortu murid menyampaikan keluhannya tentang pemalakan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Pak guru, Bu guru, ini bukanlah sebuah cara yang simpatik untuk menanggapi sebuah keluhan. Tolong pahami bahwa kekhawatiran ortu murid pun beralasan. Kita sedang berada di tempat yang baru dengan kondisi yang baru juga. Sebaiknya tanggapan yang sinis dan tidak berempati jangan diperlihatkan dalam kondisi seperti ini. Begitu pula ortu murid sebaiknya percaya dengan para guru yang akan menjaga siswa-siswanya, anak-anak kita. Aku pikir 2 hal ini harus saling bersinergi sehingga tidak ada lagi salah tanggap seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami para ortu murid juga mengumpulkan sumbangan sukarela yang dihimbau oleh komite sekolah SD IKIP. Tapi herannya, sore ketika anak-anak pulang mereka diberikan lagi surat himbauan dari komite sekolah untuk mengumpulkan sumbangan sukarela (LAGI) dan yang bikin ribut peruntukannya adalah untuk merenovasi lantai 1&amp;amp;2, membeli kursi+meja untuk 8 kelas @40 buah, membeli 50 unit komputer, membeli beberapa unit AC yang ikut terbakar, merehabilitasi lantai 3 yang terbakar, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walahhhhh, apa kita para ortu murid disuruh membangun sekolah lagi gitu ? Kalau memang kita sebagai ortu murid dihimbau untuk menalangi dana perbaikan sekolah, apakah nanti setelah turun dana dari Depdiknas untuk memperbaiki sekolah maka uang para ortu akan dikembalikan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus berapa banyak uang yang harus dikumpulkan oleh 878 ortu siswa untuk membangun kembali SD IKIP ? Apakah himbauan ini proporsional ? Yang jadi pertanyaan adalah apakah surat edaran dari komite sekolah SD IKIP ini diketahui oleh pihak sekolah ? Dan apakah memang harus ortu siswa yang bertanggung jawab atas pembangunan sekolah pasca kebakaran ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini adalah akibat dari keresahan para ortu murid belakangan ini. Ketidaknyamanan akibat pemalakan yang terjadi ditangkap oleh komite sekolah untuk segera mengambil langkah agar kita segera pindah lagi ke SD IKIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapatku, reaksi seperti yang dilakukan oleh komite sekolah amatlah naif. Bukan begini caranya, karena biar bagaimana pun kita adalah institusi birokrasi, kita adalah sekolah negeri dan memiliki cara yang 100% berbeda dari SMP/SMA Labschool dalam menangani masalah pasca kebakaran ini. Lagipula apakah sudah ada jaminan dari pihak terkait bahwa gedung sekolah kita sudah cukup aman ditempati kembali pasca kebakaran ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himbauan komite sekolah ini bisa menjadi kontraproduktif do kalanagan ortu siswa. Dan terbukti bisik-bisik yang beredar mengatakan bahwa para ortu tidak perlu menanggapi dengan serius surat yang kedua ini, lebih baik kami memprioritaskan diri untuk membuat anak-anak nyaman menghadapi perubahan jam sekolah ke siang hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke-4, para ortu sudah agak tenang. Bahkan ada beberapa ortu yang sudah pasrah akan musibah ini. Biar bagaimana pun memang kita tidak boleh memaksakan proses yang harus terjadi. Kita memang harus bersabar dan bersabar. Entah sampai kapan kita harus mengungsi seperti ini, tapi inilah proses dan kita harus mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini diwarnai dengan kabar bahwa sudah ada beberapa anak SD IKIP yang pindah sekolah. Mungkin memang semua ini ada alasannya. Bagaimana anak bisa belajar dengan tenang di saat seharusnya dia beristirahat ? Bagaimana anak bisa belajar dengan baik apabila dia ketakutan dipalak ? Bagaimana juga anak bisa belajar dengan tenang di dalam kelas yang panas ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku ingin mengajari Brina untuk menerima keadaan. Biar bagaimana pun ini adalah musibah, tiada satu pun yang mengharapkannya datang. Dan aku selalu berpendapat bahwa semua ini ada hikmahnya. Aku dan Rais yakin bahwa anak kami, Brina, adalah anak yang kuat dan tegar menghadapi masalah ini. Kami tidak mau membuat Brina berlari dari masalah. Ini adalah konsekwensi yang kami harus hadapi dari keputusan kami dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena kami tidak mempunyai pilihan. Toh yang namanya pilihan bisa diambil setiap saat. Tapi ini adalah mengenai menjalani dan melakukan. Ini pendapat kami !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari 5, sepertinya kami para ortu dan siswa sudah mulai santai menghadapi keadaan. Yah, memang tidak ada yang bisa dilakukan. Prioritas kita saat ini adalah anak-anak. Mereka sudah cukup berat menghadapi masalah ini. Mungkin yang mereka perlukan saat ini bukanlah kegelisahan dan kasak-kusuk kita, tapi ketenangan dan keyakinan bahwa kita ortunya akan selalu mendampingi mereka di masa yang berat ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-8707897779429015998?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/8707897779429015998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=8707897779429015998&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8707897779429015998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8707897779429015998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/08/sd-ikip-mengungsi.html' title='SD IKIP, Mengungsi !'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-2999917919113236752</id><published>2008-07-31T05:41:00.014+07:00</published><updated>2008-07-31T07:06:05.503+07:00</updated><title type='text'>SD IKIP Terbakar !</title><content type='html'>Siang kemarin, Rabu 30 Juli 2007, sekitar jam 13.00 sepulang dari Gramedia Matraman, di perempatan Pramuka menuju By pass, di dalam mobil kami melihat ada asap tebal berwarna hitam membumbung tinggi di sekitar area IKIP atau Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat terlintas untuk melihat kesana, tapi kenapa yang ada dalam pikiran kami paling yang terbakar adalah perumahan kumuh di depan Playgroup Al Azhar Rawamangun seperti kira-kira 2-3 tahun yang lalu. Akhirnya kami putuskan langsung belok kanan menuju pintu tol Golf , pulang kerumah !....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru aja sampe di daerah TMII tiba-tiba ada SMS masuk dari seorang sahabat sesama ortu di PG Labs dulu bahwa terjadi kebakaran besar di gedung SMP Labs dan saat ini api sedang menuju SD IKIP. Innalillahi, cuma itu yang terucap. Dan tak disangka ketika mobil kami sampai di depan gerbang Kota Wisata datang lagi SMS yang mengabarkan bahwa api sudah sampai di gedung SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, api begitu cepatnya ! Tak sabar aku menelepon seorang teman sesama ortu SD IKIP, mba Santi (mama Rega), yang kebetulan tinggal di daerah Daksinapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantai 3 sudah terbakar, Va", begitu katanya lemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Alloh, tanda-tanda apa ini ? Apakah ini jawaban dari semua pertentangan yang terjadi selama ini ? Apakah ini berarti bahwa semua kesombongan, kekeraskepalaan dan keangkuhan tidak berguna di mata Nya ?. Sekali DIA bilang hancur, maka dalam sekejap hancurlah semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228949991598836114" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/SJD2UC2HyZI/AAAAAAAAANc/E7nCPVJn2Wc/s320/P1012463%5B1%5D.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Foto diatas memperlihatkan betapa parahnya kerusakan yang terjadi. Atap yang berwarna coklat itu adalah gedung SMP Labs sedang di sebelahnya yaitu atap yang berwarna hijau adalah gedung SD IKIP. Awalnya gedung SMP itu berlantai 3, saat ini lantai 3 nya habis terbakar dan lantai 3 SD di sebelahnya juga habis terbakar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228951150500589746" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" height="208" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/SJD3XgF1MLI/AAAAAAAAANk/u7oe7m-rsDM/s320/P1012470%5B1%5D.JPG" width="281" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ini adalah foto gedung SMP Labs dari sisi lain yang habis terbakar juga.lihat lantai 3 nya hancur tak bersisa !....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228951723214011602" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 346px; CURSOR: hand; HEIGHT: 208px; TEXT-ALIGN: center" height="159" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/SJD341nWfNI/AAAAAAAAANs/xZ22oB4IOQw/s320/DSC01361.JPG" width="232" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tapi Subhanallah, mesjid Baitul Ilmi Labschool sama sekali tidak tersentuh api, Api berjalan melingkar menjauhi mesjid dan padam tepat sebelum mesjid, Subhanallah. Foto diatas diambil sesudah Isya, menunjukkan kubah mesjid di sana masih berdiri tegak dengan gagah ! Allahu Akbar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada juga kabar yang terdengar ada AlQuran yang letaknya di lantai 3 SD IKIP sama sekali tidak tersentuh api. Padahal kelas di sekelingnya sudah habis terbakar. Subhanallah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apakah ini menunjukkan bahwa solusi dari berbagai konflik yang terjadi selama ini harus diselesaikan dengan penuh kejujuran dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Wallahu'alam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penyebab kebakaran ini ada beberapa versi. Versi pertama mengatakan akibat korsleting listrik di Teater Besar UNJ yang sedang dipersiapkan untuk presentasi K-Link (sebuah MLM). Saat itu daya listrik dinaikkan tapi ternyata infrastruktur listrik di Teater Besar tidak bisa menanggung beban listriknya. Presentasi MLM itu sendiri belum dimulai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Versi kedua mengatakan setelah terjadi korslet listrik, api dari kabel langsung menyambar motor yang berada di dalam Teater Besar. Rencananya motor Suzuki Thunder itu akan dipergunakan untuk presentasi uji Emisi MLM K-Link. Motor itu meledak dan mengakibatkan kebakaran besar di Labs.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari Kamis dan Jumat ini siswa SD IKIP diliburkan dan akan masuk kembali lagi hari Senin. Rencananya sesuai surat edaran yang ditandatangani oleh kepsek, kegiatan belajar mengajar akan dipindahkan ke SD Rawamangun 13,14,15 dan SMP 74 yang terletak di depan Arion di samping veldroom. Dan jam belajar pun dipindah ke siang hari kelas 1-3 jam 12.30 - 16.10 dan kelas 4-6 jam 12.30 - 17.30.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak terbayang bagaimana lagi harus menghadapi musibah ini. Membiasakan Brina dengan ritme kegiatan baru di siang hari, dimana sehari-harinya dia biasa istirahat dan tidur siang. Mengatur ulang jadwal kursus yang Brina ikuti, ya kalo bisa diatur, kalo tidak bisa diatur karena tidak ada jam kursus diluar jam itu, terpaksa Brina harus menjadwal ulang semuanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang paling kasihan adalah anak-anak kelas 6, mereka harus menyesuaikan lagi jam bimbel ataupun kursus penunjang UAN yang mereka ikuti selama ini. Dan fasilitas serta sarana yang seharusnya bisa digunakan untuk menunjang UAN nanti sementara ini tidak bisa mereka gunakan dulu di sekolah tempat pengungsian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semoga semua ini ada hikmahnya. Aminn. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pesan ku buat pihak-pihak yang bertikai, lebih baik sudahi saja pertikaian ini. Buat yang merasa harus bertanggung jawab terhadap keuangan, maka buatlah pertanggungjawaban yang baik dan jujur. Dan buat para ortu murid yang mau tidak mau harus menanggung biaya demi untuk mutu pendidikan anak-anak kita, lakukanlah kewajibannya dengan baik tanpa harus ribut sana-sini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pihak sekolah, komite sekolah dan orang tua murid sebaiknya sekarang duduk satu meja. Mau diapakan sekolah kita ini sekarang ? Berapa kesanggupan yang bisa dibayar oleh orang tua murid baru untuk uang operasional sekolah dll ? Semuanya pasti bisa dimusyawarahkan, yuk kita duduk bareng sekarang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(terimakasih untuk &lt;a href="http://www.dhun-kimmy.blogspot.com/"&gt;http://www.dhun-kimmy.blogspot.com/&lt;/a&gt; untuk beberapa fotonya)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-2999917919113236752?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/2999917919113236752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=2999917919113236752&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2999917919113236752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2999917919113236752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/07/sd-ikip-terbakar-dan-firasat-itu.html' title='SD IKIP Terbakar !'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/SJD2UC2HyZI/AAAAAAAAANc/E7nCPVJn2Wc/s72-c/P1012463%5B1%5D.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-3050198850417271497</id><published>2008-07-22T20:08:00.003+07:00</published><updated>2008-07-22T20:58:42.216+07:00</updated><title type='text'>Karir Baru (Cerita Seminggu ini) !</title><content type='html'>Fuihhh...dibilang sibuk aku ngerasa udah cukup sibuk selama ini, tapi sekarang kok kerjaan nambah tapi ngerasa masih kurang kerjaan ya ? hehehehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai seminggu yang lalu, setiap jam 3.30 pagi aktivitas sudah dimulai. Dimulai dengan sholat tahajud, terus mulai nyiapin bekal buat Brina, terus nyiapin sarapan, terus mandi, terus bangunin ayah, terus bangunin Brina, terus mandiin Brina...Dan jam 5.30 meluncur nganter Brina ke sekolah. Nyetir sendiri ditemenin suara kaset dan kunyahan Brina yang sarapan di bangku belakang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjaan rutin baru-ku. Terus terang aku bukanlah orang yang senang ber-planning. Kemarin2 belum terlintas dengan apa aku harus aku isi waktu kosong selama hampir 4 jam di saat menunggui Brina sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitness ? Hmmh masih kejauhan cabang LifeSpa terdekat. Ke rumah mertua ? Hmmh kalo pagi kayak gitu rumahnya kosong melompong mau ngapain aku disana ya ? Browsing ke warnet ? Hmmh warnet terdekat di komplek IKIP itu adalah warnet ala mahasiswa yang (duh maaf hihihihi) sumpek dan rada pengap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengennya sih punya laptop yang representatif, untuk browsing dan ngerjain tugasku di &lt;a href="http://www.swarnagaya.com/"&gt;www.swarnagaya.com&lt;/a&gt; Kemaren sempat ke Ambasador liat yang jualan laptop, belum cukup nih kayaknya dana yang ada untuk mengupgrade laptop yang sudah ada ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya hampir seminggu lebih ini, aku adaptasikan diriku untuk 'bergaul' dengan ibu-ibu sekolahan (bukan yang sekolah tapi yang nungguin anaknya sekolah hihihihi). Asyik juga mendengar mereka berdiskusi masalah komite sekolah dan transparansi uang pangkal. Aku yang selama ini buta dengan intrik-intrik politik sekolah negeri, sekarang sedikit demi sedikit sudah mulai 'ngeh' dengan persoalan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak sederhana loh masalahnya, yang namanya transparansi keuangan sekolah itu ternyata melibatkan banyak orang dengan banyak kepentingan. Saat kita mau berjalan ke arah yang ideal, kita akan berbenturan dengan segala halangan bernama birokrasi, masalah perut dan rasa segan euweuh pakeweuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu asyik juga mengamati bagaimana ibu-ibu lain mendidik anaknya. Ada yang sangat fokus kepada nilai akademis, ada yang santai, ada yang selalu was-was pada anaknya, ada yang protektif banget, dan sebagainya. Bagaimana dengan aku ya ? Termasuk ibu yang model gimana ya aku ini buat Brina ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tadi siang, begitu mengagetkan ketika tiba-tiba anak yang -aku tahu persis- tidak lulus tes masuk ternyata setelah hari ke 7 bersekolah ini masuk dan duduk tenang di dalam kelas. Nyogok ? Atau prosedur mengisi bangku kosong ? Gak tau deh, sudah cukup pening kepalaku melihat tingkah ibunya yang tertawa-tawa tanpa beban ketika rame-rame ditanyai berapa dia harus membayar untuk masuk padahal tidak lulus test.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bermoral ? Mungkin. Tapi demi anak maka orang tua pasti akan melakukan apapun. Gak ada benar salah ketika harus berkorban, semuanya hanya ditujukan untuk 'kesenangan' orang yang kita sayangi. Tapi benarkah seperti itu ? Mungkin kalau ditanyai lebih jauh, sang anak tidak akan mengerti bedanya bersekolah di SD percontohan dengan SD yang biasa-biasa aja. Kenapa orang tua harus mengukur 'kebahagiaan' anaknya lewat kacamatanya ?. Kenapa orang tua harus mengukur 'yang terbaik' buat anaknya lewat versi dirinya sendiri ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja, kemaren ternyata Brina tidak lulus test masuk SD percontohan ini, Demi Alloh, aku dan Rais tidak akan pernah mau membayar sepeserpun ataupun berusaha sedikitpun agar Brina tetap masuk ke SD ini. Di samping aku percaya pada nasib, aku juga percaya pada rencana Alloh pada anakku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karir baru, pekerjaan baru, lingkungan baru, semoga aku bisa menghadapinya. Aminnnn&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-3050198850417271497?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/3050198850417271497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=3050198850417271497&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3050198850417271497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3050198850417271497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/07/karir-baru-cerita-seminggu-ini.html' title='Karir Baru (Cerita Seminggu ini) !'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-5702822167925584098</id><published>2008-06-24T07:02:00.011+07:00</published><updated>2008-06-24T07:27:49.450+07:00</updated><title type='text'>Brina diwisuda</title><content type='html'>Brina diwisuda ! Walau baru lulus TK, tapi aku yakin ini adalah tahap terpenting dalam hidup bidadari kecilku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215236695793241266" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/SGA-JLBWjLI/AAAAAAAAANM/e6jzx-dxj1c/s200/DSC00942.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215235059030762018" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/SGA8p5mxIiI/AAAAAAAAAM0/ggSYPJQ2goI/s200/DSC00943.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215235926673270562" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/SGA9cZ03JyI/AAAAAAAAANE/OY-16E7XW3Y/s200/DSC00860.JPG" border="0" /&gt; &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215233837589475778" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/SGA7izYeMcI/AAAAAAAAAMc/ZTEjOrb8FgU/s200/DSC00919.JPG" border="0" /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/SGA8MBuEW3I/AAAAAAAAAMo/djqkorIGytQ/s1600-h/DSC00915.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215234545812790130" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/SGA8MBuEW3I/AAAAAAAAAMo/djqkorIGytQ/s200/DSC00915.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selamat ya Nak...&lt;br /&gt;Jalanilah hidupmu dengan penuh semangat, kejujuran dan ketakutan kepada Nya..&lt;br /&gt;Sungguh, Ayah dan Bunda tidak pernah berharap apapun kepadamu&lt;br /&gt;Hanya satu permohonan bahwa kelak kau akan bersama-sama kami di kehidupan sana.&lt;br /&gt;Jalani terus hidupmu apapun yang terjadi di depanmu ya Nak..&lt;br /&gt;Jangan pernah takut dan mengelak kepada halangan&lt;br /&gt;Karena dengan begitu kau akan bertambah matang dan kuat&lt;br /&gt;Apapun kamu, bagaimana pun kamu, Ayah dan Bunda tetap mencintaimu..:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-5702822167925584098?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/5702822167925584098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=5702822167925584098&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/5702822167925584098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/5702822167925584098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/06/brina-diwisuda.html' title='Brina diwisuda'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/SGA-JLBWjLI/AAAAAAAAANM/e6jzx-dxj1c/s72-c/DSC00942.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-6783068579801165732</id><published>2008-06-15T20:16:00.007+07:00</published><updated>2008-06-15T20:47:16.652+07:00</updated><title type='text'>Dagang Bukan untuk 'Hidup'</title><content type='html'>"Kalo ada kesempatan, mau gak jadi pedagang beneran, Va?"&lt;br /&gt;Uups, pertanyaan yang membuatku agak berfikir, apakah saat ini aku belum jadi pedagang 'beneran' ya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya bener juga sih, kalo dipikir-pikir, berapa keuntungan yang aku dapat sejak memutuskan berbisnis 7 tahun lalu belum pernah aku kalkulasikan secara sungguh-sungguh. Kebanyakan hasil bisnis itu akan kembali aku belikan barang dagangan supaya aktivitas dagangku 'muter' terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya emang begitu kan ? Mau tanya deh, berapa banyak uang tunai yang ada dalam rekeningku dari hasil keuntungan aktivitas berdagangku selama 7 tahun ini ? Wiiihhh bikin malu, karena angka itu tidaklah seberapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus pernah ndak aku menghitung berapa aset yang aku miliki sebagai seorang pedagang ? Menghitung berapa barang dagangan yang masih aku miliki saat ini ? Apakah modal terakhir yang aku keluarkan sudah kembali ? Atau apakah aku sudah menghitung laba aktivitas berdagangku selama sebulan ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat kaget ketika seorang teman pedagang ternyata tidak mempunyai sama sekali tabungan dari aktivitas berdagangnya. Terus kemana aja uang hasil dagangan kamu selama ini ?, tanyaku heran. Berbagai point pengeluaran dia sebutkan, mulai dari A sampai Z. Tapi benarkah semuanya habis sampai tidak ada lagi cadangan dalam tabungan nya ? Benarkah semuanya habis sehingga dia sama sekali tidak punya uang untuk menambah modalnya tanpa harus meminta dari suami ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus buat apa ya kita berdagang kayak gini, kalo sebagai perempuan kita tidak punya 'uang cadangan' sendiri ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah kelemahan pedagang perempuan yang berdagang bukan untuk hidup. Aku pun termasuk golongan ini. Kita sering menganggap remeh dengan yang namanya cash flow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar bagaimana pun salah satu alasan ku berdagang adalah untuk membantu ekonomi keluarga, agar aku bisa membantu suami tanpa harus meninggalkan rumah. Tapi kalo ternyata sumbangsih ku terhadap perekonomian keluarga tidak ada, buat apa aku teruskan lagi kegiatan ini ? Terus kalo ternyata untuk menambah modal berdagang saja aku harus 'menadah' lagi ke suami, buat apa aku melakukan semuanya lagi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus gimana dong ? Masih mau jadi pedagang 'tanpa hasil' atau mau berhenti saja ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak gitu juga.. Jawabannya ternyata lebih ribet daripada pertanyaannya. Ada yang tahu ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-6783068579801165732?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/6783068579801165732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=6783068579801165732&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6783068579801165732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6783068579801165732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/06/dagang-bukan-untuk-hidup.html' title='Dagang Bukan untuk &apos;Hidup&apos;'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-6972170564035235665</id><published>2008-06-13T06:17:00.004+07:00</published><updated>2008-06-13T06:34:41.419+07:00</updated><title type='text'>Bisnis; Gak Punya Perasaan</title><content type='html'>Satu lagi seorang teman bilang bahwa 'aku adalah orang yang tidak punya perasaan'. Benarkah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kalo mau 'dirasa-rasa' semua hal di dunia ini nyaris akan menjadi masalah buat kita. Bukan maksudku untuk memilah-milah ini-itu yang harus 'dirasa', tapi aku hanya gak mau capek dan terbebani oleh sesuatu yang tidak menjadi prioritasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deal itu hampir saja closing, tapi karena sesuatu hal deal bisnis ratusan juta itu terbang dari tanganku. "Gak masalah", begitu kataku kemarin. Dan seluruh temanku serempak menggelengkan kepala. "Kamu harus minta kompensasi, Va, Gak bisa seenaknya mereka melepas begitu saja apa yang sudah kamu kerjakan selama ini"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmmh buat apa ? Kompensasi ? Cuma bikin capek hati dan mungkin total of cost nya nanti akan lebih besar dari besar kompensasi yang aku terima. Bukan berarti juga aku tidak menghargai apa yang sudah aku kerjakan, bukan berarti juga aku tidak menghargai diriku sewajarnya, tapi dari awal sejak proses bisnis ini berjalan, aku sudah 'membatasi' hatiku untuk tidak terlalu berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu berarti aku tidak bersikap optimis ? Gak juga. Tapi segala hal di dunia ini bukanlah kita yang mengatur. Maksud hati memang sudah membayangkan uang puluhan juta yang akan aku raih, tapi kalo si Dia tidak berkehendak, aku mau apa ? Itulah kenapa aku berusaha memagari hatiku dalam segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita berharap sesuatu terlalu banyak. Tapi manusia sebenarnya punya porsinya masing-masing. Yang sudah pas ukurannya dan dibuat oleh sebuah kekuatan yang mengendalikan hidup kita. Kita tinggal menjalani, tinggal melangkah dan tinggalkan saja di belakang harapan yang terlalu muluk dan mengawang. Banyak orang kecewa ketika sadar bahwa bisnis ini ternyata tidak 'segampang' yang dia kira. Memang gak gampang, tapi kenapa kita tidak mencoba menjalaninya saja ? Tanpa mengharap hasil, tapi juga berjaga agar tidak merugi. Cukup itu sebagai langkah awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melibatkan terlalu banyak perasaan pada sesuatu, apalagi pada sebuah kata bernama 'bisnis', akan mengaburkan tujuan besar kita sebenarnya. Kalau memang tujuan kita adalah uang maka melibatkan perasaan adalah kesalahan yang terbesar. Karena kita akan langsung terbanting dan hancur ketika berhadapan dengan kata gagal. Buatlah sebuah tujuan yang lebih besar dari sekedar uang untuk memotivasi kita. Apapun itu, asalkan itu adalah hal yang baik maka bisa saja menjadi sebuah tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau yang lain bilang aku gak punya perasaan, mungkin karena dia hanya melihat dari sisi 'kehilangan uang' saja. Tapi sungguh, banyak yang kudapat dari proses follow up kemarin. Mungkin terlalu absurd dan muluk, tapi yang kudapat benar-benar tidak ternilai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-6972170564035235665?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/6972170564035235665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=6972170564035235665&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6972170564035235665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6972170564035235665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/06/bisnis-gak-punya-perasaan.html' title='Bisnis; Gak Punya Perasaan'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-8271610453642462004</id><published>2008-06-04T19:21:00.004+07:00</published><updated>2008-06-04T19:47:17.794+07:00</updated><title type='text'>Puzzle Terkutuk</title><content type='html'>Akhirnya potongan-potongan bangkai itu terangkai sudah. Akhirnya aku dapat melihat kebusukan yang sudah begitu lama tersimpan rapat. Jijik, lega, heran tak habis pikir dan lemas, adalah gambaran perasaanku saat itu. Teka-teki itu terjawab sudah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya semua ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan ku. Bisa saja aku bersikap masa bodo tak peduli dengan apa yang terjadi. Meludah sambil memalingkan muka sebenarnya adalah sikap yang sudah aku ambil sejak awal. Tapi kenapa aku terseret juga dalam masalah ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, aku sudah lelah mengumpulkan potongan-potongan puzzle ini satu persatu. Capek ! Seperti tiada habisnya syaraf ini dikejutkan dengan fakta-fakta yang ada. Saat aku mengira tidak bakalan ada lagi fakta yang terungkap, pada saat yang bersamaan muncul fakta baru yang sama sekali tidak pernah aku kira. Kenyataan baru yang lebih menjijikan, kenyataan yang membuat aku ingin muntah !.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat dulu waktu orang itu dengan seenaknya menuduhku memfitnah dirinya. Aku memang tidak punya bukti saat itu. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku lebih percaya kepada hatiku daripada dengan mulutnya. Ingat dulu bagaimana orang itu 'bersandiwara' sok suci di depan orang tuanya. Di depan orang tua yang juga aku hormati dan aku sayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebegitu sakitnya aku menghadapi tuduhannya sebagai pemfitnah. Tapi aku yakin waktu akan menyingkapkan segalanya. Aku hanya yakin bahwa walaupun begitu rapat dia menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. Aku cuma sabar dan menunggu 'saat' itu tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, sewaktu semuanya sudah tersingkap, sewaktu puzzle itu sudah utuh di depan orang banyak, bingung aku bagaimana aku harus menyikapinya. Di satu sisi aku mempunyai beban moral untuk 'mempertanggunjawabkan' pembuktian dari kecurigaan ku dulu kepada sepasang orang tua dengan muka yang menyimpan berat, juga kepada sebentuk wajah suamiku yang menyimpan lara, tapi di sisi lain ini bukanlah masalahku. Untuk apa aku memporakporandakan hatiku kepada sesuatu yang dulu sudah menyakitkan hatiku ? Toh ini bukan urusanku dan aku tidak pernah mau jadi bagian dari aib besar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah yang namanya pengorbanan dari cintaku. Dimana mencintai berarti juga menerima apapun yang berderet di belakang kekasih tercinta itu dengan ikhlas. Walau ingin kumuntahkan semua isi perutku karena jawaban teka-teki ini, walau hatiku sudah tersakiti karena dituduh sebagai pemfitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah kusimpan rapat-rapat rasa jijik ku untuk kumuntahkan pada waktunya nanti. Mungkin kali ini aku harus ikut serta dalam membenahi puzzle terkutuk ini. Mungkin kali ini aku harus mendampingi dia untuk mampu menutupi aib besar keluarga, Mungkin kali ini aku harus bersabar untuk kekasih hati ku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love you, buy....&lt;br /&gt;I love you now, yesterday, tomorow&lt;br /&gt;and forever..&lt;br /&gt;(Jeng akan selalu ada disampingmu menyelesaikan masalah ini)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-8271610453642462004?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/8271610453642462004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=8271610453642462004&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8271610453642462004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8271610453642462004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/06/puzzle-terkutuk.html' title='Puzzle Terkutuk'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-2800269466298627935</id><published>2008-05-31T05:38:00.005+07:00</published><updated>2008-05-31T05:57:09.855+07:00</updated><title type='text'>Mengambang</title><content type='html'>Berusaha keras untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya ternyata sulit. Begitu keras aku berusaha, begitu banyak juga pikiran-pikiran jelek datang mengganggu. Menurutku, selain ikhlas, maka berpasrah diri pada apapun yang terjadi adalah hal tersulit buat seorang manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memulainya dengan 100 persen berusaha sadar diri sesadar-sadarnya. Bahwa apapun yang terjadi pada diri ku, pada hidupku, pada keluargaku, pada anakku, bukanlah terjadi begitu saja. Tapi pasti ada sebuah tangan Maha Besar yang menggerakkan itu terjadi. Dan saat aku merasa sangat tidak berdaya sama sekali seperti ini, maka perasaan sadar bahwa ada energi 'lain' di sana lebih mudah kusadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku biarkan diriku 'mengambang', mengikuti arus yang sedang dipermainkan Nya. Aku terapkan pelajaran menjadi hamba saat ini. Benar-benar hina, tak ada tempat bergantung, tak ada tempat berpijak. Kecuali Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama limbung. Mungkin untuk berenang tidaklah terlalu susah. Tapi ketika aku memutuskan diriku untuk 'berbaring' saja mengikuti proses yang mengalir maka yang terjadi adalah perasaan gemas dan tidak sabar. Sampai kapan harus kujalani proses ini ya Alloh ?.. Apakah sebegitu sulitnya sebuah proses ? Mungkin aku kuat menjalani proses ini, tapi bagaimana dengan anak ku tercinta ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan manusiawi terus mendengung mengganggu konsentrasiku. Sampai akhirnya aku putuskan untuk menutup telinga rapat-rapat dan hanya fokus pada proses yang sedang terjadi. Aku buang pikiran jelek yang belum terjadi dan percaya seribu persen pada ketentuan Nya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat 'mengambang' adalah saat terindah. Tubuh akan bergoyang sesuai ombak, serasa menyatu dengan lautan. Ini bukanlah perasaan 'tidak mau tahu', tapi sebuah perasaan menyatu dengan kehidupan. Mengikuti apa maunya yang punya hidup terhadap diri. Mengikuti peran yang sudah tercatat dengan ringan. Benar-benar tiada beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Mengambang' adalah hal paling mengagumkan yang bisa manusia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(malam hari di RS saat Brina 40derajat C )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-2800269466298627935?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/2800269466298627935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=2800269466298627935&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2800269466298627935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2800269466298627935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/05/mengambang.html' title='Mengambang'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-8738449310960479540</id><published>2008-05-30T18:04:00.003+07:00</published><updated>2008-05-30T18:21:08.062+07:00</updated><title type='text'>Enggak Tau Dia !</title><content type='html'>Halahhh...&lt;br /&gt;Masih ada aja hari gini orang berfikir sebegitu naif orang di hadapanku saat ini. Bener-bener gak nyangka karena secara umur dan pendidikan dia jauh berada diatasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak pernah tau sih apa pujian yang ditujukan kepada ku itu tulus keluar dari hatinya atau sekedar lips service saja, tapi kalau selama ini dia menyangka 'pengorbananku' selama bertahun-tahun ini kulakukan untuk diriku semata maka itu salah besaaaarrr !...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dia tidak pernah merenung bahwa keberhasilan dan posisi yang dia dapatkan saat ini bukanlah sekedar hasil usahanya saja ? Begitu naifnyakah dia sehingga begitu mudah menepuk dadanya untuk keberhasilannya ? Tidak pernah kah dia melihat atau menengok ke kiri dan ke kanan, bahwa begitu banyak orang yang sudah berperan dan 'berkorban' untuk keberhasilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengorbanan yang tidak seberapa mungkin&lt;br /&gt;Mungkin itu hanya berarti anggukan penuh arti dari Rais, suamiku, disaat dia pulang kantor aku malah sedang 'asyik masyuk' melayani klienku berkonsultasi&lt;br /&gt;Mungkin itu hanya ciuman di pipi dari Shabrina yang tiba-tiba dia berikan di saat aku sedang mati gaya menghitung poinku&lt;br /&gt;Mungkin itu hanya kayuhan nafas bang Sabar dan Bang Edi, kurir setiaku, yang mengantar barang sampai ke pelosok Jakarta&lt;br /&gt;Mungkin itu hanya sapuan yang membersihkan rumahku dari mba Titin saat aku sedang dikejar deadline&lt;br /&gt;Mungkin itu hanya sekedar tangisan kecil mama di sana di sela-sela doanya untukku pada saat tahajudnya&lt;br /&gt;Mungkin itu hanya kerjapan mata mertuaku meng-amin-kan doa ku saat kami sedang sholat berjamaah&lt;br /&gt;Mungkin itu hanya doa kecil adikku untuk kakak nya yang super rewel agar selalu bahagia di hari ulang tahunnya kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang punya arti buat keberhasilan kita. Sekecil apapun yang dia lakukan, walau sepertinya peran itu tidak berharga buat kita, tapi ada potongan dari orang lain dalam setiap puzzle utuh keberhasilan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enggak tau dia atau memang gak mau tau; Bahkan dengan hanya karena seember air buat seekor anjing yang kehausan bisa memasukkan seorang pelacur ke dalam surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(aku tulis di Rumah Sakit saat menunggui Brina)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-8738449310960479540?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/8738449310960479540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=8738449310960479540&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8738449310960479540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8738449310960479540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/05/enggak-tau-dia.html' title='Enggak Tau Dia !'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-1718796101688966483</id><published>2008-05-30T17:26:00.002+07:00</published><updated>2008-05-30T17:48:45.348+07:00</updated><title type='text'>Terkapar Juga</title><content type='html'>Saat akhirnya badan ini terkapar karena kecapekan, ada berentet pertanyaan menyertainya.&lt;br /&gt;"Apakah ini berarti badanku sudah tidak bugar lagi, masa gara-gara 'sedikit' kesibukan saja musti terkapar berhari-hari seperti ini ?"&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;"Apakah kesalahan yang sudah aku lakukan sehingga harus kutebus dengan sakitku kali ini ?"&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;"Apakah masih ada harta yang belum aku keluarkan sedekahnya sehingga Sang Pemilik meminta haknya kepada ku ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit memang sebuah proses medis. Sebuah proses biologis, sebuah proses pertahanan diri yang sudah dianugerahkan kepada manusia oleh Nya untuk menunjukkan bahwa ada benda asing yang beracun masuk ke dalam tubuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dari aspek lain, saat kita terbaring sakit, lemah, gemetar dan kedinginan, maka saat itulah saat yang paling tepat untuk kembali kepada fitrah kita sebagai manusia. Yaitu berfikir. Saat sakit, adalah seperti saat berpuasa, dimana tubuh kita sedang berusaha melawan dan mengeluarkan racun-racun yang ada dalam tubuh kita. Saat sakit adalah saat pertempuran kita, bagaimana kita bisa bersikap sabar akan deraan rasa yang tak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit kemarin adalah teguran buatku. Betapa sudah begitu lama aku tidak pernah lagi memikirkan siapa diri ini. Begitu banyak kesibukan, kegiatan yang aku lakukan buat orang lain. Mungkin memberi itu memang indah, tapi hidup ini pun adalah keseimbangan. Ada saat kita memberi kepada orang lain ada juga saat aku seharusnya bisa menerima sesuatu dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terpikirkan berapa lama aku tidak pernah 'mendapatkan' sesuatu dari orang lain. Tak bisa kuingat lagi berapa lama aku tidak pernah minta didoakan oleh orang lain, tak bisa kuingat lagi kapan terakhir kali aku begitu senang dengan pujian orang yang terlontar buatku.&lt;br /&gt;Selama ini sepertinya aku begitu menutup diriku rapat-rapat dengan tameng bernama ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb, sungguh aku tidak akan mau mengerjakan sesuatu kalau bukan karena Mu&lt;br /&gt;Cukup hanya cinta Mu itu buat ku&lt;br /&gt;Tapi ternyata aku tidak sekuat itu, wahai yang Maha Gagah&lt;br /&gt;Jiwa ini masih membutuhkan orang lain&lt;br /&gt;Perasaan ini ternyata masih membutuhkan pengakuan dari sesama manusia yang hina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakitku kemarin adalah saat aku menata puing-puing hati dan potongan imanku lagi. Ditengah sakit dan rasa yang tak tertahankan aku merasa diingatkan bahwa betapa Dia begitu mencintaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakitku kemarin adalah saat dimana aku menetapkan tujuanku. Bukan, bukan 'plan A plan B berbau duniawi', toh aku tidak pernah tahu sampai kapan umurku akan bertahan, tapi tujuan yang lebih besar dari hidupku. Buat sebuah kehidupan kekal abadi yang akan kujalani kelak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-1718796101688966483?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/1718796101688966483/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=1718796101688966483&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1718796101688966483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1718796101688966483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/05/terkapar-juga.html' title='Terkapar Juga'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-1039649957949699585</id><published>2008-04-24T15:41:00.006+07:00</published><updated>2008-04-25T17:45:32.056+07:00</updated><title type='text'>Mangap juga ada Artinya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Aku pernah dihina, dilecehkan bahkan diremehkan oleh seseorang. Mungkin orang yang menghina ku tadi tidak sadar bahwa kata-katanya bukan hanya sekedar menyakiti hatiku tapi juga membunuh jiwaku. Baru kusadari begitu tajamnya arti sebuah tindakan kita terhadap orang lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagi kita kata-kata yang keluar dari mulut kita hanya berakibat sementara pada orang lain, padahal bagi beberapa orang sederetan kata-kata dapat melubangi hatinya, persis seperti paku yang melubangi dinding. Tidak bisa ditambal lagi, bekasnya tetap ada di sana bertahun-tahun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Tidak bisa, 1 jam atau 3 jam tarifnya tetap 3 juta rupiah", kata seorang asisten psikolog terkenal padaku , sebuah pen-tidak-an yang sangat menyakitkan hatiku. Langsung kurasakan otomatis pandanganku terhadap sang psikolog berubah menjadi kata-kata yang berlabel "uang". Sakit hatiku bukan karena aku kecewa kepada si psikolog, tapi hati ini sakit karena ternyata begitu "tinggi" selama ini aku memandang seseorang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Benarkah tidak ada kata-kata yang sopan untuk menyatakan sesuatu ? Apa ya untungnya menyakiti hati orang lain ? Puas melihat orang lain menangis ? Puas melihat orang lain tertekan ? Atau cuma sekedar pelampiasan dari sebuah masalah dalam hati yang belum juga selesai sejak dulu ?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku selalu beranggapan orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya adalah orang yang bermasalah dengan dirinya sendiri. Tapi begitu mudahnya seseorang bisa seenaknya melemparkan masalahnya itu menjadi "masalah" buat orang lain. Orang lain jadi susah hati menangkis serangan kata-kata pedas darinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidakkah seseorang sadar, bahwa apa yang dia ucapkan adalah cerminan buat dirinya ? Ini bukan sekedar masalah bisnis atau masalah uang, tapi kalimat yang meluncur keluar dari mulut kita akan mempengaruhi bagaimana orang lain berinteraksi terhadap kita.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jangan sangka bahwa yang namanya kata-kata pedas itu hanyalah berupa kata "Bangsat kamu", "Kurang ajar loe" atau "Bagero" saja. Bahkan sebuah kata "Pokoknya", "Harus", "Saya yang berkuasa", bisa lebih tajam dari pisau.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berhati-hatilah di kala kita sedang mengkomunikasikan maksud dan tujuan dari kalimat kita. Bahwa yang namanya komunikasi adalah di kala tercapai pemahaman diantara sang pemberi dengan sang penerima komunikasi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau yang terjadi bukannya pemahaman tapi malah kemarahan, "Itu mah namanya ente asal mangap doang !"..&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-1039649957949699585?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/1039649957949699585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=1039649957949699585&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1039649957949699585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1039649957949699585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/04/mangap-juga-ada-artinya.html' title='Mangap juga ada Artinya'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-7333388841467553979</id><published>2008-04-23T19:22:00.004+07:00</published><updated>2008-04-23T19:49:19.169+07:00</updated><title type='text'>Pasfoto Terbaru Bubuy :)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/SA8tOaT6JGI/AAAAAAAAAMM/ifPGYX4KEfM/s1600-h/DSCF1452.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192418620985713762" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/SA8tOaT6JGI/AAAAAAAAAMM/ifPGYX4KEfM/s200/DSCF1452.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Buuuyyy...&lt;br /&gt;I love you yesterday, now, tomorrow&lt;br /&gt;and forever...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(guantengg kan bojoku hik hik..jadi pengen...hmmmh)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-7333388841467553979?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/7333388841467553979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=7333388841467553979&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7333388841467553979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7333388841467553979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/04/pasfoto-terbaru-bubuy.html' title='Pasfoto Terbaru Bubuy :)'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/SA8tOaT6JGI/AAAAAAAAAMM/ifPGYX4KEfM/s72-c/DSCF1452.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-8969667585258322615</id><published>2008-04-18T08:13:00.004+07:00</published><updated>2008-04-18T08:27:47.929+07:00</updated><title type='text'>Pembuktian Diri</title><content type='html'>Bingung juga menghadapi seseorang yang merasa perlu membuktikan sesuatu kepada orang lain, kepada dunia. Dia beranggapan orang lain memandang dirinya berdasarkan sesuatu yang menempel pada tubuhnya, pada hidupnya. Mudah sekali orang model begini tersinggung ketika berhadapan dengan orang lain yang dia anggap sudah menyenggol harga dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang seperti ini biasanya mengatakan bahwa dia punya harga diri yang tinggi, tidak bisa orang lain sembarangan memperlakukan dirinya. Dia menetapkan standar diri yang tinggi untuk dirinya pada saat dia berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah... Karena tidak semua orang bisa menakar berapa "harga" orang lain itu. Toh kita sama-sama manusia, tapi kenapa sesama kita harus menetapkan harga atas yang lain apalagi hanya sekedar memberi label dengan yang namanya materi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menetapkan harga untuk dirinya, orang yang selalu ingin membuktikan dirinya kepada orang lain, adalah orang yang tidak pernah melihat keatas dan menunduk ke bawah. Yang dia lakukan hanyalah memandang ke depan tanpa peduli apakah langit diatasnya mendung atau apakah ada lubang di depan kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hati manusia begitu lembut seperti kapas, begitu mudah tersentuh dengan orang lain, begitu mudah simpati kepada penderitaan orang lain, maka yang namanya harga diri, pembuktian kepada orang lain bukan lagi menjadi hal yang penting. Karena orang-orang yang merendah seperti ini tidak memerlukan lagi dihormati dan disegani oleh orang lain cuma gara-gara sesuatu yang menempel di badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang rendah hati tidak peduli apakah orang lain tahu siapa dirinya, seberapa kaya dirinya, seberapa hebat dirinya. Mereka tidak peduli dengan pandangan mata dari orang lain. Orang yang rendah hati adalah orang yang mulia karena memang mereka sudah mulia, karena mereka mulia dimata Alloh SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo aku ditanya bagaimana cara aku membuktikan diriku, jawabku adalah; aku tidak perlu membuktikan apapun karena aku sudah punya segalanya dari DIA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-8969667585258322615?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/8969667585258322615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=8969667585258322615&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8969667585258322615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8969667585258322615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/04/pembuktian-diri.html' title='Pembuktian Diri'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-1481311421934494196</id><published>2008-04-15T08:57:00.006+07:00</published><updated>2008-04-15T09:38:15.945+07:00</updated><title type='text'>Shock, Kaget dan Sedih</title><content type='html'>Kemaren sore dapat musibah dari Alloh SWT. Mobilku yang sedang manis terparkir di depan tempat kursus Kumon Brina ditabrak dari belakang oleh sebuah motor. Pengendara motor tadi seorang mba (pembantu) yang belum fasih mengendarai motor. Gawatnya lagi dia tidak punya SIM juga KTP dan yang lebih bikin pusing STNK motor tadi sudah tidak berlaku sejak tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satpam ruko tempat kursus menyarankan kepada ku untuk melaporkan hal ini ke kantor polisi. Tapi aku kesian banget liat muka si mbak yang ketakutan. Akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikan hal ini secara kekeluargaan saja. Aku berinisiatif untuk membawa si mbak dan motornya ke rumahku dan kemudian menyuruh si mbak untuk kembali datang ke rumahku nanti malam bersama majikannya untuk mengambil motor dan mempertanggungjawabkan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak disangka, sehabis maghrib, datang 2 orang ke rumahku mengaku sebagai suruhan si pemilik motor (majikan si mbak). Satu orang mengaku bernama kapten Irfan bekerja di Lantamal 3 dan satu orang lagi tidak memberitahukan namanya tapi hanya mengaku sebagai kasatserse polisi. Kedua orang ini langsung marah-marah dan menuduh aku sudah mencuri motor milik bossnya yang ternyata juga adalah anggota TNI AL berpangkat mayor (Mayor Joni, beralamat di Komplek TWP TNI AL, blok CC2 no.1, Ciangsana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mengagetkan kedua orang ini berteriak-teriak di depan rumahku dan menekan aku secara verbal. Kedua orang ini berteriak-teriak mengenai "harga diri yang terinjak-injak", "orang kaya dan orang miskin", "biar kami tidak tinggal di komplek tapi kami juga warga negara Indonesia", dan macam-macam perkataan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus tabrakan yang terjadi. Bahkan mereka juga mengancam akan membawa aku ke kantor polisi karena sudah menghina ABRI dan mencuri motornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu yang aku lakukan hanyalah diam. Aku langsung masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi. Ya Alloh, aku harus gimana ? Kalo aku balas perkataan mereka, apakah ada gunanya ?, toh aku tidak punya masalah dengan kedua orang itu, aku bermasalah dengan si mbak dan majikannya, apakah berguna bila aku balas perbuatan 2 orang di luar itu? Padahal mereka hanyalah orang-orang suruhan, sebenarnya aku kasihan pada mereka....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama datang kepala satpam clusterku bersama pak Fauzi, seorang pengurus RW, mereka menanyakan kepadaku duduk persoalan yang terjadi. Aku ceritakan secara singkat, Tapi aku tetap berkeras tidak mau menemui lagi 2 orang yang berteriak-teriak di luar. Entah negosiasi apa yang kepala satpam dan pak Fauzi lakukan, akhirnya mereka memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini di rumah ketua cluster kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah ketua cluster (yang kebetulan adalah seorang pamen AL) kedua orang ini ditanyai apa maksudnya membuat keributan di depan rumahku. Baru saat itulah aku melihat betapa yang namanya jabatan, kekuasaan, pangkat bisa mengalahkan segalanya. Kedua orang yang tadi garang dan kasar, langsung mengkeret ketika berhadapan dengan ketua clusterku yang seorang panglima menengah. Baru sekali itu aku merasa bahwa ada gunanya juga ternyata yang namanya bintang di bahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, apa begini ya Indonesia-ku? Kenapa semuanya harus diselesaikan dengan embel-embel ? Tabrakan selesai gara-gara bintang, masuk perusahaan besar karena jadi titipan mantu menteri, mau cepat sampai sehingga berani menerobos jalur busway karena lambang MPR di plat mobilnya, dsb, dsb...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih aja, apakah permasalahan tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik, dengan duduk bareng, sejajar tanpa peduli, apakah saya hanya masyarakat sipil, apakah saya militer, apakah saya miskin, apakah saya kaya, apakah saya tinggal di real estate, apakah saya cuma tinggal di komplek ABRI yang merupakan bantuan inpres ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shock, kaget dan sedih. Sekarang aku gak peduli lagi dengan mobil yang penyok di belakang, aku cuma merasa diri ini tiba-tiba menjadi hampa melihat kenyataan yang terjadi. Apakah tidak bisa manusia saling menghargai ? Apakah sebegitu susahnya untuk duduk bersama memecahkan persoalan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enggak ngerti ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Aku berharap ada hikmah untuk semua ini. Kasih tau ke teman-teman kita, supaya kejadian ini gak terulang lagi. Jangan sampe karena gak tegaan dan kesian, kita malah diteriakin maling )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-1481311421934494196?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/1481311421934494196/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=1481311421934494196&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1481311421934494196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1481311421934494196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/04/shock-kaget-dan-sedih.html' title='Shock, Kaget dan Sedih'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-2317142046244082423</id><published>2008-04-09T06:27:00.005+07:00</published><updated>2008-04-09T06:42:41.833+07:00</updated><title type='text'>Decor Cake</title><content type='html'>Tanggal 6 April kemaren ikutan decor cake yang diadakan oleh Orange Kitchen. Secara daku gak pernah pegang sama sekali yang namanya spuit dan piping bag, membuat diri ini rada terbengong-bengong ketika kursus dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi melihat kelincahan teman2 lain yang sudah pernah melakukan hal ini.. Hmmmmh gimana pun karya ku ya hasil kreativitas ku sendiri..Harus itu !. Ternyata mendecor cake itu butuh keluwesan tersendiri, bagaimana memegang piping bag agar stabil, bagaimana sudut kemiringan piping bag agar menghasilkan bentuk yang bagus, bagaimana harus sedikit menahan nafas ketika spuit mulai disemprotkan..dsb, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat-alat mendecor yang begitu beragam, mau tidak mau mengingatkan aku saat kuliah dulu. Alat-alat kedokteran gigi yang begitu mengagumkan dengan bentuk yang unik dan memiliki fungsi masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, tadi malam, iseng pengen praktekin hasil kursus ini. Dengan resep ganache yang aku dapat dari temen kursus kemaren, dan sisa-sisa butter cream yang aku kumpulkan, aku beli patung-patung Princess di toko bahan kue dekat rumah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R_wBfcwEgpI/AAAAAAAAALE/lXcbfOqhvaw/s1600-h/cake2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R_wBfcwEgpI/AAAAAAAAALE/lXcbfOqhvaw/s320/cake2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187022510629356178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalaman kue hasil praktek ini berada di kamar Brina. Seneng juga ternyata membuat anak bangga dengan hasil karya bundanya. Seneng aja melihat muka suamiku yang heran melihat dekorasinya, "Kok bisa ada sungainya begitu ya jeng?"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menemukan keasyikan tersendiri dalam mendekor kue ini. Yah walau belum begitu rapi, tapi aku merasa menemukan kesenangan menggambar ku yang dulu. Terimakasih buat para guru kursus ku (mba Ina, teh Uceu, mba Wiek). Kalian membuatku menemukan "sesuatu" yang lama terpendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;NB:Pas kursus ada surprise buat aku. Terus terang aku bukan orang yang senang dapat surprise seperti itu. Tapi entah kenapa kemaren hati ini berbunga :)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-2317142046244082423?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/2317142046244082423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=2317142046244082423&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2317142046244082423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2317142046244082423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/04/decor-cake.html' title='Decor Cake'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R_wBfcwEgpI/AAAAAAAAALE/lXcbfOqhvaw/s72-c/cake2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-2098677652490937257</id><published>2008-04-04T06:48:00.003+07:00</published><updated>2008-04-04T07:01:10.000+07:00</updated><title type='text'>Pembaca Baru</title><content type='html'>Ada seorang pembaca baru blog ini yang menurut dia "bisa tahu kabar eva dari blognya"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengen ketawa sih tapi pengen juga meringis, sudah begitukah enggan nya kita untuk sekedar menelepon orang lain untuk menanyakan kabarnya ? Apakah bertukar kabar itu bisa digantikan oleh sebuah blog ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku membuat blog ini bukanlah untuk menggambarkan bagaimana kehidupanku sehari-hari. Blog ini murni seratus persen hanya sekedar untuk menampung luapan-luapan ide yang terkadang hendak tumpah keluar. Aku bukan tipe orang yang bisa memajang "barang baru" yang aku miliki di blog ini. Memajang rumahku, memajang mobilku, memajang keluargaku, memajang gelar yang aku dapatkan. Hmmh apakah sudah sebegitu pantasnya aku memberitahu orang lain tentang "materi tak seberapa" yang aku miliki ? Apakah cerita-cerita sepele tentang sepatuku tentang cat rumahku, misalnya, bisa memberikan hikmah buat orang lain ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada beberapa foto, suami dan anakku berada disini, bukan karena aku ingin pamer tapi karena saat itu mungkin kerinduan dan perasaan ku kepada mereka sedang tak tertahankan. Dan hanya bisa aku lampiaskan lewat beberapa bait tulisan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog ini adalah cermin dari bagaimana aku ingin sekali orang lain mengenal eva dari sisi lain. Mungkin itulah yang aku ingin "pamerkan" disini. Mungkin itulah yang aku ingin bagikan kepada para pembacaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saudara, teman dan kerabat yang ingin tahu kabarku. Insya Alloh tinggal angkat telepon (dengan nomor HP yang tahunan tidak pernah aku ganti), dan mari kita ngobrol panjang lebar !...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-2098677652490937257?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/2098677652490937257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=2098677652490937257&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2098677652490937257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2098677652490937257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/04/pembaca-baru.html' title='Pembaca Baru'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-849409702047587602</id><published>2008-04-04T06:11:00.006+07:00</published><updated>2008-04-04T06:44:23.795+07:00</updated><title type='text'>Sepi dan Sakit</title><content type='html'>Kalau ada yang tanya apa yang paling aku takuti di dunia ini, maka "kesepian dan kesakitan" adalah jawabannya. Bukan "ditinggalkan", bukan "miskin", apalagi sekedar "merugi" yang merupakan ketakutan terbesarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadari aku termasuk orang yang sangat "tergantung" kepada orang lain. Aku adalah orang yang paling senang "menjalin" sesuatu dengan orang lain. Buatku sebuah hubungan adalah sesuatu yang bisa membuatku bertahan hidup. Mungkin efek "ditinggalkan" tidaklah sebesar efek "tidak punya teman" buatku. Efek "dibuang atau dicampakkan" tidaklah memberi pengaruh terlalu besar buatku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun aku sadar bahwa segalanya ini adalah milik Alloh SWT, semuanya adalah titipan, semuanya semu. Dan ketika ada sesuatu milik Nya meninggalkanku maka itu adalah sepenuhnya hak DIA. Kata seorang guru, "kalau bukan dunia yang akan meninggalkan kita, maka kita-lah yang akan meninggalkan dunia. Tergantung mana yang diambil duluan oleh Nya". Aku sadar sesadarnya tentang hal ini, maka aku tidak pernah mengikatkan diriku pada sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika aku merasa tidak berdaya untuk menjalin hubungan dengan seseorang maka aku akan jadi terpuruk. Menurutku setiap orang di sekeliling ku pasti akan mempunyai hubungan dengan ku. Apakah itu hubungan "baik atau buruk". Setidaknya hubungan itu jelas, sehingga aku tidak perlu menduga dan mengira-ngira bagaimana harus bersikap kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar bagaimanapun buruknya hubungan atau bagaimanapun baiknya hubungan, setidaknya itu memberi arti buat hidup ku. Ini menjadikan hidupku menjadi tidak sepi, hidupku menjadi penuh hikmah dan pelajaran yang bisa aku ambil dari orang-orang di sekitarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kesakitan ? Aku paling takut menjadi sakit karena diriku sendiri, bukan karena kesakitan yang disebabkan oleh orang lain. Kesalahan yang berulang dua tiga kali adalah kesakitan terbesarku. Sedapat mungkin aku tidak mau mengulangi kesalahanku. Apalagi kalau itu menyangkut perasaan atau hidup orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku paling takut dengan sepi dan sakit, maka aku berusaha sekuat mungkin tidak menjadikan orang lain merasa sepi atau sakit karena ku. Aku tidak akan segan-segan menyambut sebuah uluran tangan persahabatan ataupun permusuhan yang orang tawarkan kepada ku. Aku pun berusaha sekuat mungkin untuk berbuat hati-hati agar orang lain tidak menjadikan dirinya sakit karena ku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-849409702047587602?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/849409702047587602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=849409702047587602&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/849409702047587602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/849409702047587602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/04/sepi-dan-sakit.html' title='Sepi dan Sakit'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-2106197883081873993</id><published>2008-03-26T20:12:00.006+07:00</published><updated>2008-03-26T20:26:04.315+07:00</updated><title type='text'>Rese deh Kamu</title><content type='html'>Rese deh kamu !&lt;br /&gt;merasa paling tahu tentang apa yang aku inginkan&lt;br /&gt;sudah seberapa dalam kamu mengenal aku ?&lt;br /&gt;apakah kamu pikir hubungan selama tahunan itu&lt;br /&gt;sudah membuat kita berdua saling mengenal ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkanlah aku sendiri menentukan apa yang paling baik buat diri&lt;br /&gt;baik atau jelek hasilnya, itu resiko ku seratus persen&lt;br /&gt;lagipula siapa orang yang berani bilang &lt;br /&gt;kalo keputusan hidup yang sudah aku ambil itu&lt;br /&gt;gagal atau berhasil ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih ukuran keberhasilan buat kamu ?&lt;br /&gt;hmmh apakah dengan menjadi seorang "seperti kamu"&lt;br /&gt;maka itu adalah satu-satunya ukuran keberhasilan di dunia ini ?&lt;br /&gt;aku adalah aku dan aku tidak mau jadi seperti kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu bilang hidupku pun tidak lebih baik dibanding hidup kamu ?&lt;br /&gt;ahhh itu perasaan mu saja&lt;br /&gt;aku merasa dicintai, aku merasa dibutuhkan&lt;br /&gt;itu sudah cukup buatku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kamu bilang aku sudah gagal&lt;br /&gt;maka aku balik tanya apakah hidupmu sudah berhasil ?&lt;br /&gt;apa yang sudah kamu "catatkan" dalam hidup mu ?&lt;br /&gt;dalam puluhan tahun hidupmu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja aku cukup mengenalmu untuk memaklumimu &lt;br /&gt;kalau saja tidak,&lt;br /&gt;bisa saja kutendang kamu jauh-jauh dari hidupku&lt;br /&gt;"Pergi sana, orang rese !..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang&lt;br /&gt;tidak ada tempat buat orang seperti kamu&lt;br /&gt;aku cuma butuh orang yang bisa menilai ku&lt;br /&gt;dengan fair&lt;br /&gt;bukan dengan kaca mata cengdem milik nya sendiri&lt;br /&gt;yang belum tentu jernih...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-2106197883081873993?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/2106197883081873993/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=2106197883081873993&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2106197883081873993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2106197883081873993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/03/rese-deh-kamu.html' title='Rese deh Kamu'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-7803875441346219395</id><published>2008-03-26T19:48:00.006+07:00</published><updated>2008-03-26T20:11:18.258+07:00</updated><title type='text'>Ada</title><content type='html'>Apa yang menyebabkan seseorang itu "ada" ? Apakah karena kemewahan pakaian yang dia kenakan ? Atau karena dompet yang tebal di kantungnya ? Atau karena dia punya jabatan yang mempunyai berderet anak buah ? Atau karena gelarnya yang mentereng dan bikin orang merinding disco saking panjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia disebut "ada" ketika seseorang membutuhkan dia. Walaupun orang itu mungkin hanya seorang anak kecil berambut keriting, atau walaupun orang yang membutuhkan itu hanyalah seorang laki-laki yang berjanji akan menerima seorang perempuan apa adanya dalam segala kondisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah ketika ada orang yang membutuhkan kita, kita akan sebegitu "muncul" nya di dunia ini ? Benarkah ketika ada orang yang membutuhkan kita, maka orang lain tidak perlu tahu apa saja yang sudah kita "sumbangkan" buat dunia ini. Cukup hanya orang-orang yang membutuhkan kita saja yang tahu apa aja yang sudah kita berikan dengan keringat, air mata dan darah kita. Cukup mereka saja ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin semua orang "ada" di dunia ini. Tapi manusia sendiri lah yang seringkali membuat dirinya "tidak ada". Manusia seringkali mengacuhkan orang-orang yang sebenarnya sangat membutuhkan dia. Manusia seringkali acuh tak acuh dengan orang-orang yang sangat memerlukan dia. Manusia lah makhluk yang diciptakan paling lalai di dunia ini. Manusia lah makhluk yang selalu dan selalu tidak sadar dengan "keberadaannya" sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin "keberadaan" itu, eksistensi itu, tidak perlu kita cari jauh-jauh. Tidak perlu kita melihat keluar rumah kita untuk mencari eksistensi kita, aku yakin eksistensi seorang manusia yang sebenarnya ada pada orang-orang yang dia cintai yang berada di sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang istri yang mengeluh kepadaku kalo suaminya tidak pernah lagi memperhatikan dirinya, tidak pernah lagi memperhatikan keberadaannya. Suaminya sudah tidak peduli lagi dengan dia. Ada atau tidak nya sang istri tidak dipedulikan oleh sang suami yang dibungkus dengan kalimat "percaya". Bukankah keberadaan itu bukan berasal dari orang lain ? Tapi karena memang kita-lah yang membuat kita menjadi "ada" ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bila seorang manusia merasa "hilang" ?. Mungkin akan ada lubang dalam diri kita laksana puzzle besar yang potongannya entah harus dicari di mana. Limbung, kosong, hampa, adalah perasaan yang tepat saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksistensi tidak perlu kita cari jauh-jauh, cukup saja kita bertanya pada diri sendiri "Apakah aku sudah cukup berarti buat orang lain ?". Bila jawabannya "Tidak" atau "Belum" maka tanyakanlah sekali lagi " Apa yang paling dibutuhkan oleh orang lain yang bisa aku berikan untuk mereka ? Kasih sayang ? Perhatian ? Cinta ? Materi ? Ketulusan ? Lapang dadanya kita ? atau Waktu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kita yang bisa menjawab...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*cintakuteramatdalambuatorang-orangyangsudahmenjadikanaku"ada"*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-7803875441346219395?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/7803875441346219395/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=7803875441346219395&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7803875441346219395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7803875441346219395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/03/ada.html' title='Ada'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-7927410131934272154</id><published>2008-03-18T15:51:00.004+07:00</published><updated>2008-03-20T06:11:08.167+07:00</updated><title type='text'>Penakut</title><content type='html'>Aku sama sekali gak pernah marah kalo dibilang sebagai penakut. Sama sekali gak pernah marah juga kalo dibilang "kurang berani ambil resiko". Gak pernah tersinggung juga kalo ada yang nyebut aku "maunya main aman".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu aku emang penakut. Takut naik sepeda sendirian di jalan raya, takut kalo harus bolos bareng temen-temen di SMP dulu, takut telat karena musti dihukum lari keliling lapangan, takut nyontek karena takut dosa, dan sampe sekarang pun seringkali takut untuk mencoba hal-hal baru yang orang lain bilang namanya "tantangan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bilang hidup itu biar dinamis harus terus mencari tantangan. Orang bilang juga resiko akan membuat hidup kita lebih berwarna. Orang bilang juga dengan menantang resiko kita akan tahu seberapa besarnya potensi kita. Orang bilang juga kalo hidup tidak ada tantangan berarti bukan hidup lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bah, aku sama sekali gak peduli dengan omongan orang. Bagiku yang namanya tantangan hidup bukan lah sesuatu yang harus aku cari-cari. Hidupku saat ini sudah cukup repot "diganduli" dengan berbagai tanggung jawab dan kewajiban yang harus aku lakukan dalam peran sebagai manusia, perempuan, anak, tetangga, saudara, anggota masyarakat, istri dan bunda. Tantangan jenis apa lagi yang harus aku cari sekarang ? Semua kewajiban dan tanggung jawab ku sekarang saja sudah menguras habis energi ku sampai titik terakhir. Aku sama sekali tidak punya energi untuk mencoba tantangan baru yang kata orang akan membuat kita lebih "hidup" lagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga tidak mengerti kenapa aku harus mencari tantangan. Selama ini kesulitan apapun yang berkaitan dengan semua peranku tadi selalu aku hadapi dengan gagah berani. Aku tidak pernah lari di depan semua gunung yang aku daki ketika aku menjalani semua peranku. Tapi untuk mencari tantangan baru ? Sepertinya bukan "aku banget".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa mungkin orang yang senang mencari tantangan baru itu adalah orang yang sudah merasa cukup bagus dalam menjalani perannya di pentas sandiwara hidup ini ?. Apakah mungkin dia sudah merasa sudah bagus menjadi seorang ibu sehingga dia merasa bisa menjalani "keinginan pribadinya akan materi" dengan meninggalkan anak-anaknya dengan pembantu di rumah ? Apakah mungkin dia sudah merasa bagus sebagai seorang suami, sehingga dia merasa bisa meninggalkan keluarganya untuk menjalani "keinginan pribadinya akan karir" selama hampir 24 jam di luar rumah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmh adakah orang lain yang bisa menggantikan peran kita dalam kehidupan ini ?. Benarkah sebuah peran dalam panggung sandiwara hidup ini bisa digantikan oleh orang lain ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin naif pikiranku. Mungkin aku bukan seorang yang suka tantangan. Apalagi kalo tantangan itu harus dicari-cari dan harus meninggalkan kewajibanku yang utama. Mungkin aku adalah seorang yang perfeksionis, yang ingin semua sempurna di mata ku dan yang ingin memberikan yang terbaik buat orang-orang di sekitarku. Aku cuma "jalan di  tempat" karena ke-perfeksionisan-ku ? Aku tidak peduli, setidaknya amanah yang ada dalam genggaman-lah yang aku jalankan dengan sebaik-baiknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-7927410131934272154?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/7927410131934272154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=7927410131934272154&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7927410131934272154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7927410131934272154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/03/penakut.html' title='Penakut'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-4380061861513034591</id><published>2008-03-15T14:39:00.003+07:00</published><updated>2008-03-15T15:02:42.490+07:00</updated><title type='text'>Sukses atau Tidak nya Kita</title><content type='html'>Ukuran tiap orang tentang kesuksesan pasti berbeda. Pernah sekali membaca sebuah tulisan seorang pengamat gaya hidup tentang sukses. Bahwa seringkali ukuran sukses seseorang itu ditentukan oleh pandangan orang lain. Menurut beliau juga, ukuran sukses seseorang masa kini pun cenderung lebih seragam, punya rumah besar, mobil mewah dan keluarga yang bahagia, adalah cap sukses masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri total 180 derajat berubah menilai sebuah kesuksesan ketika beberapa bulan yang lalu melihat papa meninggal. Sejak saat itu luruh semua ukuran kesuksesan duniawi versi eva. Dan saat melihat seorang tetangga meninggal 7 hari yang lalu juga membuatku sedikit "membandingkan" antara kematian papa dan kematian sang tetangga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar apa yang dikatakan oleh orang bijak, bahwa pertanyaan terpenting dalam hidup ini yaitu "Apa yang bisa saya tinggalkan buat orang lain ?". Inilah jejak yang akan membekas di hati orang lain tentang diri kita. Inilah jejak yang paling penting buat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih aja cuma melihat segelintir orang yang datang menyertai penguburan sang tetangga. Padahal jumlah rumah di cluster ini ada sekitar 300 rumah. Sedangkan di lain pihak, melihat betapa panjangnya iringan saudara, tetangga, dan kerabat yang mengantar saat papa meninggal. Sedih aja melihat betapa sedikitnya orang bertakziyah ke rumah sang tetangga, sedih aja berfikir "Apakah aku akan bisa membuat orang begitu mengenangku saat itu tiba ?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti bahwa papa lebih sukses dibandingkan sang tetangga ini, papa juga punya banyak kelemahan sebagai manusia. Tapi bagaimana orang-orang ternyata begitu bisa kehilangan ketika kita tidak ada di samping mereka. Hal ini yang aku garisbawahi kemarin. Banyaknya shaf orang-orang yang menshalatkan kita, keramaian orang-orang yang mendoakan kita, kesedihan orang-orang saat kita tinggalkan, ternyata "jejak" ini adalah yang paling jelas terlihat saat kita meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, orang sukses itu ternyata bisa dinilai ketika dia sudah tiada. Seberapa banyak warisan yang sudah dia tinggalkan buat orang lain. Seberapa banyak harta, ilmu yang sudah dia bagikan buat orang lain. Seberapa banyak orang yang mau dengan tulus datang mendoakan dia dan menghibur keluarga yang ditinggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses yang sebenarnya adalah ketika dosa dan siksa kubur kita bisa diringankan oleh "jejak" yang sudah kita tinggalkan di dunia. Hanya doa anak sholeh, amal sholeh yang masih berguna buat orang lain dan ilmu yang bermanfaat buat orang lain, yang bisa menyelamatkan kita dari pedihnya azab di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat seseorang berorientasi kepada kesuksesan. Seharusnya dia tidak sukses sendirian. seharusnya banyak orang yang terlibat mengantarkan kesuksesannya, seharusnya banyak orang yang ikut sukses juga bersamanya, seharusnya kesuksesan nya itu juga dibagi untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika "kesuksesan berorientasi akhirat" ini yang menjadi tujuan hidup kita, tidak mungkin ada lagi orang yang memburu kesuksesan sampai ujung dunia tanpa prioritas tanpa mengingat orang-orang di sekitarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-4380061861513034591?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/4380061861513034591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=4380061861513034591&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4380061861513034591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4380061861513034591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/03/sukses-atau-tidak-nya-kita.html' title='Sukses atau Tidak nya Kita'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-7237970082609968126</id><published>2008-03-12T06:09:00.004+07:00</published><updated>2008-03-12T06:38:07.666+07:00</updated><title type='text'>Halimun</title><content type='html'>Membuka pintu jam 5 pagi ini membuatku sedikit terkejut. Kabut yang biasanya datang setelah hujan di malam harinya biasanya tidak setebal ini. Pagi ini kabut itu begitu pekatnya, jarak pandang hanya sekitar 5 meter di depan kita bahkan sesudah aku nyalakan lampu jauh mobil tetap saja jarak pandang itu tak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satpam bilang, kabut pekat ini turun sekitar jam 3 pagi tadi. Karena begitu pekatnya, para satpam yang setia itu sempat berfikir ini adalah asap bukanlah kabut."Hati-hati, bu",begitu pesan mereka ketika aku melewati pos satpam dengan sepeda. Ini adalah sebuah "kemewahan" buatku, aku ingin menikmatinya sendiri dengan sepedaku. Aku kunci pintu rumah dan membiarkan Brina yang masih tidur di kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersepeda dalam kabut membuatku merasakan sensasi yang lain. Lampu sorot sepedaku sama sekali tidak berguna saat ini. Aku hanya bisa mengayuh pelan menuju bundaran utama komplek perumahan ku. Dadaku dipenuhi udara segar juga bau-bauan tanah dan dedaunan. Segar sekali !..Di bundaran aku melihat mobil-mobil berjalan sangat pelan, lampu-lampu mobil itu bagaikan kunang-kunang dalam tebalnya kabut kali ini. Indah sungguh, saat inilah tekhnologi seperti seakan tidak berdaya menghadapi kekuatan Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam 5.30 HP ku berdering, dari ayah mengingatkan aku untuk pulang membangunkan Brina. "Kabut berhenti di gerbang utama saja, setelah itu kabut sudah tidak ada lagi di jalan transyogi", kata ayah yang ternyata sudah sampai di tol cibubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemewahan" inilah yang aku dapatkan ketika aku membeli rumah disini. Kesegaran udara, kabut, pohon-pohon, tanah lapang berumput, lingkungan yang bersih, hal-hal inilah yang membuat aku jatuh cinta pada rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, matahari sudah menampakkan sinarnya, tapi kabut masih menggantung. Aku gendong keluar rumah Brina yang masih belum terlalu sadar dari tidurnya. Aku bangunkan dia dalam kabut di depan rumah. "Lihat Brin, ini adalah tanda keagungan Alloh. Ayo bangun, nak. Lihat kabut ini begitu indah begitu cantik"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah !..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-7237970082609968126?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/7237970082609968126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=7237970082609968126&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7237970082609968126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7237970082609968126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/03/halimun.html' title='Halimun'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-953830951388082374</id><published>2008-03-10T18:18:00.003+07:00</published><updated>2008-03-10T18:39:50.664+07:00</updated><title type='text'>Biru</title><content type='html'>Seandainya warna dunia ini cuma biru saja, terbayang kalau dedaunan pun akan sangat menenggelamkan seperti halnya langit. Seandainya warna dunia ini cuma biru saja, maka titik-titik hujan pun akan membawa romantisme yang sama seperti air danau disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa ketika sedang berhadapan dengan lelaki yang satu ini, aku selalu merasa berwarna biru. Bukan saja karena dia bisa menenggelamkan-ku dalam tatapan matanya, tapi juga karena saat berada di dekatnya aku seakan hanya punya satu kata saja untuk menggambarkan perasaan. Biru, yang dia persembahkan buat-ku bukanlah biru seperti warna yang biasa terlihat. Biru ini tidak terlalu pucat dan juga tidak terlalu maskulin, dia lembut tapi sangat menggairahkan. Dia halus tapi bisa menggelitik setiap syaraf hati-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saja setiap benda mempunyai warnanya tersendiri, maka lelaki ini total akan berwarna biru di mataku. Biru yang menghangatkan hati sekaligus menenangkan saat aku tercebur dalam gundah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saja yang namanya biru itu adalah satu-satunya warna yang terdapat di dunia ini, tetap saja biru-nya lelaki itu punya keistimewaan sendiri di hati. Karena biru itulah yang pertama kali menjamah hati-ku, yang pertama juga memegang tangan-ku dan yang pertama juga memeluk tubuh-ku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love you&lt;br /&gt;now, tomorrow and forever&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(buat ayah)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-953830951388082374?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/953830951388082374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=953830951388082374&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/953830951388082374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/953830951388082374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/03/biru.html' title='Biru'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-2013460867601887965</id><published>2008-03-08T06:07:00.006+07:00</published><updated>2008-03-10T18:18:43.059+07:00</updated><title type='text'>Komposisi</title><content type='html'>Kemaren coba-coba beli seloyang lapis legit yang harganya sangat murah. Tidak ada prasangka ketika mencicipi kue itu. "Biar bagaimana pun yang namanya harga pasti mempengaruhi rasa", begitu pikir-ku agar tidak terlalu kecewa nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi gak disangka, begitu gigitan pertama masuk ke dalam mulut-ku, langsung aku merasakan gabungan dari berbagai rasa unik menyatu di lidah. Hmmm cukup enak, walaupun teksturnya bukan seperti yang aku harapkan tapi gabungan dan komposisi bahan dasar kue begitu pas dan terasa "nagih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun setiap sisi kehidupan, bukan hanya kesenangan saja yang akan membuat kita bahagia dan bersyukur. Tapi seharusnya saat-saat kita ditimpa kemalangan, saat-saat kita jatuh seharusnya juga merupakan moment yang membahagiakan buat kita. Karena artinya DIA masih sayang kita, karena artinya kita diberikan kesempatan untuk naik kelas lewat kesulitan yang menghadang kita, karena artinya kita diperhatikan oleh Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ya rasanya ketika seorang manusia tidak "pas" komposisi hidupnya. Ataukah yang namanya komposisi hidup yang "pas" itu berada di otak manusia itu sendiri ? Ataukah yang namanya "enak", "tidak enak", dan "cukup enak"  nya kehidupan tergantung dari sisi mana kita menjalaninya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemaren juga seharian aku berinteraksi dengan orang yang sangat mengagumkan. Beliau sudah melakukan berbagai hal dalam hidupnya. Mulai dari berdagang asongan sampai akhirnya sekarang di usia 50 tahun-an menjadi saudagar dengan puluhan toko di Tanah Abang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hidup itu harus seimbang, Va. Harus pas antara kenikmatan dan kejatuhan. Supaya kita sebagai manusia pandai bersyukur", katanya. Betul juga pendapat itu, terkadang sebagai manusia aku merasa tidak pernah puas dalam hidup ini. Apakah ini berarti aku selalu "diatas" ? Atau aku merasa selalu "dibawah" ? Padahal yang namanya "diatas" dan "dibawah", seratus persen adalah wewenang cara pandang ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Supaya hidup kita pas, supaya hidup kita seimbang, jangan sekali-sekali memakai ukuran manusia ya, Va", itu juga nasehat beliau. Duh Rabbi, seandainya aku selalu ingat bahwa hidup dan mati ini hanyalah untuk Mu, akan menjadi begitu sederhana hidup ini. Begitu sederhana karena perpaduan antara kesenangan dan kesusahan adalah hasil dari "resep" ala KAMU...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMU sang maha memiliki yang tidak pernah menuntut apapun dari kami-hamba sahaya MU yang hidupnya begitu bergantung kepada KAMU- &lt;br /&gt;KAMU sang maha perkasa &lt;br /&gt;KAMU sang maha pengasih&lt;br /&gt;KAMU yang selalu memberikan apapun yang kami minta&lt;br /&gt;KAMU yang begitu tahu apa yang baik dan buruk buat kami&lt;br /&gt;KAMU yang memang pantas disembah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh Alloh, Duh pencipta-ku, jadikanlah aku manusia yang tidak mengejar mata dan pujian dari manusia&lt;br /&gt;Jangan jadikan aku orang yang hina karena begitu lelah mengejar dunia ini&lt;br /&gt;Buat aku menjadi orang-orang yang selalu melihat apapun yang terjadi sebagai keseimbangan dalam hidupku&lt;br /&gt;Buat aku menjadi orang yang "biasa-biasa" saja, yang selalu bersyukur ketika senang dan bersyukur juga ketika mendapat musibah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbi, Kekasih-ku&lt;br /&gt;Buat aku jadi orang yang adil dalam memandang hidup&lt;br /&gt;Buat aku jadi orang yang pas dalam menjalani hidup ini&lt;br /&gt;Buat aku menjadi orang yang seimbang&lt;br /&gt;Cukup bagi ku cinta MU, hidup dan matiku adalah untuk MU&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-2013460867601887965?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/2013460867601887965/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=2013460867601887965&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2013460867601887965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2013460867601887965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/03/komposisi.html' title='Komposisi'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-4897373555369944385</id><published>2008-03-06T13:55:00.017+07:00</published><updated>2008-03-06T17:49:50.753+07:00</updated><title type='text'>Reuni</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-g7kOnWzI/AAAAAAAAAHo/g43r0Q26XL4/s1600-h/pulang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-g7kOnWzI/AAAAAAAAAHo/g43r0Q26XL4/s200/pulang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174531442069691186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senayan City 29 Februari 18.30 WIB, Mall baru yang masih gress banget penampilannya.&lt;br /&gt;Berjalan menuju sebuah restoran disana sambil menggandeng Shabrina membuat dada ini penuh sesak dengan perasaan mengira-ngira. "Seperti apa si A ya ?, apakah si B masih seperti dulu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk menunggu sambil mengunyah potongan lidah buaya dan mangga, Ketika tiba-tiba sosok lelaki tinggi besar hitam datang dengan tangan masuk ke dalam kantong. Buat orang yang sangat sensitif dengan bahasa tubuh aku merasa bahwa sosok ini bukanlah sosok yang mau diganggu sembarangan orang. Walau hati ini tahu siapa itu tapi karena bahasa tubuhnya yang tidak terbuka membuatku hanya tersenyum ketika dia tiba-tiba menengok ke arahku. Dan benar saja sosok teman itu hanya melengos tidak membalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman kedua datang dengan mata yang agak merah, memakai jaket hitam dan penampilannya masih seperti 15 tahun yang lalu. "Eva ya ?", begitu tegurnya.. Duh Alloh, kok malah aku yang lupa namanya ya. Setelah mengingat-ingat Prana dulu pernah sekelas dengan ku di kelas 3 SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-flkOnWxI/AAAAAAAAAHY/rkXlx3kZGg0/s1600-h/senyuum.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-flkOnWxI/AAAAAAAAAHY/rkXlx3kZGg0/s200/senyuum.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174529964600941330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-fukOnWyI/AAAAAAAAAHg/YzI4C9FUWWo/s1600-h/yayang-risna-maya.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-fukOnWyI/AAAAAAAAAHg/YzI4C9FUWWo/s200/yayang-risna-maya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174530119219764002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan datang dengan gaya jalannya yang slebor dengan ransel hitam dan baju hitam. Gaya bicaranya juga tidak banyak berubah. Yang berbeda hanyalah sebuah cincin emas melingkar di jari manisnya. "Anak gue baru satu, Va..Baru 3 bulan umurnya", begitu katanya ketika dia menyalami Shabrina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sepakat mencari meja yang lebih besar, ternyata kumpulan ibu-ibu juga sudah menunggu di sana sejak tadi, tapi karena memang penampilan yang berubah total membuat kita tidak saling mengenal. Shanti yang sudah tidak keriting papan lagi, Yulistria sudah beranak 4 dan sudah berjilbab, Era sudah beranak 2 dan sudah berjilbab juga, dan Yulia yang tambah langsing dan cantik dibanding SMP dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-faUOnWwI/AAAAAAAAAHQ/Xizs7Husj-w/s1600-h/eva-maya-boy.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-faUOnWwI/AAAAAAAAAHQ/Xizs7Husj-w/s200/eva-maya-boy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174529771327412994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya satu demi satu teman-teman datang. Ada Boy Zayadi, Romi, Betty, Maya, Esti, Taufik dan istri, Teguh, Iqbal, Erwin, Rifki dan istri, Diah dan suami, Sapta, Ami, Daus, Ajo. Dan prosesi tebak nama menjadi ritual yang harus dilalui sebelum duduk di meja. Lucu juga melihatnya kening-kening kita berkerut mengingat-ingat. Tapi untuk beberapa teman, dengan ciri-ciri yang khas, aku tidak perlu mengingat dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami lalui dengan tertawa-tawa saja. Tidak ada yang tidak tertawa malam itu. Mengingat masa SMP memang sangat menyenangkan. Karena di masa itu kita bukan lagi anak kecil, tapi belum juga menjadi remaja. Boleh dibilang semua tingkah laku dan perbuatan kita sangat polos waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-fCkOnWuI/AAAAAAAAAHA/b9adep2zVyY/s1600-h/backstreet-boys.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-fCkOnWuI/AAAAAAAAAHA/b9adep2zVyY/s200/backstreet-boys.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174529363305519842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menghebohkan ketika Anna membuka album foto perpisahan kelulusan SMP. Ingat banget waktu itu kita rame-rame pergi ke AHA Menteng. Alasannya karena disitu harganya murah dan porsinya gede. Foto-foto kita dengan baju penuh coretan dengan muka yang masih culun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arisan Rp.100.000 digelar juga, ternyata tidak semua orang mau ikut. Aku yang biasanya anti arisan (karena sifatnya yang mengundi/maisyir), memutuskan untuk ikut atas nama pertemanan. Yah, bagaimana pun yang namanya komitmen memang harus ada ikatan nyatanya kan ?!.. Dan arisan ini adalah bentuk komitmen ku untuk selalu datang di setiap pertemuan. Insya Alloh !..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-fQUOnWvI/AAAAAAAAAHI/U6fuwk_lRSA/s1600-h/depan-lift.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-fQUOnWvI/AAAAAAAAAHI/U6fuwk_lRSA/s200/depan-lift.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174529599528721138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usulku untuk mengocok arisan dengan sistem "yang paling belakangan yang dapat" ditolak mentah-mentah. Padahal sistem ini sangat seru loh, sensasi nya beda dengan arisan sistem "yang pertama keluar yang dapat"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami akhiri ketika tirai-tirai restoran sudah ditutup. Kayaknya masih belum puas. Kayaknya masih belum lepas. Indah pertemuan kemaren. Tidak ada tendensi, tidak ada harapan, tidak ada sangkutan. Semuanya datang hanya untuk bersilaturahmi dan mengobrol ngalor ngidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang barengan Erwin menembus kemacetan Jakarta padahal udah jam 22.30. Di mobil sempet ngobrol juga sama Erwin. Di tengah obrolan aku sedikit merenung, mungkin percakapan antar teman SMP akan berubah setelah 10 tahun lagi. Mungkin percakapan tentang kematian, hari akhir dan ketenangan hati akan mendominasi dibandingkan percakapan tentang materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan ketemuan lagi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(foto dari anna melani)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-4897373555369944385?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/4897373555369944385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=4897373555369944385&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4897373555369944385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4897373555369944385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/03/reuni.html' title='Reuni'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-g7kOnWzI/AAAAAAAAAHo/g43r0Q26XL4/s72-c/pulang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-1373736072045699586</id><published>2008-03-06T13:47:00.003+07:00</published><updated>2008-03-06T13:53:42.881+07:00</updated><title type='text'>Sempurna</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-UDkOnWnI/AAAAAAAAAGI/P2XyxemBkro/s1600-h/IMG_0150.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-UDkOnWnI/AAAAAAAAAGI/P2XyxemBkro/s320/IMG_0150.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174517285857483378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau adalah darah-ku&lt;br /&gt;Kau adalah jantung-ku&lt;br /&gt;Kau adalah hidup-ku&lt;br /&gt;Lengkapi diri-ku&lt;br /&gt;Oh Sayang-ku kau begitu sempurna....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Andra&amp;thebackbone)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-1373736072045699586?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/1373736072045699586/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=1373736072045699586&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1373736072045699586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1373736072045699586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/03/sempurna.html' title='Sempurna'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R8-UDkOnWnI/AAAAAAAAAGI/P2XyxemBkro/s72-c/IMG_0150.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-5721928035259956072</id><published>2008-03-06T13:33:00.003+07:00</published><updated>2008-03-06T13:46:09.348+07:00</updated><title type='text'>Kemana Ajaaaa ?</title><content type='html'>Ada kok Bu...:)&lt;br /&gt;Masih seperti dulu, masih merasa nyaman dengan dekapan selimut hangat&lt;br /&gt;Masih merasa nyaman dengan pojok favorite di rumah ini&lt;br /&gt;Masih merasa nyaman dengan segala peran setiap pagi&lt;br /&gt;Masih merasa nyaman dengan segala warna-warni hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, apa ini bukannya terlalu nyaman ya ?&lt;br /&gt;Ada yang bilang, saat kita sudah merasa nyaman, maka saat itulah sebenarnya manusia tidaklah "hidup" lagi.&lt;br /&gt;Tapi berbeda kah yang namanya "kenyamanan" dengan sebuah "perjalanan" ?&lt;br /&gt;Sebuah perjalanan yang sedang aku jalani satu demi satu, perlahan-lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya tidak mau "membuat hidup menjadi lebih hidup"&lt;br /&gt;Tapi kehidupan sepertinya sudah memberikan nyawanya sendiri buat ku&lt;br /&gt;Tidak perlu aku cari ke sana dan ke sini "huru-hara" kesibukan yang akan membuat aku menjadi lebih hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah diriku&lt;br /&gt;Aku hidup karena pilihan-pilihan yang sudah aku lakukan selama ini&lt;br /&gt;Tidak puas ? Woww sering..&lt;br /&gt;Tapi tidak mesti lantas ketidakpuasan itu membuat aku menjadi "mati"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini tampaknya bulir-bulir asa ku akan lebih kutujukan buat sesuatu diluar diriku&lt;br /&gt;Bukan karena aku tidak punya keinginan diri&lt;br /&gt;Tapi kalo hanya sekedar uang atau gelar, alhamdulillah aku sudah mendapatkannya&lt;br /&gt;Saat ini aku merasa sudah bukan waktu ku lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gampang kah hidup ini kalau hanya sekedar menjalani ?&lt;br /&gt;Siapa yang bilang ?.&lt;br /&gt;Setiap fase dan pilihan kehidupan ada tantangannya&lt;br /&gt;Bukan sekedar menanjak, tapi menurun pun adalah tantangan&lt;br /&gt;Bukan sekedar merah tapi warna hitam pun adalah tantangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang sering diri ini menggugat&lt;br /&gt;Apakah jalan yang aku lalui ini sudah benar ?&lt;br /&gt;Benar. Tidak ada yang tahu&lt;br /&gt;Dan sebagai manusia kita memang tidak berhak tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sepotong daging bernama "hati"&lt;br /&gt;akan memberitahu ketika kita berada di simpang jalan &lt;br /&gt;antara "keinginan" dan "kenyataan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang lebih memuaskan diri ketika &lt;br /&gt;bertemu dengan teman lama yang tampaknya sangat puas dengan hidupnya.&lt;br /&gt;Padahal hidupnya begitu sederhana&lt;br /&gt;Tapi seperti katanya, "Walau begitu, hidupku tidak mudah, Va"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah kehidupan&lt;br /&gt;Sebuah panggung sandiwara sempit bagi manusia&lt;br /&gt;Apalagi kalau panggung itu hanya ditujukan buat diri kita seorang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-5721928035259956072?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/5721928035259956072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=5721928035259956072&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/5721928035259956072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/5721928035259956072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/03/kemana-ajaaaa.html' title='Kemana Ajaaaa ?'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-7948467691510912632</id><published>2008-01-24T06:49:00.000+07:00</published><updated>2008-01-24T07:13:42.376+07:00</updated><title type='text'>Budak Uang</title><content type='html'>"Jangan jadi budak duit dalam hidup kamu", ini nasehat yang kemaren malam dilontarkan oleh mama. Gak tau kenapa tiba-tiba beliau menelepon dan bercerita panjang lebar mengenai uang malam tadi. Apakah beliau khawatir terhadap sesuatu ? Apakah beliau hanya sekedar memberi nasehat ? Atau ada maksud lain ? Tumben mama sepertinya berceramah padaku, biasanya aku selalu diperlakukan sebagai teman olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akui sebagai manusia dengan umur yang masih kemaren sore, pesona uang memang terkadang membuatku lupa. Terutama aku sering lupa bahwa yang namanya uang itu hanyalah sekedar alat tukar. Alat tukar untuk membeli makanan penyambung hidup. alat tukar untuk aku agar mendapatkan tempat berteduh dan sebagainya. Uang bukan benda abadi yang bisa kita simpan terus menerus, apalagi kita jadikan jaminan hidup bahagia kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akui juga bahwa aku sering lupa kalau uang itu sebenarnya hanyalah pelengkap kehidupan. Bukan uang yang menentukan bagaimana hidup ku. Tapi bagaimana hidup yang aku inginkan itulah yang paling penting. Dan uang hanya berperan sebagai faktor kesekian dalam proses ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku tahu dengan persis bagaimana corak hidup yang aku inginkan maka pada saat itulah uang akan mencukupkan dirinya sendiri. Orang yang merasa selalu kekurangan uang adalah orang yang tidak tahu apa tujuan hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang perlu uang. Setiap manusia perlu. Aku pun memerlukannya. Tapi apakah harus dengan sebegitu "tunggang langgang" nya kah aku mendapatkannya ?. Ketika aku sudah tahu dengan persis porsiku, maka aku pasti akan merasa kenyang pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini persis dengan orang berdiet. Orang berdiet harus mengatur pola makan dan berapa banyak makanan yang masuk ke perutnya. Ketika berdiet kita akan selalu berusaha untuk makan pada waktunya dengan besar kalori yang di sesuaikan dengan kebutuhan pada jam itu. Mungkin pada saat-saat awal, keharusan ini belum terbiasa kita lakukan tapi gak usah menunggu lama, dalam seminggu pola diet ini akan sangat mudah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula uang, sama seperti makanan, uang pun adalah pemuas nafsu manusia juga. Dia bisa diatur, bisa ditata dan bisa kita buat sedemikian rupa sesuai kebutuhan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang merasa tidak tahu sampai seberapa jauh dia harus "mengejar uang" adalah orang yang tidak akan pernah tahu keinginan dan kebutuhannya. Aku tidak mau jadi manusia seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpel aja !...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-7948467691510912632?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/7948467691510912632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=7948467691510912632&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7948467691510912632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7948467691510912632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/01/budak-uang.html' title='Budak Uang'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-661612566422494035</id><published>2008-01-21T06:12:00.000+07:00</published><updated>2008-01-21T06:38:14.765+07:00</updated><title type='text'>Detoks</title><content type='html'>Detoks ku bulan ini adalah detoks terberat. Kalau bulan-bulan lalu, biasanya proses ini hanya menyebabkan aku "sedikit" mencret-mencret, entah kenapa bulan ini detoks rutin ini menghinggapi belakang kepalaku sehingga terasa sangat sakit dan berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya aku tetap menjaga makananku. Tidak sembarangan seperti dulu lagi. Aku rutin makan sayur dan buah, banyak minum air putih dan tidak makan obat-obatan sama sekali kalau tidak perlu. Tapi kenapa aku sampai merasa sangat kewalahan bulan ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan terjadi seandainya sekali-sekali gumpalan darah bernama hati di dada ini juga ikut di detoksifikasi. Mungkin segala kerak dengki, iri, suka mengeluh-ku, suka pamer, cepat bangga dan ingin dipuji-ku akan ikut keluar bersama kotoran. Tapi mungkin juga segala kerak itu akan susah untuk dikeluarkan karena sudah sedemikan melekat dan banyaknya kerak itu menempel di dinding hati ini. Hati dibuat sempit karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang, detoksifikasi hati yang paling bagus adalah dengan banyak memberi kepada orang lain. Tapi bagaimana kita bisa memberi, kalau kita selalu merasa berkekurangan ? Ada juga yang bilang, membersihkan hati itu bisa kita lakukan dengan bersyukur. Tapi bagaimana bisa bersyukur bila kita merasa apa yang sudah Dia berikan selalu tidak cukup ? Yang aneh, ada yang bilang bahwa membersihkan hati itu adalah berarti "selalu melihat ke bawah". Tapi bagaimana itu bisa dilakukan bila saat ini kita sudah berdiri terlalu tinggi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang kotor bagaikan cermin yang kotor, ini kata baginda Rasul. Hati yang kotor tidak akan bisa menangkap cahaya kebaikan. Segala apapun tingkah laku orang selalu kita pandang negatif, apa yang orang lakukan kita anggap sebagai ancaman, penuh prasangka, itulah yang akan terjadi pada seorang manusia bila hatinya hitam gelap tiada cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta, kedudukan, dan keluarga juga bisa membutakan hati kita. Mungkin tidak dengan cara menutupinya dengan kotoran seperti tadi, tapi uang, harta benda, jabatan akan perlahan menutupi hati kita dengan kilat kebendaannya. Sesuatu yang sesungguhnya bersifat sementara yang seharusnya tidak berada terlalu lama dan tidak terlalu dalam dalam hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang yang bersih hatinya adalah orang yang ikhlas", ini kata guru ngaji saya. Duh, ikhlas. Sebuah kata yang sangat dalam maknanya. Saat hati kita cemerlang, lapang dan luas, maka apapun yang terjadi pada diri kita akan kita lakoni dengan datar saja. Apabila kita diberikan rezeki maka pasti bersyukur. Dan bila di beri musibah maka pasti bersyukur juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas juga berarti tidak mengingat-ingat lagi apapun amal kebaikan yang sudah kita lakukan untuk orang lain. Karena akan selalu yakin bahwa benih kebaikan yang kita tabur nanti pasti akan ada buahnya suatu hari kelak. Tidak perlu ditunggu, tidak perlu dinanti, itu sudah pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membersihkan hati hasilnya ikhlas. Dan ikhlas akan berbuah manis di kehidupan berikutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-661612566422494035?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/661612566422494035/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=661612566422494035&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/661612566422494035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/661612566422494035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/01/detoks.html' title='Detoks'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-1393627333143595177</id><published>2008-01-17T07:00:00.000+07:00</published><updated>2008-01-17T07:13:28.835+07:00</updated><title type='text'>Papa, Tampilan baru dan Tumpukan Hutang</title><content type='html'>Besok 40 hari setelah papa meninggal. Gak ada yang istimewa sebenarnya, tapi ini berhubungan sejuta persen dengan yang namanya sebuah kenangan. Kangen rasanya gak ada papa lagi, oleh karena itu, sengaja selama 40 hari ini aku pajang besar-besar foto papa di blog ku. Hanya berharap secuil kenangan itu akan selalu ada dalam hati ini.Benar, kita akan merasa sangat kehilangan ketika sesuatu itu sudah terlepas dari genggaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun baru mengerti hakikat kehidupan ketika 40 hari lalu, aku melihat dengan jelas perlahan jasad papa dimasukkan ke dalam liang lahat. Sendirian, tanpa teman. Duh Alloh, duh Robb ku, jangan sampai saat ajalku tiba aku belum juga mendapatkan jawaban dari pertanyaan besar itu: “Apa yang kau cari dalam hidup, wahai manusia ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak disangka, antrian ku untuk mendapatkan giliran blogku didandani sudah datang. Sempat sedikit terputus karena papa meninggal. Tapi &lt;a href="http://mylayoutdesign.blogspot.com"&gt;mba Ria&lt;/a&gt; adalah orang yang menyenangkan. Semua keinginan dan harapanku tentang sebuah blog, dia beri wadah dalam bingkai kreativitasnya. Sebenarnya aku bukanlah orang yang cerewet dan rewel. Aku hanya tidak bisa terlalu memilih sekian pilihan. Yah, walaupun yang namanya hidup itu adalah pilihan, tapi rasa-rasanya tidak sebanyak itu jalan yang harus kupilih selama hidupku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja juga tahun 2008 ini aku tidak membuat resolusi apapun. Bukan apa-apa, tapi hutang resolusiku tahun lalu masih belum lunas. Gak enak saja rasanya dikejar-kejar hutang, di gedor-gedor oleh seorang debt collector yang bernama “janji”. Bukankah resolusi itu sebuah janji ? Dan janji itu harus kita tepati ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpukan hutangku sudah banyak. Tidak perlu lagi aku tambah hutang-hutang ku itu dengan impian yang belum pasti bisa aku tepati. Tapi apakah tahun 2008 akan berjalan begitu saja, tanpa rencana dan motivasi ? Hanya mengalir ? Tidak juga. Aku juga punya sebuah rencana besar di tahun ini. Sebuah rencana yang Insya Alloh akan membantuku melunasi hutang-hutang resolusi ku tahun-tahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah rencana besar yang mengikutsertakan buah hati kami. Insya Alloh kami berdua, orang tuanya, akan mengantar anak kami itu ke sebuah tangga naik dalam kehidupannya. Sepertinya inilah tahun yang paling tepat untuk “memberikan” segenap waktu dan konsentrasi kami kepada bidadari kecil itu. Tahun inilah dia sangat butuh didampingi oleh orang-orang terdekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya hal ini bukanlah rencana atau resolusi atau apapun namanya. Tapi mengantarkan anak ku melangkah ke babak baru adalah kewajibanku sebagai orang tua. Kalau pun ada yang bertanya apa resolusi ku tahun 2008 ini, barangkali aku akan menjawabnya : "Resolusi ku adalah menjalankan kewajibanku sebaik-baiknya tahun ini, sebagai ibu, sebagai sahabat dan sebagai teman buat anakkku"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doakan aku ya !..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-1393627333143595177?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/1393627333143595177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=1393627333143595177&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1393627333143595177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1393627333143595177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2008/01/papa-tampilan-baru-dan-tumpukan-hutang.html' title='Papa, Tampilan baru dan Tumpukan Hutang'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-4840714260508361615</id><published>2007-12-14T13:16:00.000+07:00</published><updated>2007-12-14T13:30:54.547+07:00</updated><title type='text'>Titip Rindu Buat Ayah</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R2IhILfFI3I/AAAAAAAAAD4/rQ5NNDno1Yw/s1600-h/IMG_0019.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R2IhILfFI3I/AAAAAAAAAD4/rQ5NNDno1Yw/s320/IMG_0019.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143710148816348018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini&lt;br /&gt;Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan&lt;br /&gt;Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari&lt;br /&gt;kini kurus dan terbungkuk &lt;br /&gt;Namun semangat tak pernah pudar&lt;br /&gt;meski langkahmu kadang gemetar&lt;br /&gt;kau tetap setia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(By Ebiet G.ADe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un&lt;br /&gt;Papa tercinta 15 Juli 1945 - 8 Desember 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-4840714260508361615?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/4840714260508361615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=4840714260508361615&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4840714260508361615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4840714260508361615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/12/titip-rindu-buat-ayah.html' title='Titip Rindu Buat Ayah'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R2IhILfFI3I/AAAAAAAAAD4/rQ5NNDno1Yw/s72-c/IMG_0019.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-6609911132781764196</id><published>2007-12-06T07:08:00.000+07:00</published><updated>2007-12-06T07:35:45.057+07:00</updated><title type='text'>Blogwalking</title><content type='html'>Ada yang bilang, blogwalking adalah kerjaan orang yang "gak ada kerjaan". Tapi sebenarnya blogwalking adalah cara untuk memperkaya diri kita lewat pengalaman orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin akan berbeda di saat kita membaca blog yang isinya seperti diary dengan blog yang isinya merupakan buah pikiran si penulis. Ada juga blog yang isinya cuma "menjelek-jelekkan" orang lain.. No Problem ! semua sah-sah saja dalam sebuah blog.. Bagaimana pun bentuk tulisan itu membuat aku menjadi kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang bisa diambil saat aku sedang iseng2 blogwalking. Ada tulisan yang mencerahkan, ada tulisan yang bikin gemes, ada tulisan yang bikin aku menahan nafas, ada juga blog seorang kawan yang penuh dengan sindiran lucu dengan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi banyak juga blog yang makin lama makin terasa "kering". Bukan karena si pemilik tidak mengupdate blognya. Tapi karena lama kelamaan tulisannya terasa tanpa makna. Seperti asal menulis, seperti asal mengupdate saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kering", sebenarnya sebuah istilah yang sumir. Walaupun sebuah blog hanya berisi "remeh temeh kehidupan penulisnya, tapi tulisannya akan terasa punya nyawa ketika pembaca menemukan sesuatu yang berbeda setiap membaca tulisan demi tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada blog seorang ibu yang baru saja memulai bisnisnya. Di masa-masa awal dia berbisnis, setiap membaca tulisannya seakan kita bisa menemukan semangatnya, kita ikut termotivasi, kita ikut terharu, ikut tertawa bersama jungkir baliknya dia mengawali bisnisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semakin hari semakin mantap bisnisnya, seakan tulisannya "mengering" seiring waktu. Seakan si ibu ini kehilangan jiwa dalam tulisannya. Kita bisa merasakan semakin "habis" bahan tulisannya. Seorang penulis yang baik sebenarnya adalah seorang entertainer juga. Begitu juga penulis blog. Dia perlu tahu sisi mana dari kehidupannya yang akan menarik pembacanya. Sisi mana dari kehidupannya yang akan memberikan hikmah dan pelajaran buat pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun blog itu sepenuhnya adalah berisi catatan kehidupan penulis, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa betapa bangganya seorang penulis ketika tahu bahwa tulisannya bisa membuat orang lebih mengenal dirinya, bisa tertawa bersama, dan akan sangat lebih bangga ketika perjalanan hidupnya itu bisa menginspirasi orang lain. Perasaan ini tidak bisa dipungkiri oleh setiap orang yang menulis !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis adalah kreativitas. Menulis butuh bahan bakar. Tidak akan bermakna sebuah tulisan ketika si penulis tidak berusaha memperkaya dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog-ku adalah aku, tapi bisa juga buat kamu !. Ini kata-ku ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-6609911132781764196?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/6609911132781764196/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=6609911132781764196&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6609911132781764196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6609911132781764196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/12/blogwalking.html' title='Blogwalking'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-8240734855981900437</id><published>2007-11-30T12:23:00.000+07:00</published><updated>2007-11-30T12:51:30.830+07:00</updated><title type='text'>Cing Cay Lahhh ......</title><content type='html'>Seorang teman sering sekali menggembirakan hati saya. Bukan karena senyumnya yang manis, bukan juga karena dia sering memberikan hadiah kepada saya atau bukan juga karena saya akrab dan dekat dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan saya dengan dia biasa-biasa saja. Kami tidak sering menelepon, bahkan obrolan saya dengannya terjadi beberapa bulan yang lalu sebelum lebaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosoknya biasa saja. Dia tidak pernah menonjolkan dirinya di depan saya. Biasa saja. Kalau dia bercerita tentang sesuatu maka saya pasti percaya bahwa itulah yang memang terjadi padanya. Tidak pernah ada prasangka diantara kami.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi kegemarannya untuk "memudahkan" segala urusan saya, itulah yang saya kagumi dari dia. Yah, saya tahu bahwa sering sekali saya baru kembali menghubunginya kalau saya sedang butuh bantuannya. Tapi herannya dia tidak pernah menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pagi ini, saya menghubunginya karena saya butuh jasa dia memuluskan proyek dalam pekerjaan baru saya. Tanpa banyak omong dan banyak tanya dia langsung mengiyakan saya. Dan keluarlah kata favoritnya "Cing cay lah itu, Va... Aku pasti bantu kamu "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adem. Begitulah kesan saya ketika tadi menghubunginya. Gak nyangka begitu "mudah" nya keluar dari masalah yang "membelit" saya. Saya tidak merasa dipersulit, dia percaya bahwa saya memang sedang butuh bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabungan emosi kita pada orang lain memang akan berbuah kelak. Sebuah investasi yang sangat berguna dalam kehidupan. Tabungan yang tidak akan merugikan kita dan akan mebahagiakan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang siapa yang memudahkan jalan orang lain maka DIA pun akan memudahkan kita", begitulah kata hadist. Sungguh, sebenarnya simpel saja hidup ini. Perlakukan saja orang lain seperti kita mau diperlakukan. Jangan sekali-kali memberikan orang lain "bagian" yang bahkan kita pun tidak mau memakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sulitnya jadi orang yang "memudahkan" orang lain. Hanya butuh sebuah niat dan keyakinan bahwa semuanya akan berbuah manis pada waktunya. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa setiap orang akan dibalas sesuai dengan perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat kita terhubung dengan orang lain lewat hati maka kita akan mengerti posisi dan kedudukannya. Terkadang tidak banyak yang diminta orang lain untuk membantu dirinya. Terkadang mereka cuma butuh "dibukakan jalan". Apa sih susahnya "membuka gerbang" ? Kalo memang kita punya kuncinya dan tahu jalan nya, tidak akan merugi sepeserpun apabila kita lakukan untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja semua orang berpikir sesimpel itu maka tidak akan ada orang yang bersusah hati di dunia ini. Manusia akan senantiasa yakin bahwa segala urusan dan masalah yang dia hadapi tidaklah dihadapi "sendirian". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempermudah urusan juga bisa jadi tali silaturahmi. Siapapun dia pasti akan selalu mengingat orang yang sudah membantu memecahkan masalahnya. Tidak mustahil juga kita akan selalu dibawa dalam doa-doanya. Dan tidak mustahil juga dia akan berbuat yang sama jika orang lain membutuhkan bantuannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya perbuatan baik dan membekas itu bagai bola salju yang menggelinding semakin cepat. Bila ada seseorang yang merasa tersentuh hatinya akibat sebuah perbuatan baik, maka dia akan meneruskan perbuatan baik itu juga kepada orang lain. Dan begitu seterusnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudahkanlah urusan orang lain, niscaya jalan akan selalu terbentang luas di depan kita. Percaya aja !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-8240734855981900437?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/8240734855981900437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=8240734855981900437&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8240734855981900437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8240734855981900437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/cing-cay-lahhh.html' title='Cing Cay Lahhh ......'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-3574348018323473587</id><published>2007-11-28T06:46:00.000+07:00</published><updated>2007-11-28T06:48:43.542+07:00</updated><title type='text'>Kamu Pikir Gampang ?...</title><content type='html'>Kamu pikir gampang jadi saya ? Kamu kan gak tau apa saja masalah saya ? Apa kamu pikir cuma masalahmu saja yang paling berat di dunia ini ? Gak usah belagak jadi orang paling menderita sedunia. Jalani saja hidupmu, syukuri dulu yang sudah DIA kasih buat kamu…  Kamu pikir bersyukur itu gampang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pikir enak jadi saya ? Tapi mau bagaimana ? Apa saya harus terus-terusan membenturkan kenyataan dengan mimpi seperti kamu ? Saya gak mau jadi pemimpi seperti kamu. Saya memang punya cita-cita, tapi saya gak mau ngoyo seperti kamu. Kamu pikir gampang untuk menerima apapun yang menjadi “jatah” kita? Kamu pikir gampang untuk ikhlas ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahkan saja seluruh dunia ini kecuali dirimu. Memang enak menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kamu buat. Kamu pikir gampang jadi manusia ? Kamu pikir gampang untuk bertanggung jawab ? Jangan-jangan kamu tidak pernah tahu arti tanggung jawab. Tunjuk dirimu sendiri, itu artinya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hidup saya !. Kamu pikir gampang menjalani hidup ? Kamu pikir gampang menjalani itu-itu saja setiap harinya ? Tapi saya harus bagaimana ? Bukannya saya tidak punya pilihan. Tapi saya tidak mau melihat  rumput tetangga. Ini hidup saya, dan saya harus ada disini untuknya. Kamu pikir gampang jadi saya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pikir gampang jadi perempuan ? Kamu pikir saya pernah memiliki hidup saya seratus persen ? Kamu pikir hidup saya sempurna ? Kamu pikir inilah yang sudah saya inginkan ? Kamu pikir ini lah pencapaian terbesar saya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan salah !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-3574348018323473587?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/3574348018323473587/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=3574348018323473587&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3574348018323473587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3574348018323473587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/kamu-pikir-gampang.html' title='Kamu Pikir Gampang ?...'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-8368887709128104191</id><published>2007-11-27T06:20:00.000+07:00</published><updated>2007-11-27T06:25:59.145+07:00</updated><title type='text'>Uang atau Keutuhan Keluarga, pilih salah satu !</title><content type='html'>Benarkah tidak ada pilihan yang salah ? Benarkah semua pilihan itu benar di saat kita yakin menjalaninya ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir runtuh anggapan ku itu ketika merenungkannya. Yah, seharusnya memang ada yang menuntun manusia untuk memilih. Manusia tidak bisa seenaknya memilih dan menganggap bahwa konsekuensi pilihannya itu cuma dirinya saja yang menanggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakin kalau semua yang kita jalani tidak berpengaruh kepada orang lain ? Benarkah manusia hanya bertanggung jawab kepada dirinya sendiri ? Benarkah tidak ada yang akan terluka dengan pilihan yang kita buat ? Siapa yang sebenarnya harus dikorbankan, diri kita sendiri atau orang lain ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih uang atau keutuhan keluarga ?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti kebanyakan dari kita akan memilih keutuhan keluarga. Tapi jawaban ini tidak akan sebegitu mudahnya untuk dipilih oleh seseorang yang “merasa” sudah kekurangan uang hampir seumur hidupnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah benar ketika orang sudah merasa bosan dengan kesulitan hidup dia akan cenderung berpikir pendek ?... Tapi bukan kah itu sesuatu yang wajar, toh memang hidup ini butuh uang ?.. Bukankah yang namanya prioritas itu berbeda ? Apakah memang ada sebuah standarisasi dari sebuah urutan prioritas ?.. Kebahagiaan ? Hati Nurani ? Apa ?..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa manusia selalu dihadapkan dengan dua pilihan yang membingungkan ? Darimana kita tahu bahwa pilihan itu benar atau salah ? DIA-kah yang akan memberitahu kita ? atau kita memang harus memilih dan membayar “harganya” ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ketika akhirnya dia melangkah memilih uang dan meninggalkan keutuhan keluarga dibelakangnya, aku hanya berusaha untuk memahaminya. Jujur, aku hanya kasihan sebenarnya melihat dia meninggalkan semua yang sudah ada dalam genggamannya. Tapi mau bagaimana lagi, aku bukanlah nabi pembawa nasehat, juga bukan seorang malaikat pembawa pesan. Yang bisa aku lakukan hanyalah mencoba untuk “berada dalam sepatunya” sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100% aku tidak mengerti,  ketika sebuah tatanan moral (yaitu keutuhan) yang sebegitu mulia harus kalah dengan uang. Sepertinya dia tidak peduli lagi akan kehilangan segalanya demi uang. Dia sudah merasa teramat bosan dengan kemiskinan. Dia yakin bahwa uang bisa membeli masa depannya, bisa membuat keluarganya akan utuh kembali kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jodoh, itu saja kata kuncinya. Kalau sudah berjodoh dia merasa yakin akan dipersatukan kembali dengan keluarganya. Kalaupun tidak, maka ini adalah takdir. Benarkah ini takdir ? Bukan lah konsekuensi dari sebuah pilihan ? Kenapa bisa begitu mudah menyalahkan takdir atas kesalahan pilihan yang kita buat. Bukankah takdir itu adalah hasil dari perbuatan manusia sendiri ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menganggap bahwa takdir sebenarnya adalah hasil “pilihan” manusia. Takdir tidak diturunkan begitu saja dari langit dan diterima oleh manusia begitu saja di bumi. Takdir yang terjadi pada kita kelak pasti adalah hasil dari pilihan-pilihan hidup yang sudah kita jalani saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada siapa kita bisa menetapkan pilihan ? Untuk kepentingan diri sendiri atau untuk kepentingan orang lain ? Benarkah manusia bebas 100% untuk memilih ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat akhirnya dia lebih memilih uang daripada keutuhan keluarganya, aku hanya bisa menangis kecil dalam hati. Tiada siapapun yang akan tahu saat ini apakah pilihannya benar atau salah. Sesungguhnya hanya waktu yang akan menentukannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan salah memilih !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-8368887709128104191?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/8368887709128104191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=8368887709128104191&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8368887709128104191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8368887709128104191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/uang-atau-keutuhan-keluarga-pilih-salah.html' title='Uang atau Keutuhan Keluarga, pilih salah satu !'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-1727436870077696080</id><published>2007-11-24T20:42:00.000+07:00</published><updated>2007-11-24T20:59:17.940+07:00</updated><title type='text'>Karma does Exist</title><content type='html'>Kalau ada yang bilang bahwa hidup itu hanyalah pengulangan-pengulangan kejadian yang pernah terjadi, mau tak mau aku akan mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat sebatang pohon yang tumbuh dengan daun-daun muda yang menggantikan daun tua yang berguguran, melihat putik-putik bunga yang mucul malu-malu setelah aku petik buah matangnya pekan kemarin. Melihat bahwa setiap langkah yang aku lakukan juga adalah pengulangan dari serangkaian langkah-langkah kecil. Mana mungkin aku akan sampai "di sana" kalau langkah-langkah kecil itu tidak aku ulang terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang berubah, Banyak yang datang dan pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku mulai melihat seluruh kejadian di dunia ini dengan mata yang lebih "terbuka". Ketika aku mulai menemukan secara "penuh" kesadaranku, maka aku semakin paham bahwa segala yang terjadi di dunia ini akan "terpantul" kembali kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang menganggap bahwa DIA telah "menghukumnya". Sesungguhnya manusia itu sendiri yang "menghukum" dirinya. Manusia tidak pernah sadar 100% bahwa apapun yang terjadi pada dirinya adalah tanggung jawab dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana manusia akan bertanggung jawab kala dia tidak tahu misi hidupnya diatas dunia ini. Ada yang mencari uang untuk kebahagiaan, ada yang mencari kebahagiaan buat dirinya sendiri, tapi ada juga yang tidak pernah tahu tujuan hidupnya sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya semua ini hanyalah pengulangan-pengulangan semata. Apa yang kita lakukan setiap hari sebenarnya mempunyai tujuan besar di belakangnya. Jangan pernah menyangka bahwa sesuatu yang buruk yang menimpa kita bukanlah pengulangan dari perbuatan kita di masa lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun yang terjadi, apakah itu baik atau buruk, manis atau pahit, seharusnya kita siap menerimanya. Karena itu hanyalah pengulangan dari semua perbuatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanilah rutinitas kehidupan ini dalam keadaan sadar sepenuhnya. Jangan biarkan semuanya mengalir, sampai akhirnya kita merasa ini hanya kewajiban. Tapi juga jangan ngotot memasang target dalam menjalani pengulangan-pengulangan itu karena hanya akan menuai perasaan tidak pernah puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekecil apapun, se-sepele apapun misi hidup kita, bukan tidak mungkin akan membawa kebahagiaan abadi di dunia berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karma &lt;em&gt;does&lt;/em&gt; exist ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-1727436870077696080?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/1727436870077696080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=1727436870077696080&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1727436870077696080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1727436870077696080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/karma-does-exist.html' title='Karma&lt;em&gt; does&lt;/em&gt; Exist'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-5618685624549698384</id><published>2007-11-23T06:15:00.000+07:00</published><updated>2007-11-23T06:21:44.397+07:00</updated><title type='text'>Bohong yang bilang menulis itu mengasyikkan !</title><content type='html'>Menulis itu mengasyikkan !....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa orang yang berani-beraninya bilang seperti itu”, begitu pikirku tadi malam ketika otak ini terasa sangat penat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir sebulan ini, aku harus “memaksakan” diri untuk menulis setiap harinya karena tuntutan pekerjaan.  Kehabisan ide, bingung mau apa lagi yang harus dituliskan, sampe pengen muntah ngeliatin tulisan di buku-buku referensi, dengan terseok-seok aku jalani hampir 30 hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin menulis akan mengasyikkan kalau kita hanya sekedar “menulis”. Tidak ada satu apapun beban yang menggantungi kita. Mungkin menulis akan mengasyikkan kalau kita menulis karena kita sedang “suka”, sedang mood, sedang happy, sedang pengen nulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, menulis itu mengasyikkan ?... Mmmmhhh tidak sepenuhnya benar !..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sebulan ini mau tidak mau aku harus “memaksa” keluar apapun yang ada dalam otakku. Maka aku tidak pernah percaya bahwa seorang penulis itu tidak harus membaca. Bahwa menulis itu hanya sekedar angan-angan dan khayalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis butuh energi, butuh suntikan informasi.  Dan semua itu tidak akan dapatkan kalau seorang penulis hanya berkutat sendiri dengan pikirannya. Kalaupun bukan seorang pembaca buku, pastilah seorang penulis adalah seorang pembelajar yang baik. Dia pasti selalu mengamati kondisi dan keadaan di sekelilingnya dengan “mata” yang berbeda dari orang kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis itu harus cerdas ternyata !.... Apa jadinya kalau sebuah teko terus-terusan menuangkan airnya sedangkan tidak ada sama sekali yang mengisinya kembali ? Seorang penulis haruslah seorang yang selalu meng-update dirinya. Bukan hanya mengupdate dirinya dengan hal-hal yang berkaitan dengan tulisannya, tapi juga harus mengupdate dirinya dengan segala informasi yang berseliweran saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menulis akan (menjadi) mengasyikkan”, kalau kita menyadari bahwa menulis sebenarnya adalah sebuah proses. Menulis akan mengasyikkan kalau kita punya tujuan yang jelas “ Untuk apa saya menulis ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu bahwa aku dilahirkan untuk berbagi sesuatu kepada orang lain lewat pekerjaanku”, begitu kata redaktur seniorku pekan kemarin. Yah, tujuan !. Kita harus punya tujuan besar untuk”menstimulus” syaraf-syaraf menulis kita. Menulis tanpa tujuan, menulis hanya dengan mengandalkan insting dan mood, pasti tidak akan bertahan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis pun butuh kehadiran hati di dalamnya. Menulis akan jadi mengasyikkan kalau kita menulisnya dengan hati. Menulis dengan hati berarti kita seakan berada di posisi pembaca kita. Kita selami bagaimana maunya pembaca. Menulis bukan hanya “egois” berbagi ide sendiri tanpa mengindahkan orang lain. Tapi menulis adalah berbagi ide, menulis adalah berusaha untuk “menyenangkan” kebutuhan orang lain, menulis adalah berusaha untuk “memenuhi” kebutuhan pembaca kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak heran, kita akan begitu terhanyut ketika membaca sebuah tulisan. Yah, karena kita merasa sudah “terpenuhi” oleh tulisan itu. Terpenuhi hasrat kita, terpenuhi keingintahuan kita dan terpenuhi “pertanyaan-pertanyaan” kita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis akan jadi sebuah ekstase buat penulisnya kalau kita tahu tujuan kita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo, kita "paksa" diri kita untuk menulis mulai hari ini !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-5618685624549698384?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/5618685624549698384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=5618685624549698384&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/5618685624549698384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/5618685624549698384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/bohong-menulis-itu-mengasyikkan.html' title='Bohong yang bilang menulis itu mengasyikkan !'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-8225891452989153438</id><published>2007-11-20T05:28:00.001+07:00</published><updated>2007-11-20T05:36:49.989+07:00</updated><title type='text'>Mencintai-mu</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R0IOYjpfzDI/AAAAAAAAADw/1fGfRKaKbpE/s1600-h/b2w.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R0IOYjpfzDI/AAAAAAAAADw/1fGfRKaKbpE/s320/b2w.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134682340204727346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;(ayah di paling kanan)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU INGIN&lt;br /&gt;by: Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;Dengan kata yang tak sempat diucapkan&lt;br /&gt;kayu kepada api yang menjadikannya abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan&lt;br /&gt;awan kepada hujan yang menjadikannya tiada&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-8225891452989153438?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/8225891452989153438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=8225891452989153438&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8225891452989153438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8225891452989153438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/mencintai-mu.html' title='Mencintai-mu'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/R0IOYjpfzDI/AAAAAAAAADw/1fGfRKaKbpE/s72-c/b2w.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-2209591428456184091</id><published>2007-11-15T06:31:00.000+07:00</published><updated>2007-11-15T06:45:40.956+07:00</updated><title type='text'>Kita -Perempuan- dan Uang (kisah 2)</title><content type='html'>Ketertarikanku pada hubungan antara uang dan perempuan merupakan suatu kebetulan. Sekian banyak blogwalking di sela-sela kesibukanku, sekian banyak membaca cerita hari-hari teman2 maya, sekian banyak mengobrol dengan para teman perempuan, membuat aku mengambil kesimpulan bahwa “berbagai macam perempuan berarti berbagai sudut pandang juga tentang uang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang teman, siang itu di toko nya  di sebuah mall di kawasan Taman Mini dia bercerita padaku bahwa sudah sejak 3 tahun dia begitu terobsesi mempunyai usaha sendiri. Saat ini dia sedang giat-giatnya mengurusi toko pertamanya. Dulu dia adalah seorang pekerja kantoran, mempunyai gaji tetap dan tunjangan kesehatan sendiri. “Suamiku hampir tidak pernah tahu untuk apa saja uang gajiku aku pergunakan. Aku bebas, Va. Aku bisa menabung, aku bisa belanja ini-itu, bisa menyenangkan anak ku dengan keinginannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat perempuan ini uang berarti ”kebebasan”. Kalau perempuan teman ku yang lalu menganggap uang adalah berarti “rasa aman”, maka pada aspek “uang adalah kebebasan” inilah aku menyadari sangat berartinya uang buat seseorang. Dia bercerita bahwa dengan memiliki uang sendiri mempunyai arti yang lebih luas bagi seorang perempuan. Ini sekaligus menunjukkan keberdayaan perempuan dan kemandirian perempuan.“Gak hanya dengan bekerja kita bisa mencari uang, Va..Bisa dengan berwiraswasta sepertiku sekarang”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar aku pandangi sekeliling tokonya. Mmmh..toko yang cukup manis dengan berbagai produk keperluan rumah tangga bergantungan disana-sini. “Emang sih hasil tokoku sekarang belum menyamai gajiku dulu. Tapi setidaknya sekarang aku bebas menentukan mau seberapa banyak uang yang aku hasilkan”. Dia menjaga toko ini sendiri mengelolanya sendiri, yah seperti yang dia katakan dia benar-benar “bebas” sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebebasan” hal yang semu sebenarnya. Tapi banyak orang menganggap bahwa “bebas” berarti dia bisa menentukan nasibnya sendiri, bahwa “bebas” berarti dia bisa menentukan mau nya sendiri. Dan seringkali orang mengaitkan “bebas” dengan “uang”. Menghasilkan uang berarti Mandiri, menghasilkan uang berarti Berdaya. Menghasilkan uang berarti Bebas. Itulah anggapan umum orang saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke temanku tadi, aku melihat benar-benar sudah bebas dia sekarang. Baginya keputusan nya untuk berhenti kerja tidak mengubah apapun dalam dirinya. Toh saat ini dia masih “mandiri” dan “berdaya”. Toh saat ini dia masih bisa menghasilkan uang. Dia masih bebas sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya pada seorang laki-laki, uang dan pekerjaan memang memegang peranan penting dalam kehidupan. Berapa banyak seorang laki-laki merasa depresi karena tidak mempunyai pekerjaan tetap atau tidak mempunyai penghasilan tetap. Tapi seperti dua mata koin yang berbeda, banyak juga laki-laki yang melepaskan pekerjaannya dengan alasan bosan, tidak menikmati pekerjaannya karena tujuannya hanya mencari uang, ingin bebas menentukan nasibnya sendiri dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan untuk bebas yang hanya berdasarkan uang ternyata sering tidak bertahan lama. Seharusnya “bebas” ya berarti “bebas”. Tidak ada yang membatasinya baik itu uang, rasa bosan ataupun segala hal yang berbau fisik. Tidak berarti perempuan pekerja kantoran tidak “bebas” dalam hidupnya. Tidak berarti juga seorang ibu rumah tangga juga “bebas” dalam hidupnya. Tidak berarti juga perempuan pengusaha bisa “bebas” dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bebas” seharusnya lebih mendengar kata hati, menjalani apa yang kita senangi dan menjalani hari-hari dengan keikhlasan. Ada yang mau komentar ?....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-2209591428456184091?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/2209591428456184091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=2209591428456184091&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2209591428456184091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2209591428456184091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/kita-perempuan-dan-uang-kisah-2.html' title='Kita -Perempuan- dan Uang (kisah 2)'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-5519558162232480331</id><published>2007-11-14T05:35:00.000+07:00</published><updated>2007-11-14T05:48:35.118+07:00</updated><title type='text'>Si Kecil Mungil Shabrina</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RzopolW29QI/AAAAAAAAADo/6vIa_OHwQfs/s1600-h/DSC_0209.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RzopolW29QI/AAAAAAAAADo/6vIa_OHwQfs/s320/DSC_0209.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132460502541595906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kata orang Brina anakku adalah jiplakan langsung dari ayah nya waktu kecil dulu. Kurus tinggi dan susah makan. Persis seperti ayahnya Brina juga seperti kutu loncat. Hampir tidak mau diam, kerjaannya lari kesana loncat kesini. Seakan energinya selalu tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang juga, sifat dan tingkah laku Brina persis dengan ku waktu kecil dulu. Agak penakut kalo di depan orang baru tapi selalu berani mengatakan yang ada dalam pikirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memang buah hati kami. Perpaduan sempurna dari kami. Buah cinta kami...Alhamdulillah !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-5519558162232480331?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/5519558162232480331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=5519558162232480331&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/5519558162232480331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/5519558162232480331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/si-kecil-mungil-shabrina.html' title='Si Kecil Mungil Shabrina'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RzopolW29QI/AAAAAAAAADo/6vIa_OHwQfs/s72-c/DSC_0209.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-3327995381023824999</id><published>2007-11-13T06:23:00.000+07:00</published><updated>2007-11-13T06:29:27.619+07:00</updated><title type='text'>Kita -Perempuan- dan Uang (kisah 1)</title><content type='html'>Banyak hal yang melatarbelakangi pendapat seorang perempuan terhadap uang. Banyak juga hal yang membuat seorang perempuan berbeda dengan perempuan lain dalam hal menyikapi uang. Banyak hal yang membuat seorang perempuan berubah cara pandangnya terhadap uang. Begitu pula tidak ada yang salah dengan perbedaan-perbedaan itu. Tapi yang mana yang cocok buat kita dan apa yang seharusnya kita lakukan terhadap uang, itulah yang penting !...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang teman yang juga seorang ibu Stay at Home. Kesehariannya hanya mengurusi rumah tangga dan anak-anaknya. Sekilas tampak dia sepertinya tidak terlalu peduli dengan hal yang bernama “uang”. Dia menerima semua gaji yang diberikan suaminya setiap bulan dengan hati yang lapang dan ikhlas, setidaknya begitulah pengakuannya. Dia juga berusaha untuk selalu mencukupi seluruh keperluan rumah tangganya dengan hasil keringat suaminya itu. Bahkan tanpa sepengetahuan suaminya, sedikit demi sedikit dia mencoba menyisihkan gaji suaminya untuk menabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah yang namanya uang, Va, tidak kata cukup didalamnya”, katanya mengawali obrolan panjang kami. “Banyak pengorbanan yang harus aku bayar kalo aku bekerja. Anak-anak ku yang mau tidak mau harus dirawat orang lain, ya rumah tanggaku, ya waktuku, ya tingkat stressku. Terlalu banyak yang harus aku bayar,Va”, katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman ini begitu menarik bagiku. Karena walau “sepertinya” dia tampak bahagia dan puas dengan hidupnya saat ini tapi dari bahasa tubuh dan tatapan matanya aku bisa melihat ada sesuatu yang mau dia ungkapkan. Aku menohoknya langsung dengan pertanyaan “Apa arti uang bagi kamu sendiri?. Apakah kamu merasa sudah memiliki dirimu sendiri dengan keadaan seperti saat ini ?“. Dia seakan terkejut mendengar pertanyaan ku. Teman ini memang terlihat bahagia, tapi bukan itu yang aku ingin tanyakan. Bukan tentang orang lain, bukan tentang  anak-anaknya, bukan tentang suaminya, bukan juga tentang keluarganya. Aku hanya ingin bertanya tentang DIRINYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya meluncurlah cerita dari mulutnya. Betapa dulu dia selalu melihat ibunya harus bekerja keras mencukupi nafkah keluarganya karena perceraian dengan ayahnya. “Aku selalu melihat dia terus terlihat begitu lelah,Va. Seakan ibu berlari melewati lingkaran tiada berujung setiap harinya. Kerja, kerja dan kerja..Begitu terus setiap harinya” katanya. “Aku tidak mau seperti itu,Va. Arti seorang perempuan adalah pada keluarganya adalah pada rumah tangganya. Seorang perempuan itu memang seharusnya berada di dalam rumah. Dia tidak cocok ada diluar rumah untuk bekerja dengan segala intrik dan sikutannya. Itu pelajaran yang bisa aku ambil dari ibuku” lanjutnya. “Senang rasanya seperti ini. Ada yang mengurusiku, ada yang bertanggung jawab kepadaku terhadap uang. Aku dan suami berbagi tugas dalam rumah tangga kami. Ini impianku sejak dulu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naif tampaknya..Tapi itulah yang terjadi. Perasaan ada yang mengurus semua keperluan kita. Perasaan bahwa ada seseorang yang ikut bertanggung jawab terhadap hidup kita. Perasaan terjamin dan aman. Bagi temanku, perasaan aman ini adalah berarti berbagi tugas dengan sang suami. Dia bekerja mencari nafkah diluar sedangkan temanku mengurusi rumah tangganya di rumah. Pengalamannya melihat bagaimana ibunya jungkir balik sedemikian rupa bekerja siang malam ternyata menorehkan bekas yang dalam dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi temanku itu, uang berarti keamanan keterjaminan dimana dia bisa menumpukan tanggung jawab itu kepada orang lain yaitu suaminya. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Itu hanyalah pengalaman yang melatarbelakangi jalan hidupnya. Benarkah harus ada yang bertanggung jawab terhadap hidup seorang perempuan ?.. Dalam Islam, seorang perempuan yang masih gadis adalah tanggung jawab keluarganya, sedangkan buat seorang perempuan yang beristri, tanggung jawab itu berpindah kepada suaminya. Sedangkan bagi seorang perempuan yang janda, tanggung jawab itu berpindah lagi ke keluarga dan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah hal ini juga berlaku dalam hal uang ? Benarkah seorang perempuan bisa mengandalkan orang lain dalam hal uang ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-3327995381023824999?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/3327995381023824999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=3327995381023824999&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3327995381023824999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3327995381023824999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/kita-perempuan-dan-uang-kisah-1.html' title='Kita -Perempuan- dan Uang (kisah 1)'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-79188397136317866</id><published>2007-11-12T08:20:00.000+07:00</published><updated>2007-11-13T05:15:41.917+07:00</updated><title type='text'>Menyalahkan yang Lain ... Apa Gak Capek ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RzjQeVW29PI/AAAAAAAAADg/7tFsrvBkn04/s1600-h/Bicycle+for+Earth+goes+to+Bali_hires.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RzjQeVW29PI/AAAAAAAAADg/7tFsrvBkn04/s320/Bicycle+for+Earth+goes+to+Bali_hires.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132080994936354034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas &lt;a href="http://www.b2w-indonesia.or.id"&gt;Bike to Work (B2W)&lt;/a&gt; mengadakan kampanye tentang PERUBAHAN IKLIM GLOBAL bekerjasama dengan kementerian KLH dalam rangka menyambut konferensi Internasional yang diselenggarakan oleh PBB (UNFCCC) yang diselenggarakan di Nusa Dua Bali 3-14 Desember 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye oleh B2W berupa bersepeda dari Jakarta-Bali yang diikuti oleh 15 orang tim inti dari B2W Jakarta dan akan disambut oleh anggota B2W di tiap kota yang dilewati.Kampanye ini dilepas oleh presiden SBY beserta istri dengan ikut menaiki sepeda tandem lengkap dengan perlengkapan bersepedanya. Lihat berita lengkapnya di &lt;a href="http://foto.detik.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/11/time/113346/idnews/850962/idkanal/157/id/4"&gt;sini&lt;/a&gt; !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca bagaimana perjuangan para pekerja bersepeda ini dalam memberikan 'secuil' sumbangsih untuk kelangsungan hidup bumi ini benar-benar sangat kontras dibandingkan dengan event kemarin. Perjuangan mereka menjadikan sepeda memasyarakat, perjuangan mereka menembus belantara hutan rimba lalu lintas ibukota setiap hari, serasa terbayar saat itu. Pengakuan dari pemerintah bahwa sepeda juga bisa dijadikan alternatif transportasi yang murah, ramah lingkungan dan sehat, untuk ke kantor benar-benar membuat hati ini sumringah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kebanyakan orang, walau, dilanda kemacetan parah yang menghabiskan waktu sia-sia selama berjam-jam, hanya omelan gerutuan dan makian saja yang bisa dikeluarkan. Tidak banyak orang yang mau dan berani untuk keluar dari situasi yang stagnan itu. Kebanyakan orang cuma bisa menyalahkan 'orang lain', menyalahkan mobil di depannya yang dianggap berjalan lambat, menyalahkan lampu merah yang lambat berpindah ke hijau, menyalahkan proyek busway, menyalahkan metromini yang mogok melintang di tengah jalan dan sebagainya dan sebagainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa tidak capek menyalahkan orang lain ? Kenapa bukan diri sendiri yang ditanya "Bagaimana caranya saya bisa merubah keadaan ini ?. Benarkah saya tidak bisa merubah keadaan ini ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo, kita berubah sekarang... Kalo bukan kita siapa lagi ?..Kalo bukan sekarang kapan lagi ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-79188397136317866?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/79188397136317866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=79188397136317866&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/79188397136317866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/79188397136317866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/menyalahkan-yang-lain-apa-gak-capek.html' title='Menyalahkan yang Lain ... Apa Gak Capek ?'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RzjQeVW29PI/AAAAAAAAADg/7tFsrvBkn04/s72-c/Bicycle+for+Earth+goes+to+Bali_hires.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-3146377538166897960</id><published>2007-11-07T13:11:00.001+07:00</published><updated>2007-11-07T13:33:26.348+07:00</updated><title type='text'>Jangan Mati Gaya !</title><content type='html'>“Mati gaya deh lu, bahaya tau !”,ucapan spontan ini terlontar dari mulut seorang ABG yang melintas di depanku tadi pagi…. Cara si ABG mengucapkan kalimat itu dan bagaimana dia mengekspresikannya lewat mimik mukanya benar-benar membuat ku terhenyak…. Benarkah yang namanya “berhenti di tempat” itu berbahaya ? …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kenyamanan, prestasi dan achievement yang kita sudah capai selama ini menyebabkan kita merasa terlena dengan yang namanya perubahan. Banyak orang yang cukup dan merasa puas bila sudah menjadi “jagoan” di kandang sendiri, tanpa berfikir untuk mulai “menggeser” posisinya keluar dari kandangnya. Banyak orang yang sudah merasa puas dengan kondisi kehidupannya selama ini tanpa merasa perlu untuk memikirkan inovasi baru yang seharusnya dia lakukan untuk mengembangkan dirinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah sebuah perubahan itu mahal harganya?... Benar. Inilah yang aku alami ketika mulai sedikit demi sedikit merambah bisnis online. Sebuah model bisnis dimana aku merasa buta didalamnya. Apa bisa ya berdagang tanpa bertatap muka?...Mungkinkah orang percaya pada ku?...Bagaimana caranya berpromosi yang efektif di dunia maya ini?... Begitu banyak pertanyaan dan ketakutan yang membayangi langkah ku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga yang aku rasakan ketika baru-baru ini datang sebuah tawaran pekerjaan part time sebagai tim editor sebuah web terkenal yang berasal dari rekomendasi seorang teman. Bisa gak ya aku bekerja dibawah pengawasan orang lain ?. Apa bisa setiap hari aku menulis, mengubah bahasa majalah ke bahasa web, mengubah sudut pandang sebuah tulisan sehingga lebih enak dibaca dan seterusnya ...dan seterusnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan memang memerlukan sedikit "paksaan" ketika pertama kali melakukannya. "PW" atau Posisi Wuenaaak memang menggoda dan segan untuk ditinggalkan. Tapi apakah memang yang namanya manusia itu berat untuk berubah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akui aku adalah seorang yang sangat terpola hidupnya. Bangun tidur jam segini, makan pagi jam segini, masak jam segini, selalu begitu setiap hari. Dan sepertinya aku tidak bosan melakukannya.. Sungguh !.. Aku sudah cukup puas dengan kehidupan ku sekarang. Aku rasa aku sudah cukup bahagia. Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapiiii....akhir-akhir ini aku hanya sedang berandai-andai dengan masa depan. Seandainya tahun depan Brina sudah mulai masuk SD, sudah sibuk sendiri dengan teman dan aktivitas sekolahnya dll. Apa yang harus aku lakukan untuk mengisi waktu luangku di rumah ? pikiran ini yang terus-terusan mengusikku sejak bulan lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasak-kusuk mencari kegiatan baru pengisi waktu luang ini ternyata tidak mudah. Belum ada satupun kegiatan yang sepertinya benar-benar sreg dihatiku. Memperbesar bisnisku mungkin itu yang harus aku lakukan, begitu pikirku. Tapi alangkah enaknya kalau aku bisa mendapat sebuah kegiatan lain yang sama sekali berbeda dengan keseharianku selama ini. Sampai akhirnya datang sebuah tawaran pekerjaan part time yang sangat menantang jiwa menulisku. Bukan uang yang kucari dari pekerjaan ini, hanya sedikit variasi dalam hidup itu saja !..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempunyai kegiatan baru berarti mengharuskan aku berubah, mengharuskan aku bergeser dari pola hidupku yang sekian lama sudah aku jalani. Sanggupkah aku ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Alloh .. Doain ya !...:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-3146377538166897960?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/3146377538166897960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=3146377538166897960&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3146377538166897960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3146377538166897960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/jangan-mati-gaya.html' title='Jangan Mati Gaya !'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-194591345850694545</id><published>2007-11-07T07:56:00.000+07:00</published><updated>2007-11-07T08:21:22.677+07:00</updated><title type='text'>Pelangi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RzEOcMMKLBI/AAAAAAAAADY/JWlqLRkH_B0/s1600-h/HPIM0004.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RzEOcMMKLBI/AAAAAAAAADY/JWlqLRkH_B0/s320/HPIM0004.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129897328023055378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemaren sore sehabis hujan, duh disaat kabut tipis mulai turun pelan-pelan, di atas kerimbunan pohon petai cina kesayanganku muncul segurat warna. Pelangi !... Ya Alloh indahnya !... Subhanallah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat-cepat aku mengambil kamera dan mengabadikan momen indah itu.Jadi inget dulu, waktu masih tinggal di Rawamangun. Belum pernah sekalipun aku melihat pelangi sesudah hujan. Apalagi menikmati dinginnya kabut yang perlahan turun. Andai langit Jakarta tidak abu-abu oleh asap kendaraan, andaikan saja masih banyak pohon di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng sambil memandangi pelangi diatas sana, aku "bertanya" kepada Mr.Google tentang pohon, kutemukan sebuah gerakan yang dilakukan oleh Fakultas Kehutanan IPB bekerjasama dengan Dompet Dhuafa yaitu "Gerakan Wakaf Pohon Produktif" ditujukan untuk kelestarian lingkungan dan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini mempunyai tujuan mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa wakaf yang merupakan bentuk shadaqah jariyah dapat digunakan untuk kepentingan konservasi lingkungan yang dapat menyelamatkan lingkungan dan masyarakat dari musibah. Dan pemilihan pohon produktif sekaligus dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi website milik Fakultas Kehutanan IPB ini di link http://dkmfahutan.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuk, kita menanam pohon dimana-mana. Satu orang satu pohon saja.. Niscaya bumi ini akan hijau kembali .... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak susah kan ?!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-194591345850694545?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/194591345850694545/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=194591345850694545&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/194591345850694545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/194591345850694545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/pelangi.html' title='Pelangi'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RzEOcMMKLBI/AAAAAAAAADY/JWlqLRkH_B0/s72-c/HPIM0004.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-1423629444801159361</id><published>2007-11-02T05:26:00.000+07:00</published><updated>2007-11-02T05:50:48.777+07:00</updated><title type='text'>Kenapa kamu nge-Blog ?</title><content type='html'>Ini adalah pertanyaan seorang teman (yang merupakan wartawan senior sebuah koran nasional) yang baru saja membuka blogku kemarin malam. Sempat-sempatnya dia menelepon dan menanyakan pertanyaan ini hampir pada jam tidurku.. *#sigh*###&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mau gak mau, aku sempat termenung untuk menjawab pertanyaannya. Iya ya bener juga.. "Kenapa aku nge-blog ?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nge-blog bukannya seperti menulis diary yang hanya kita konsumsi sendiri. Blog kita akan dibaca oleh puluhan bahkan ratusan orang tiap harinya. Gak nyombong ya, blog abal-abal ku ini ternyata dibaca hampir 100 orang setiap harinya di bulan Oktober kemaren..Duh, padahal isinya amat remeh temeh ya, padahal yang aku tulis hanyalah sepenggal kisah hidupku yang miskin pengalaman.. Bisakah puluhan orang yang mengunjungi blog ku setiap hari mengambil hikmah, pelajaran dari isi blog ku ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pertanyaan yang cukup mengganggu ku. Kalo memang aku tidak bisa memberikan sesuatu kepada para pembaca blogku, buat apa aku publikasikan tulisan ku ?. Bukan kah itu jadinya terlihat hanya seperti sekedar narcis saja ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nge-blog itu ya memang harus narcis, Va" itu lagi pernyataannya. Tambah bikin pusing aja ini orang. Apakah iya "ke-narcis-an" kita bisa berguna buat orang lain ? Apa iya sisi narcisku di blog ini berguna buat pembaca blogku ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar aku buka satu persatu postingan tulisan di blogku sejak awal aku nge-blog beberapa bulan yang lalu. "Kalo kamu baca blogku, kamu dapat sesuatu gak ?" begitu tanyaku dengan gak nyambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara diujung telepon itu hanya ngakak sekeras-kerasnya sambil berkata "Bukan itu yang aku tanyakan, Va. Tapi buat apa kamu nge-blog ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi pertanyaan itu membuat aku merenung. Selama ini aku pikir nge-blog itu ya berbagi. Berbagi pengalaman hidupku, berbagi cerita-ceritaku hari demi hari. Yang dengan berbagi cerita dan kisah itu, orang lain bisa lebih dekat mengenalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah yang aku bagi itu berguna buat orang lain ? Bisakah hari-hariku memberikan inspirasi buat orang lain ? Bisakah tulisanku memberi pengaruh buat pembaca blog ku ?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak ada yang salah dengan berbagi. Tapi benar seperti kata teman wartawanku itu. Bahwa berbagi pun harus punya konsep. Jangan asal berbagi, Jangan asal memberi. Memberi dan berbagi akan lebih berarti apabila apa yang kita berikan itu berguna dan punya manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan tadi malam benar-benar menyadarkanku bahwa konsumsi publik itu berbeda dengan konsumsi pribadi. Aku harus memanfaatkan semaksimal mungkin kemudahan ber-blog ria ini untuk menuliskan ide-ideku, untuk sedikit memberikan sesuatu kepada para pembaca blogku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tahu, aku bisa mengubah hidup seseorang lewat blogku, siapa tahu aku bisa memberikan kontribus buat kemajuan bangsa ini. Cita-cita yang terlalu muluk sebenarnya. Tapi yah siapa tahu kan ?!....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga aku bisa !...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-1423629444801159361?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/1423629444801159361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=1423629444801159361&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1423629444801159361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1423629444801159361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/11/kenapa-kamu-nge-blog.html' title='Kenapa kamu nge-Blog ?'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-1333069785088334123</id><published>2007-11-01T06:26:00.000+07:00</published><updated>2007-11-01T06:50:26.298+07:00</updated><title type='text'>Pernah Bersepeda 70 km dalam Sehari ?</title><content type='html'>Aku pernah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lakukan ini berdua dengan pak Rais secara teratur sebulan sekali sejak 2 bulan yang lalu !.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusuri rute Gelora Bung Karno – Monas – Gelora Bung Karno - Kota Wisata ditempuh dari jam 7.00 – 13.30 WIB diselingi dengan istirahat beberapa kali, makan siang dan sholat Dzuhur…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana rasanya ?... Menakjubkan !..Karena tidak pernah mengira hal yang tidak terbayangkan sebelumnya ternyata bisa aku lakukan. Pagi-pagi kami berdua berangkat dengan menumpang taksi menuju Gelora, berangkat dengan hati dan niat yang mantap. Tekadku adalah jarak 70km harus berhasil aku lewati setelah sekian bulan “pemanasan” bersepeda 10km setiap harinya… Tidak ada rasa ragu ataupun sangsi hanya ucapan Bismillah mengiringi kayuhan pedal pertama pagi itu… Harus bisa !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bersepeda di jalan raya totally 180 derajat berbeda dengan bersepeda di dalam komplek perumahan. Tantangannya beda, sensasinya pun beda… Kilometer pertama aku tempuh dengan santai di jalur cepat Jl. Thamrin yang memang ditutup saat hari Minggu untuk berolahraga. Tidak ada halangan yang berarti di kilo-kilo pertama itu hanya tanjakan di Dukuh Atas melewati patung Jendral Sudirman yang membuatku agak terengah-engah..Tapi semuanya bisa aku atasi dengan baik… 35 kilometer pertama Gelora Bung Karno – Monas – Gelora Bung Karno berhasil aku lewati dengan mulus !... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh keciiil, jarak segitu kan hanya 3x lipat dari kegiatan rutinku bersepeda setiap hari, begitu pikiranku saat itu….. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini sih cuma nambah-nambahin keringet aja, Yah" kataku pada pak Rais yang tersenyum-senyum simpul di sampingku. Tentu saja bagi suamiku jarak 70 km hampir tanpa arti. Dia biasa ber-b2w 3 x seminggu (Kota Wisata - Rasuna Said pp) dan setiap dua kali sebulan bersama gengnya menjajal Kota Wisata - Jonggol (55km) dengan tanjakan-tanjakan mautnya yang panjang tanjakannya bisa mencapai 8 km .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35 kilometer kedua aku menyiapkan mentalku sedemikian rupa. Pak Rais sudah mewanti-wanti ku untuk meningkatkan kewaspadaan untuk etape kedua ini. “Jeng harus lebih waspada ya. Staminanya sudah mulai menurun”, begitu katanya mewanti-wanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, etape kedua ini benar-benar berat bagiku. Ternyata perjalanan menuju rumahku di Kota Wisata lebih banyak menanjak daripada saat etape pertama tadi...Fiuuuhh, tanjakan memang menantang. Setiap kali menanjak akan langsung kurasakan pedihnya otot pahaku menggenjot sepeda. Walaupun gear sepedaku sudah cukup canggih dengan 21 tingkat kecepatan untuk berbagai medan, tetap saja yang namanya otot paha bergetar hebat saat menggenjot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata banyak tekhnik bersepeda yang belum benar-benar aku kuasai. Bagaimana caranya menaiki tanjakan beraspal, tanjakan berbatu, menuruni jalan berbatu dan berlobang, Wawwww seakan aku baru saja belajar bersepeda saat itu. Terseok-seok mengikuti laju sepeda abu-abu suamiku yang selalu meninggalkanku hampir 1 kilometer di depan. Terengah-engah menaiki tanjakan di Jati Asih yang kemiringannya hampir 45 derajat dan berteriak kegirangan ketika menuruninya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh sensasinya..Dengan gampang aku bisa menyalip kendaraan bermotor di tanjakan berlubang. Sambil tersenyum aku bunyikan belku pada pengendara motor yang tertinggal di belakangku. Senangnya .... ! Dengan muka kecut juga aku tersenyum ketika di daerah Halim serombongan anak kecil bertepuk tangan untukku sambil berteriak "Misis misis, mampir dong...." hehehehe.. Ternyata kata suamiku dia pun sering diteriaki "Mister mister" di sana oleh rombongan anak-anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah berhasil mencapai rumah dengan selamat, tidak ada sama sekali rasa pegal di kaki. Yang ada hanya kepuasan dan kebanggaan bisa menaklukan jalan dan terutama menaklukan diri sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketagihan, itu pasti !... Mau jajal kemampuan ?....Yuk ikutan !...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-1333069785088334123?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/1333069785088334123/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=1333069785088334123&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1333069785088334123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1333069785088334123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/10/pernah-bersepeda-70-km-dalam-sehari.html' title='Pernah Bersepeda 70 km dalam Sehari ?'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-4694419329440419061</id><published>2007-10-30T06:40:00.001+07:00</published><updated>2007-10-30T07:04:31.712+07:00</updated><title type='text'>Kios Pertama Kami</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RyZ0JMMKLAI/AAAAAAAAADQ/0Vq94rDOKcw/s1600-h/birru_9.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RyZ0JMMKLAI/AAAAAAAAADQ/0Vq94rDOKcw/s320/birru_9.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126912927047756802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RyZwwcMKK_I/AAAAAAAAADI/p5AB-RI7elo/s1600-h/birru_8.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RyZwwcMKK_I/AAAAAAAAADI/p5AB-RI7elo/s320/birru_8.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126909203311111154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng mengobrak-abrik file foto lama. Ketemu dengan beberapa foto kios pertama kami yang kami dirikan tidak lama setelah menikah. Kios pertama itu punya banyak kenangan di dalamnya, karena di sanalah untuk pertama kali aku mempunyai bisnis sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat sekali, setiap sore jam 15 aku selalu datang ke sana untuk ikut menunggui kios walaupun sudah ada pegawaiku yang bertugas. Aku cuma pengen tahu bagaimana para pelangganku. Aku cuma pengen menyatu dengan bisnisku. Aku akan ikut menjaga kiosku sampai jam 21 sampai uang hasil transaksi hari itu terkumpul. Terkadang hasilnya banyak, terkadang hanya cukup untuk menutupi ongkos operasional hari itu. Berwarna sekali hidupku saat itu. Setiap hari aku jalani hal itu, terus menerus hari demi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melayani pelanggan adalah hal lain lagi. Benar-benar aku digembleng menjadi pedagang di sana. Hilang semua statusku sebagai seorang lulusan universitas terkenal di saat aku sedang menjaga kiosku. Yang ada hanyalah aku seorang pedagang yang harus melayani pelanggannya bagai raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku tidak pernah percaya bahwa kita bisa menjadi seorang pedagang tangguh hanya dengan membiarkan pegawai kita melakukan segalanya. Menjadi seorang pedagang berarti ikut terjun dalam usaha kita, ikut serta di dalamnya. Menjadi pedagang berarti ikut menjaga toko kita, ikut berada di dalamnya. Menjadi pedagang bukan hanya berarti "bersembunyi" di belakang meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari meja mu, tatap mata orang-orang dan tawari orang-orang barang daganganmu !...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-4694419329440419061?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/4694419329440419061/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=4694419329440419061&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4694419329440419061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4694419329440419061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/10/kios-pertama-kami.html' title='Kios Pertama Kami'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RyZ0JMMKLAI/AAAAAAAAADQ/0Vq94rDOKcw/s72-c/birru_9.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-1233048482372042</id><published>2007-10-30T05:49:00.000+07:00</published><updated>2007-10-30T06:38:55.014+07:00</updated><title type='text'>Yang Penting Hari Ini !</title><content type='html'>"Gitu aja kok repot !" begitu tanggapan saya kepada seorang teman yang tadi malam curhat berjam-jam mengenai kondisi keuangan rumah tangga dan bisnis nya..&lt;br /&gt;Sang teman tadi sempet agak ngambek mendengar respon "asal" dariku tapi ketika aku jelaskan pelan-pelan barulah dia mengerti maksudku yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita, manusia, memang sering banget disibukkan dengan tujuan-tujuan hidup yang seakan tiada habisnya. Udah punya mobil 1 mau tambah jadi 2, udah punya gaji 10 juta mau gaji 15 juta, udah punya rumah mungil yang cantik kayaknya masih kurang mentereng dan sebagai nya dan sebagainya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kecanduan tujuan", ini singkatnya. Seperti tak pernah cukup apapun yang sudah diraih hari ini. Belum mantap yang satu sudah melakukan yang lain. Belum lurus jalannya yang satu sudah ngejalanin yang lain. Semua ingin direngkuh dalam waktu singkat, semua ingin dipeluk dalam satu pelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah salah mempunyai tujuan atau target dalam menjalani sesuatu ?... Tidak ada yang salah dengan yang namanya target. Tapi target adalah sebuah proses, butuh waktu, butuh cucuran keringat dulu, butuh rasa bersyukur dulu. Kenapa seakan manusia begitu cepat ingin melakukan segala sesuatu ? Bukankah sesuatu itu akan manis pada waktunya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hidup di hari ini. Pikirkan saja dulu hari ini beserta rasa syukur yang harus kita lakukan karena nya. Bukan ! ini bukan seperti orang-orang yang menghabiskan uang hasil jerih payahnya hari ini dalam semalam. Tapi  "Yang Penting Hari Ini" membuat kita lebih jernih dalam menilai achievement yang telah kita lakukan saat ini pada detik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kecanduan Tujuan" membuat manusia seakan selalu dikejar-kejar oleh target. Dan target membuat kita seakan hidup dalam kerja tak berkesudahan. Bukankah memang hidup ini untuk bekerja ?... Benarkah ?.. Benarkah tidak ada hal lain yang lebih berharga dibandingkan uang ? Benarkah tidak ada yang lebih berharga dibandingkan materi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gitu aja kok repot" , begitu kalimat pertama yang keluar dari mulutku malam tadi mengomentari keluhan panjang sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo memang belum cukup untuk membeli rumah ya ngontrak aja dulu !.. Kalo memang belum cukup untuk memperbesar toko nya, ya jalani saja dulu apa yang ada !.. Kalo memang belum mampu menyekolahkan anak di sekolah terbaik, ya sekolah di sekolah yang biasa saja, tidak masalah !..Kalo memang belum bisa ya jangan dimulai !...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan uang jawaban semua masalah, bukanlah materi, bukanlah besar gaji yang diterima, bukanlah anak yang cum laude, bukanlah toko yang berjejer, bukanlah semua hal ini jawaban dari semua masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan sesungguhnya terletak di hati kita. Kepuasan itu ada di dalam hati kita. Kesuksesan juga sebenarnya ada di dalam hati kita. Kalo kita kaya raya dengan uang berlimpah, bisnis di sana sini tapi hati kita tidak tenang, kita tidak pernah bersyukur, kita tidak pernah berbagi kepada orang lain, apakah ini yang namanya sukses ?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa istimewanya uang ? Itu hanyalah alat tukar dalam jual beli. Apa istimewanya jejeran toko yang kita punyai ? Itu hanyalah status di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini hanya sementara...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-1233048482372042?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/1233048482372042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=1233048482372042&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1233048482372042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1233048482372042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/10/yang-penting-hari-ini.html' title='Yang Penting Hari Ini !'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-550499536090839341</id><published>2007-10-25T06:05:00.000+07:00</published><updated>2007-10-25T06:44:04.427+07:00</updated><title type='text'>Kapan Aku Merasa Sexy ?</title><content type='html'>Hihihihihi... Pertanyaan ini tiba-tiba saja keluar dari pikiranku saat sedang membaca sebuah buku tentang pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, udah lama banget rasanya pertanyaan model begini tidak pernah aku tanyakan kepada diriku. Padahal dulu semasa gadis, aku sering merasa sangat cantik setiap memakai baju berwarna marun. Kayaknya marun itu pas banget deh sama kepribadianku yang ceria tapi gak meledak-ledak. Kayaknya marun itu pas banget dengan warna kulitku. Pokoknya aku merasa cantik dan PD banget kala memakai baju berwarna marun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga pernah merasa sangat cantik saat aku memakai baju pernikahanku. Baju adat Palembang yang tertutup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Walaupun aku tidak melakukan perawatan yang "nganeh-nganeh" menjelang hari pernikahan, gak pake luluran berhari-hari, gak pake diet macem-macem, gak pake maskeran ini itu tapi sepertinya semua mata memandang penuh kekaguman kepadaku..hehehehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga pernah merasa sangat cantik dan bergairah di saat aku sedang menyusui Brina dan suamiku duduk di sampingku sambil memijat-mijat punggungku. Rasanya kok melayang melihat dua orang terkasih berada begitu dekat dariku. Sepertinya aku merasa sangat dibutuhkan, sangat dicintai saat itu... Itu bertahun-tahun yang lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang saudara sepupu juga pernah memujiku 2 tahun lalu. Bukan memujiku cantik atau sexy, dia bilang aku sangat "berbeda". Itu terjadi saat aku berhasil menurunkan berat badanku 20kiloan berkat diet nutrisiku. Entah apa maksudnya "berbeda", tapi yang kurasakan aku memang jadi orang yang berbeda saat itu. Aku merasa lebih fresh, lebih enjoy menikmati hidup dan lebih yakin aku bisa menjalani semuanya. Seperti kata Oprah Winfrey bahwa seorang perempuan bahkan bisa memindahkan gunung kalo dia berhasil menjalankan dietnya. Yah, karena ternyata berdiet itu sangat sulit. Bukan hanya soal makanan, tapi soal perubahan perilaku dan kemauan kita mau berubah. Ini yang membuat tidak semua orang bisa berhasil dalam dietnya. Banyak orang yang kelebihan berat badan tidak mau berdiet, karena dia takut/malas/tidak mau bergeser dari zona nyamannya. Tapi saat itu aku memilih untuk bergeser, aku memilih untuk berubah. Dan ternyata hasilnya aku menjadi orang yang "berbeda" bukan hanya dalam penampilan fisikku tapi juga dalam cara aku memandang hidup. It's worthed !...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sexy ? Wahhh kapan ya terakhir kali aku merasa sexy ?... Kata "sexy" sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiranku akhir-akhir ini. Kesannya erotis dan sepertinya rumah tangga kami tidak terlalu membutuhkan hal-hal yang erotis lagi sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama berpikir akhirnya aku mendapatkan beberapa "sexy time"-ku. Satu, saat aku sedang berkeringat sehabis berolahraga sepeda. Dengan kaos dan jilbab yang lepek oleh keringat dan nafas yang ngos-ngosan. Kedua, saat aku sedang berkumpul bersama sahabat-sahabatku, tertawa lepas bergosip ini-itu. Ketiga, saat suamiku mencium ku setiap dia baru pulang kantor, bau keringat bercampur parfumnya membuatku merasa diriku adalah perempuan yang paling cantik sedunia. Sepertinya itulah saat-saat aku merasa sebagai perempuan seutuhnya yang cantik dan sudah memiliki segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena "sexy" ternyata punya begitu banyak arti di dalamnya. Bukan cuma artian harfiah saja, tapi sexy juga bisa berarti seorang perempuan yang memiliki energi yang bisa mempengaruhi orang-orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan anda merasa sexy ?....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-550499536090839341?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/550499536090839341/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=550499536090839341&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/550499536090839341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/550499536090839341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/10/kapan-aku-merasa-sexy.html' title='Kapan Aku Merasa Sexy ?'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-7640039465493218220</id><published>2007-10-23T18:35:00.000+07:00</published><updated>2007-10-24T05:21:05.200+07:00</updated><title type='text'>Lirikan Mata</title><content type='html'>Percaya gak sih kalo yang namanya lirikan mata itu bisa "membunuh" seseorang ?....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku emang termasuk orang yang sensitif dengan bahasa tubuh lawan bicaraku. Karena yang namanya gak suka, suka, seneng, bosen, sebenarnya bisa terlihat LEBIH jelas dari bahasa tubuh seseorang dibandingkan dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama deh dengan kalo kita lagi berkomunikasi dengan bahasa tulisan. Misalnya di email atau di blog. Kalo kita gak pandai-pandai menata kalimat tulisan kita, maka orang lain bisa salah duga loh dengan maksud dan tujuan kita. Wong tujuannya memberi saran eh gara-gara bahasa tulisannya terlalu vulgar bisa dikira mengkritik. Beda jauh kan ya... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan kalo kita berhadapan langsung. Bahasa tubuh "mengkritik" dengan "memberi saran" akan sangat terlihat beda. Penekanan ucapan dan kalimat yang kita pakai pun bisa berbeda arti. Apalagi bila kalimat kita tadi disertai dengan senyuman sekaligus tepukan di bahu. Maka ucapan yang "mengkritik" bisa langsung berubah kesan menjadi "memberi saran".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu sih gak pernah terlalu percaya kalo yang namanya "lirikan mata itu bisa membunuh seseorang". Sampe pagi ini ketika baru saja menyelesaikan putaran kedua bersepedaku. Angka di cyclometerku sudah menunjukkan angka 9 km, yang berarti target 10 km/hari sebentar lagi tercapai. Tinggal mampir ke warung nasi uduk buat beli sarapan deh dan bisa langsung pulang ke rumah buat mandi. Alhamdulillah hari ini target 10km sudah tercapai lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil santai mengayuh sepeda, aku melamun mengingat-ingat lagi jadwal pertemuanku dengan para downline pekan ini. Siapa aja yang harus diundang, siapa aja yang kemaren udah diundang dll maklum udah hampir tanggal tutup point. Liburan panjang lebaran kemaren memang agak mengacaukan kerja team ku. Gak disangka lamunanku di kilometer terakhir tadi membuatku lengah saat sedang membelok di bundaran utama komplek kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ciittttt.. ", suara rem sebuah mobil sedan perak membangunkanku dari lamunan.&lt;br /&gt;"Astaghfirullah....", hanya itu kata yang terucap dari mulutku.&lt;br /&gt;Aku sempat terjatuh sedikit dari sepeda karena rem mendadak. Ya Alloh, untung gak terjadi apa-apa begitu pikirku ketika berdiri sambil membenahi sepedaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf Bu, saya yang salah" begitu ucapku kepada pengemudi sedan perak itu. &lt;br /&gt;Tak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Yang dia lakukan hanyalah melirikku dengan pandangan tajam sambil memperhatikan diriku dari atas ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, pandangan nya itu loh, lirikan matanya itu loh.... Bukan, itu bukan pandangan marah, bukan juga pandangan merendahkan, bukan juga pandangan menyalahkan. Entah apa arti pandangan mata nya itu padaku. Aku hanya merasa hatiku mendadak dingin dan beku ketika bertatapan mata dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah yang artinya pandangan mata "membunuh" ?. Di saat tidak ada kata yang terucap tapi hanya dengan bertatapan saja bisa membuat kita seketika tidak bisa berbuat apa-apa. Pandangan mata itu masih saja menghantui sepanjang perjalanan pulangku. Perutku terasa mual mengingat pandangan itu. Serasa seperti diaduk dan berputar di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngeri, cuma itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku. Kuputuskan segera pulang tanpa membeli sarapan dan mempercepat kayuhan sepedaku. Tidak lupa juga aku "tersenyum" kepada satpam kluster yang membukakan portal untukku. Aku tatap matanya, aku balas senyumannya dengan mataku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, kalo orang lain bisa "membunuh" dengan matanya, maka kita pun pasti bisa membuat orang lain senang dengan mata kita... Itu lebih baik kan ?!....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-7640039465493218220?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/7640039465493218220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=7640039465493218220&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7640039465493218220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7640039465493218220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/10/lirikan-mata.html' title='Lirikan Mata'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-6991639605777139174</id><published>2007-10-21T07:22:00.000+07:00</published><updated>2007-10-22T06:46:20.139+07:00</updated><title type='text'>Laundry Kiloan dan Nasi Uduk</title><content type='html'>Ada dua pemilik toko di Ruko komplekku yang sangat rame hari-hari belakangan ini. Yaitu penyedia jasa laundry kiloan dan penjual sarapan pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk laundry kiloan, aku sempet tergoda untuk memakai jasanya. Sekedar pengen tahu aja. Karena "si mba pulang hari" kami baru mulai masuk kerja pekan depan, iseng-iseng aku kumpulin cucian kotorku selama 5 hari dan terkumpullah 39 potong baju kotor dari berbagai jenis mulai dari 4 buah jeans sampai daster tidurku (tanpa pakaian dalam ya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ditimbang ternyata 39 potong pakaian itu beratnya cuma 8 kg... Biayanya untuk 5 kg paket reguler (selesai 5 hari) adalah Rp. 34.000 sedangkan 6 kg-8 kg nya dihargai Rp. 8000/kg nya. Cukup murah ya, biaya segitu sudah termasuk biaya cuci sekaligus setrika. Ada beberapa layanan di laudry kiloan itu. Untuk yang paket ekspress (selesai 1-2 hari) memang biayanya agak mahal yaitu Rp. 44.000/5 kg pertama dan selanjutnya Rp.10.000/kg nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali pakaian kotor tertumpuk di sana saat itu. "Omset kami naik sekitar 50% setiap menjelang Lebaran, begitu kata si Encik pemilik laundry. Dia juga mengatakan bahwa laundrynya ini hanya bermodal 5 mesin cuci dan 4 mesin pengering serta 8 orang pegawai untuk mengontrol cucian dan menyetrika. Biasanya pegawai untuk menyetrika ini dia gaji harian dari penduduk setempat komplek perumahan kami. Gajinya sekitar Rp. 12.000-Rp.20.000/hari, tergantung pengalaman yang mereka miliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk hari biasa diluar menjelang Lebaran biasanya si Encik cukup mempekerjakan 3 orang pegawai saja untuk mengontrol cucian dan menyetrika. Dan mereka adalah pegawai tetap, digaji bulanan bukan harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisnis begini gak ada matinya, Bu", kata si Encik kepadaku. "Paling kita hanya harus hati-hati sama cucian supaya tidak tertukar antar pelanggan. Kalo untuk baju-baju kebaya atau jas kami jarang menerimanya. Karena untuk baju-baju mahal kayak gitu, biasanya orang gak dateng ke laundry kiloan". Wah bener juga nih si Encik. Selain gak ada matinya, bisnis laundry kiloan ini juga nyaris tanpa resiko. Dalam artian, gak perlu banyak hal yang kita pelajari dalam membuka bisnis ini. Tapi ketika kutanyakan berapa lama balik modalnya, si Encik tidak bersedia menjawab, dia hanya nyengir lebar kearahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi pemilik toko yang menangguk untung adalah penjual sarapan pagi. Ada satu toko nasi uduk yang sehari-harinya berfungsi sebagai restoran. Cuma dalam waktu 3 jam habislah 150 kota nasi uduk/nasi kuning di sana. Mangkanya sejak jam 6 pagi, biasanya Rais sudah nongkrong di depan toko tadi ikut mengantri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya harga nasi uduk di toko itu cukup mahal. Dengan berlauk telur balado/telor dadar + bihun + orek tempe + abon  dihargai Rp.8500/kotaknya. Sedangkan untuk tambahan ayam goreng dihargai Rp.4000/potong, empal Rp.8000/potong dan gorengan seperti bakwan dan tempe,tahu dihargai Rp.1000/potong. Tapi mungkin karena orang bosen makan yang bersantan, harga segitu untuk variasi makanan yang lain dari biasanya tidak menjadi masalah. Ditambah lagi belum pulangnya para mba dari kampung masing-masing menjadikan orang cenderung tidak mau repot dengan urusan makan. Tinggal beli saja, lebih praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bisnis-bisnis seperti ini bisa dijadikan bisnis musiman buat kita. Bisa diawali dengan menerima cucian kiloan dari tetangga terdekat kita saja dulu dengan modal 1 mesin cuci atau membuka meja menjual sarapan di depan rumah kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pengen juga punya bisnis musiman menjelang lebaran nih.. Mungkin bukan laundry kiloan tapi mungkin tempat penitipan anak atau jasa membersihkan rumah. Yah, siapa tahu..hehehehe&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-6991639605777139174?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/6991639605777139174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=6991639605777139174&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6991639605777139174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6991639605777139174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/10/laundry-kiloan-dan-nasi-uduk.html' title='Laundry Kiloan dan Nasi Uduk'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-499168816733157507</id><published>2007-10-19T11:56:00.000+07:00</published><updated>2007-10-19T13:25:37.351+07:00</updated><title type='text'>SD buat Shabrina</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RxhEppoWigI/AAAAAAAAADA/5-ugG_EDahY/s1600-h/000_0077.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RxhEppoWigI/AAAAAAAAADA/5-ugG_EDahY/s400/000_0077.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5122920058474367490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emang sih masih bulan Oktober... Tahun ajaran baru memang baru akan dimulai bulan Juni tahun depan. Tapi entah kenapa ya, mungkin karena kebiasaan waktu Brina di Labschool dulu, yang waktu pendaftaran masuknya dimulai dari bulan November, setiap masuk bulan yang ada -ber dibelakangnya pasti otomatis aku dan suami akan ancang-ancang mencari-cari sekolah buat Brina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pilihan sebenarnya. Yaitu SD Islam Al Jannah di Pondok Ranggon (www.sekolah-aljannah.com) atau SD Islam Al Azhar 20 Cibubur (www.al-azhar.or.id). Kedua sekolah ini hanya berjarak sekitar 8 km dari rumah kami dan bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja kami memilih kedua SD ini karena kami melihat kurikulum dan fasilitas yang cukup baik buat sebuah institusi pendidikan dasar. "Gak ngasal", begitu deh istilahnya. Karena banyak sekolah yang asal aja namanya "sekolah" tapi tidak memahami bagaimana pendidikan yang baik untuk anak di setiap tahap usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, mosok anak usia Playgroup (2,5-3 tahun) udah disuruh duduk manis di bangku sambil memegang pensil.. Wah, Brina dulu di Playgroup Labschool gak ada tuh judulnya pegang crayon sekalipun dan belajar mengenal huruf/angka... Kegiatan sehari-harinya hanya bereksplorasi di setiap "sudut pembelajaran". Tidak ada satupun bangku dan meja di ruang kelas Playgroupnya waktu itu. Nyatanya saat ini di TK nya Brina termasuk anak pertama yang bisa membaca dan menulis sejak di TK A. Padahal tidak pernah sekalipun aku mengajarinya membaca dan menulis di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun memang kemampuannya membaca dan menulis Brina ini tidak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan, tapi tetap saja kita bisa mencermati bahwa yang namanya proses belajar pada seorang anak memang tidak bisa dilakukan sembarangan. Bukan asal sekolah, bukan asal mahal, apalagi bukan asal murah. Gak jaminan juga sih sekolah yang mahal itu bagus, apalagi pendapat "Gak papa deh sekolahin aja dulu di sekolah yang murah toh masih playgroup ini", wah ini pendapat yang lebih salah lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih sekolah anak itu gampang-gampang susah. Sekali lagi, bukan asal sekolah, bukan asal mahal apalagi bukan asal murah. Kita memilih sekolah anak kita berdasarkan "Apakah sekolah itu bisa memahami arti proses belajar mengajar. Apakah sekolah ini telah menerapkan kurikulum yang tepat buat usia anak kita". Ini yang penting. Gak peduli murah, gak peduli mahal tapi kalo anak umur 3 tahun sudah disuruh duduk manis di bangkunya dengan melipat tangannya di atas meja, mengerjakan selembar kertas tugas di depannya -padahal belum tentu di umur sekecil itu anak kita paham tujuan dari tugas yang harus dia kerjakan, padahal memegang pensil/crayon dengan benar pun anak kita belum sanggup melakukannya- maka sekolah ini sudah menerapkan paradigma belajar yang salah. Dan ini bukanlah sekolah yang "up to date" dalam kurikulumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TK Brina saat ini pun (TK An-Nahl, Kota Wisata) menerapkan kurikulum yang sangat "membebaskan" anak. Ruang kelasnya lapang tidak ada satupun meja dan bangku di dalamnya. Hanya ada rak mainan, rak-rak buku dan papan besar penuh tempelan hasil karya siswanya di sana. Setiap bulan kelas Brina akan berganti tema belajar. Misalnya bulan ini temanya tentang alat transportasi, maka seluruh kegiatan belajar akan terpusat pada tema itu, baik pelajaran "bermain peran"nya sampai "outing" nya. Bahkan hiasan kelas nya pun akan berubah disesuaikan dengan tema yang sedang dipelajari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagusnya lagi tidak ada pengkotak-kotakan antara pelajaran agama dengan pelajaran umum disana. Sambil belajar tentang transportasi, anak pun bisa belajar doa sebelum naik kendaraaan dll. Menyenangkan sekali !... Sama sekali tidak bikin bosan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana mau Brina disuruh untuk membolos walau hanya sehari saja. Walau sedang sakit sekalipun, Brina pasti berkeras untuk pergi bersekolah. Terkadang bikin sebel kita orang tuanya, masak lagi flu berat tetap berkeras minta sekolah. Setiap pagi pun tanpa disuruh, Brina akan langsung bangun tanpa harus dipaksa-paksa. Semangat sekali dia mandi dan sarapan sambil memakai baju seragamnya. Bagi aku dan suami, bersemangatnya Brina pergi ke sekolah ini adalah salah satu indikator bahwa sekolah tempat Brina belajar itu cocok dan tepat buatnya. "Sekolah itu menyenangkan", ini prinsip yang hendak aku tanamkan sejak dini pada Brina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tadi pagi saat aku dan Rais sedang ngobrol-ngobrol santai. Tercetus sebuah ide yang agak "nyerempet".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana kalo tahun depan Brina ikutan tes di SD IKIP, Jeng ?" begitu lontaran ide dari suamiku.&lt;br /&gt;"IKIP Rawamangun ?... Gak kejauhan tuh ? Ntar Brina kecapekan gimana ? " sahutku sambil lalu&lt;br /&gt;"Kan ada rumah neneknya di sana. Kalo dia capek tinggal nginep di rumah neneknya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, benar juga ya ide dari suamiku. Toh rumah mertuaku hanya berjarak 500 meter dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum tentu juga lulus Jeng" kata suamiku lagi. Benar juga sih, aku terbayang betapa ketatnya persaingan masuk SD unggulan itu.&lt;br /&gt;"Mau Brin, kamu sekolah di Rawamangun lagi bareng Ayyis, Aisyah, Raka ?" tanyaku pada Brina yang sedang duduk dipangkuanku sambil menyebutkan nama-nama teman sekelasnya dulu di Playgroup.&lt;br /&gt;"Mau Bunda...Maksud Bunda aku sekolah di Labschool lagi gitu?" tanya nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal aku yang bingung sendirian sekarang hehehehehe.... Masak SD aja harus ikut tes ?... Kuat gak Brina sekolah sejauh itu ?.. Siapa yang nganterin-jemputin dia sekolah ?.. Gimana dong ? mau sekolah di Cibubur atau di Rawamangun aja ?...hehehehe...Mungkin bulan November besok, aku akan ajak Brina "keliling-keliling" memilih sekolahnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar bagaimana pun dia yang akan sekolah. Bukan aku ataupun ayahnya. Jadi pilihan 100% ada di tangan si bidadari mungil itu ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-499168816733157507?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/499168816733157507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=499168816733157507&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/499168816733157507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/499168816733157507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/10/sd-buat-shabrina.html' title='SD buat Shabrina'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RxhEppoWigI/AAAAAAAAADA/5-ugG_EDahY/s72-c/000_0077.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-4632517043576803619</id><published>2007-10-17T07:21:00.000+07:00</published><updated>2007-10-17T07:42:38.655+07:00</updated><title type='text'>Silaturrahim</title><content type='html'>Dari Sabtu sampai Selasa kemaren tidak henti-hentinya aku, Rais dan Brina pergi berkeliling mengunjungi sanak saudara. Sebuah rutinitas yang membuat capek sebenarnya. Tapi sungguh, bertemu dengan saudara-saudara yang sudah setahun tidak bertemu, makan kue yang hampir mirip di setiap rumah (kastengel, nastar, putri salju), makan lauk yang juga hampir sama (rendang, malbi daging, opor) adalah sebuah sensasi yang tidak bisa dilukiskan indahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Rais yang tidak terbiasa berkeliling setiap Lebaran, ajakan ku untuk berkeliling setiap Lebaran ini benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling. "Abis ini kita mau kemana lagi sih Jeng?" begitu selalu tanyanya dengan cemberut setiap kali kami selesai mengunjungi satu rumah. Dan aku dengan tenangnya dengan selembar kertas "rencana perjalanan" di tangan memberitahukan tujuan kami selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehehee...Senang aja rasanya melihat dan menengok satu persatu sepupuku yang seabreg-abreg itu. Setiap tahun aku akan melihat "perubahan" kehidupan mereka. Ada yang tahun kemaren belum menikah, tahun ini sudah menikah dan mempunyai seorang bayi kecil. Ada lagi yang tahun kemaren masih seperti anak kecil, gak nyangka tahun ini sudah memperkenalkan pacarnya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan para uwak dan oom. Perubahan kesehatan mereka yang mulai menurun dari tahun ke tahun, perubahan kehidupan mereka, ada yang baru pensiun dan sedang hot-hotnya mengalami post power syndrome, ada yang toko kelontongnya tambah besar, ada lagi yang ternyata sudah lumpuh karena stroke, begitu banyak macam perubahan yang bisa kita lihat setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen silaturrahim setiap tahun seperti ini benar-benar tidak pernah aku lewatkan. Seperti papa dan mama dulu mengajari aku dan adik-adik saat kecil, Tidak masalah kalau kita sebagai yang lebih tua mengunjungi dan datang ke saudara yang lebih muda di hari Lebaran. Karena esensi silaturrahim adalah mempererat tali persaudaraan. Yah siapa tahu saudara kita yang lebih muda tadi tidak punya waktu untuk mengunjungi kita. Tidak ada salahnya kita yang punya kelebihan waktu mengunjungi mereka. Ini bukan masalah "siapa mengunjungi siapa", dalam silaturrahim tidak ada rumus seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersilaturrahim kita memperpanjang usia, itu saja keyakinanku sejak dulu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-4632517043576803619?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/4632517043576803619/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=4632517043576803619&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4632517043576803619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4632517043576803619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/10/silaturrahim.html' title='Silaturrahim'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-6732127911482019486</id><published>2007-10-09T08:02:00.000+07:00</published><updated>2007-10-09T09:43:35.816+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang keluarga-ku'/><title type='text'>Sesuatu yang (seharusnya) bisa dikendalikan</title><content type='html'>Menjelang lebaran gini, agak ngenes ngedenger orang-orang di sekitarku "mengeluh" tentang pembantu mereka yang mudik. Ada yang terpaksa menawarkan THR sebesar 3 bulan gaji supaya si mba gak pulang di lebaran, ada lagi yang pontang-panting ambil cuti demi kerjaan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangga sebelah rumah adalah seorang dokter kandungan dengan satu anak dan suami yang bekerja di Pekanbaru. Rencananya suaminya akan pulang hari ini dan berlebaran di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sih gak ambil pusing sama kerjaan rumah, Bu" begitu obrolan kami tadi pagi ketika tidak sengaja berpapasan diluar rumah. "Insya Alloh yang namanya kerjaan rumah ya mau dibikin berat ya berat, dibikin ringan ya ringan" kata tetanggaku sambil menyuapi anaknya. "Lagian Bu, semua ini bisa dikendalikan oleh saya sendiri. Mangkanya sejak dulu saya tidak mau bergantung pada pembantu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang dia adalah orang pertama yang mengatakan hal ini kepadaku. "Kendali", sebuah kata yang cukup mahal ternyata di zaman ini. Setelah sejak beberapa hari ini aku mendengarkan keluhan dari adik ku, dari mama ku, dari sahabat ku dan dari sepupu ku tentang keluhan mereka menghadapi lebaran tanpa si mbak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sejak lama aku memutuskan untuk memegang kendali untuk hal yang satu ini. Sejak menikah hampir 7 tahun yang lalu, kami hanya 1x mempunyai si mbak yang menginap dirumah itupun hanya bertugas menjaga Brina ketika aku masih harus bolak-balik kampus menjalani co-asst gelombang terakhirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku lulus dan total 100% di rumah, kami memutuskan untuk mengambil si mba yang pulang hari. "Rumah tangga si eva gaya bule", begitu kata papaku mengomentari prinsipku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, ada benarnya juga. Dulu sih aku cuma berpikir praktisnya saja. Capek aja rasanya harus "makan ati" sama si mbak yang gak cocok sama kita. Capek aja rasanya harus deg-degan menunggu kepulangan dia sesudah mudik. Capek aja rasanya harus sana-sini cari pengganti kalo kita gak cocok. Itu aja alasanku untuk mengambil si mbak pulang hari sebagai asistenku, tidak mau capek dengan ini-itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan si mbak yang pulang hari, sistem yang kita pakai adalah sistem pegawai saja. Dimana selama dia sedang bekerja, maka sikap profesional yang harus si mbak tunjukkan. Aku pun sebagai penggaji, juga tidak mau terlalu ikut terlibat dengan urusan-urusan pribadi dia. Jadi dia datang ke rumahku benar-benar hendak bekerja. That's all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada untung ruginya juga berasistenkan si mbak yang pulang hari. Aku dan suami tidak bisa bepergian seenak kami. Untuk bepergian harus dengan planning karena harus mengajak Brina turut serta. Tapi yang menurut orang lain ini adalah "batasan" malah menjadi sebuah "keuntungan" buat keluarga kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terbiasa merencanakan sesuatu dengan matang dan kami terbiasa untuk melihat sesuatu tidak berlebihan. Bukanlah sebuah persoalan besar, kalau memang tidak bisa mencari tempat tidur yang nyaman buat Brina selama perjalanan, misalnya. Atau bukan sebuah persoalan yang besar, bila aku tidak bisa bekerja di luar rumah seperti sebelum mempunyai Brina dulu. Kami sekeluarga terbiasa mentolerir hal-hal kecil dan beradaptasi dengan hal-hal yang buat orang lain menjadi "masalah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendali, itu kata yang tepat. Kami sekeluarga tidak ingin ada sesuatu hal -yang seharusnya bisa dikendalikan- malah menjadi penghambat bahkan menjadi masalah terbesar kami. Mungkin lebih baik energi itu kami pergunakan untuk memperhatikan perkembangan Brina anak kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan prinsip seperti itu, sampai sekarang aku hanya sempat 2x berganti si mbak. Yang pertama bekerja selama 4 tahun ketika kami masih tinggal di Rawamangun, dan yang kedua sekarang hampir 2 tahun bekerja dengan kami sejak kami sekeluarga pindah ke Kota Wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, itu kan kebetulan aja dapat mba yang bagus kerjanya, begitu pasti pendapat orang. Gak juga loh :) Kedua si mbak ini punya kekurangan masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RwrlEJoWifI/AAAAAAAAAC4/bkrSyOFSMgw/s1600-h/IMG_0225.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RwrlEJoWifI/AAAAAAAAAC4/bkrSyOFSMgw/s200/IMG_0225.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5119155785927395826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bahkan untuk si mbak yang di Rawamangun, aku butuh sekitar 1 bulan untuk beradaptasi dengan dia. Kerjanya yang mau nya buru-buru aja, benar-benar membuatku harus bersabar mengajari dia. Tapi ya itu tadi, karena kami sudah berkomitmen untuk tidak membesar-besarkan hal-hal kecil, kekurangan si mbak tadi bisa sedikit demi sedikit diperbaiki. Bahkan "Rumah eva kayak dijilat setan", begitu kata adikku mengomentari betapa bersihnya rumahku tanpa debu yang melekat hehehehehe....&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/Rwrki5oWieI/AAAAAAAAACw/G7aIk6zAdaU/s1600-h/100_0297.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/Rwrki5oWieI/AAAAAAAAACw/G7aIk6zAdaU/s200/100_0297.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5119155214696745442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Si mbak yang kedua nyaris tanpa kekurangan. Dia sudah berpengalaman bekerja di rumah tangga puluhan tahun. Tapi karena sudah berpengalaman itulah terkadang dia tidak menyimak permintaan ku. Ada saja tugas yang ketinggalan dia kerjakan. Hal ini juga perlahan-lahan mulai bisa diperbaiki dengan aku "memecah" tugas yang harus dia lakukan dalam point-point kecil. Jadi dia tidak bingung dan bisa mengerjakannya dengan runut. Mungkin karena sudah agak berumur ya si mbak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruginya yang lain dengan si mbak yang pulang hari adalah terbatasnya jam kerja mereka, karena biasanya di samping bekerja di rumah orang, mereka juga mempunyai tugas lain di rumah. Seperti si mbak Rawamangun yang harus segera membuka warung kecilnya sesudah bekerja dari rumahku. Sedangkan si mbak sekarang harus menjaga cucunya yang ditinggal orang tuanya bekerja. Si mbak pulang hari juga biasanya akan minta libur setiap hari Minggu. Terbatasnya jam kerja mereka ini membuat kami sekeluarga harus mandiri mengerjakan tugas rumah tangga. Seperti aku yang tetap harus menyapu rumah, mengepel dan mencuci baju setiap hari Minggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi biasanya rantang-rantang katering ku akan kembali setelah si mbak pulang. Sehingga harus aku sendiri yang mencuci dan merendam rantang-rantang itu setiap siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak mungkin dong, cuma gara-gara si mbak libur, maka setiap hari Minggu rumahku harus kotor dan cucian kotorku bertumpuk ?..hehehehe.. Biar bagaimana pun ini adalah rumah kami, keluarga kami, kami sekeluargalah yang paling bertanggung jawab terhadap keadaan kami. Bukan si mba, bukan siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, kalau pada umumnya orang lain sedang deg-degan menunggu si mbaknya pulang sesudah mudik, atau kalau pada umumnya orang lain sedang kerepotan mencari pengganti si mbak, maka Alhamdulillah, sudah lama keluarga kami bisa memegang kendali terhadap hal ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-6732127911482019486?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/6732127911482019486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=6732127911482019486&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6732127911482019486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6732127911482019486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/10/sesuatu-yang-bisa-dikendalikan.html' title='Sesuatu yang (seharusnya) bisa dikendalikan'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RwrlEJoWifI/AAAAAAAAAC4/bkrSyOFSMgw/s72-c/IMG_0225.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-6928264306098827868</id><published>2007-10-07T16:40:00.000+07:00</published><updated>2007-10-07T19:47:08.972+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang keluarga-ku'/><title type='text'>Bikin sebel, tapi cinta...</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RwivI5oWicI/AAAAAAAAACg/XgM81qDYqos/s1600-h/100_0276.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RwivI5oWicI/AAAAAAAAACg/XgM81qDYqos/s320/100_0276.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5118533543950453186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Ayah..tolongin jeng siramin taman ya... Tanggung nih bentar lagi mau maghrib, lagi godok sayuran", begitulah teriakan ku tadi sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih basah kok tanahnya, Jeng..Gak usah disiram lagi. Tadi pagi kan udah disiram tamannya" jawabnya sambil lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubrakkkkkssss... Asal banget sih jawabannya...Memang taman sudah kusiram jam 9 tadi pagi... Ayah asaaaallll, ini musim kemarau, bagaimana mungkin taman yang kusiram jam 9 pagi masih basah tanahnya di jam 5 sore ini. Ayah asaaalllll !...Jadilah sore itu sebelum berbuka puasa kutelan omelanku untuk aku keluarkan saat berbuka nanti hehehehehe.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/Rwiv5poWidI/AAAAAAAAACo/HCGRtbBfLQ0/s1600-h/100_0164.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/Rwiv5poWidI/AAAAAAAAACo/HCGRtbBfLQ0/s320/100_0164.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5118534381469075922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Brina.. Mandi ya nak. Udah jam 16 nih..", begitu teriakanku sore itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bentar Bun, masih jam 15.58" jawab gadis kecilku dari dalam kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubrakkkkssss...Sebel gak sih, apa sih bedanya 2 menit ? Agak menyesal juga aku ganti jam di kamarnya menjadi jam digital. Ternyata perbedaan 2 menit bisa sangat membuatku kesal hehehehehe....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm..orang-orang tercinta ini. Kadang bikin BT, kadang suka asal, kadang bikin sebel, tapi mereka berdua-lah orang-orang terdekatku saat ini. Bersama mereka berdua-lah aku menjalani hari demi hari. Dan berkat mereka berdua-lah hidupku sekarang jadi amat berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cinta keduanya. Aku sayang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya kadar kekesalan ku akan langsung mengerut ketika kutatap langsung kedua mata mereka, suami dan anak-ku... Tiada yang lebih berarti dari kehadiran mereka dalam hidupku. Kesal-sayang, BT-cinta adalah dua sisi mata uang yang selalu menyeimbangkan hidup ini. Dengan merasa kesal, maka kita akan menyayangi lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh itu adil. Alloh itu baik. DIA berikan kepada kita dua sisi perasaan yang bisa membuat netral satu sama lain...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cinta keduanya. Aku sayang mereka. &lt;br /&gt;Walau terkadang kesal, walau terkadang sebel, walau terkadang bikin marah, walau terkadang bikin BT.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-6928264306098827868?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/6928264306098827868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=6928264306098827868&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6928264306098827868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6928264306098827868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/10/bikin-sebellllll.html' title='Bikin sebel, tapi cinta...'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RwivI5oWicI/AAAAAAAAACg/XgM81qDYqos/s72-c/100_0276.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-2643615358742993634</id><published>2007-10-06T22:14:00.000+07:00</published><updated>2007-10-06T22:46:48.245+07:00</updated><title type='text'>Sang Pemilik dan Tokonya</title><content type='html'>Saat berbuka puasa beberapa jam yang lalu, kami sekeluarga pergi ke sebuah restoran Sunda yang baru saja dibuka beberapa bulan ini di Jalan Raya Cileungsi milik salah seorang kenalan. Ramai sekali keadaannya tadi. Tamu-tamu yang hendak berbuka memenuhi ruangan, dari 10 bilik lesehan dan 100 buah kursi yang tersedia, tidak ada lagi tempat yang tersisa. Berhubung aku adalah teman baik pemilik restoran, kami sekeluarga langsung diajak untuk makan di ruang serbaguna yang biasa disewakan untuk acara-acara ulang tahun, arisan dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyenangkan sekali memandangi ruangan makan restoran dari balik pintu kaca tadi. Para pelayan lalu lalang silih berganti melayani tamu. Tak ketinggalan juga kenalan kami -suami istri- juga ikut sibuk melayani tamu. Hebat, pikirku. Aku tahu bahwa kenalan ku ini memiliki modal yang besar dan kuat tapi tidak setiap pemilik bisnis mau setiap hari turun langsung melayani pelanggannya dengan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua adalah orang tua dari Madeline, teman sekelas Brina sewaktu masih di toddler class di Tumble Tots Kelapa Gading. Mereka adalah pengusaha makanan kawakan, merupakan pemilik sebuah brand makanan kecil yang terkenal di Jakarta ini. Dulu kami sempat putus hubungan. Kami sekeluarga tetap tinggal di Rawamangun, sedangkan kenalanku tadi memboyong keluarganya pindah ke Kota Wisata. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya kami bertemu lagi setelah aku dan keluarga pindah juga ke Kota Wisata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berasal dari Semarang keturunan Chinese, walaupun totally mengaku tidak mengerti bahasa Mandarin hehehehe... Tapi aku akui, mereka adalah pekerja keras. Dengan modal yang mereka miliki, mereka sangat lincah mencari peluang-peluang bisnis baru. Salah satunya restoran Sunda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang tidak seperti mereka, yang berpendapat "lebih baik memikirkan hal lain yang lebih penting". Menakjubkan melihat mereka berdua ikut mengangkat kursi, ikut mengambilkan minuman untuk para tamu diantara seliweran puluhan pegawainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang tidak seperti mereka yang menyangka bisnisnya akan berkembang walau tidak dengan campur tangannya secara langsung... Banyak orang merasa apa yang dia miliki sudah cukup besar, sehingga malas untuk terjun kebawah melayani pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di dalam toko kita. Merasakan auranya, menikmati situasi yang sedang rame pembeli, menikmati tidak ada satupun barang yang terjual hari itu, mendengarkan komplain dan pujian dari pembeli, adalah momen tak terlupakan buat seorang pedagang tulen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdagang adalah merasakan, berdagang adalah ikut di dalamnya, Berdagang adalah sebuah pelajaran yang harus dipelajari sendiri, Berdagang adalah sebuah proses yang harus kita alami sendiri. Berdagang bukan hanya sekedar berarti memiliki toko, termenung-menung di depannya dan menyerahkannya kepada pegawai kita. Ikutlah berinteraksi dengan pelanggan kita, jagalah pintu depan toko kita dengan hati dan senyum kita... Kita lah pemiliknya, kita lah motornya !...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita pikirkan ketika mendengar nama Martha Tilaar ?.. Beliau tidak langsung ujug-ujug mempunyai salon besar begitu saja. Dengan tangannya sendiri, berpuluh-puluh tahun yang lalu, beliau menjaga salonnya setiap hari, tanpa seorang pegawaipun..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiyosaki pun mengatakan bahwa seorang pebisnis yang berhasil adalah orang yang pernah mengalami sendiri. Semuanya dikerjakan sendiri dulu sebelum kita "mendelegasikannya" kepada pegawai kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lah pemiliknya, kita lah motornya !...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-2643615358742993634?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/2643615358742993634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=2643615358742993634&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2643615358742993634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2643615358742993634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/10/sang-pemilik-dan-tokonya.html' title='Sang Pemilik dan Tokonya'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-8067197496092848693</id><published>2007-10-06T21:46:00.000+07:00</published><updated>2007-10-06T22:14:04.613+07:00</updated><title type='text'>Ayah dan Sepedanya</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/Rwei45oWiZI/AAAAAAAAACI/6pRdBBpaCZw/s1600-h/100_0281.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/Rwei45oWiZI/AAAAAAAAACI/6pRdBBpaCZw/s200/100_0281.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5118238599956302226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir2 ini ayah sedang "keranjingan" sepeda.... Lucu aja ya ngeliatin si ayah nge-browse tiap malam, ngeliatin spare parts sepeda yang ternyata banyak banget jenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah hampir 2 bulan ayah juga mulai bike to work... Ternyata naik sepeda ke kantor itu menyenangkan loh...Bisa menghemat waktu.. Percaya gak sih jarak Kota Wisata-Plaza 89 (Kuningan) kira-kira 30 km hanya ditempuh dalam waktu 1,5 jam dengan sepeda...Menakjubkan kan ya ?....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dengan naik mobil pribadipun dalam kondisi yang macet (setiap hari dimana-mana macet ) waktu 1,5 jam itu tidak akan terlampaui...Apalagi sekarang proyek Busway dimana-mana.. Jarak Al Azhar Kebayoran menuju Semanggi bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam setiap sore di saat macet parah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik sepeda juga selain menyenangkan juga menyehatkan.. Bersepeda adalah salah satu kegiatan aerobik yang sangat diperlukan untuk kesehatan jantung kita... Ngapain sih capek-capek naik sepeda ke kantor ?... Apa gak kelelahan tuh pas kerja ?... Ternyata gak tuh..Setidaknya begitulah cerita ayah...Malah ayah jadi gak cepet ngantuk dan badan rasanya enteng banget dibawa kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun melihat ayah akhir-akhir ini menjadi lebih bugar.. Otot kakinya lebih kencang dan yang terutama lemak di perutnya menghilang.. Padahal fitness udah dijalanin hampir 1 tahun, yang namanya meratakan perut setengah mati kayaknya buat ayah.. Tapi dengan hanya 2 bulan bersepeda, lemak perutnya hilang tak berbekas...  Wahhhhh hebatttt !..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempet mampir ke sebuah blog milik seorang selebritis di barat sana tadi malam, "Saya tidak suka melihat laki-laki yang tidak mau dan atau malas berolahraga. Karena itu berarti dia tidak memelihara apa yang telah diberikan untuknya dengan baik. Bukan hanya kita memohon, tapi bersyukur pun merupakan kewajiban", begitu tulisnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada benarnya apa yang dikatakan sang selebritis yang walaupun umurnya sudah kepala 6 tapi masih aktif menyutradarai beberapa film pemenang Oscar, Berolahraga bukanlah masalah kuantitas tapi bagaimana walaupun sedikit kita melakukannya secara konsisten.. Tidak ada alasan untuk tidak mau berolahraga. Sibuk di kantor ? Bisa bike to work, berolahraga sambil berangkat kerja. Sibuk dengan anak ? Sambil mengantar anak ke sekolah, sambil kepasar kita bisa mengayuh sepeda... Banyak jalannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuk hidup sehat, kita syukuri hidup kita... Hidup ini terlalu singkat untuk dibiarkan berlalu begitu saja !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-8067197496092848693?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/8067197496092848693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=8067197496092848693&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8067197496092848693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8067197496092848693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/10/ayah-dan-sepedanya.html' title='Ayah dan Sepedanya'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/Rwei45oWiZI/AAAAAAAAACI/6pRdBBpaCZw/s72-c/100_0281.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-569284685373581629</id><published>2007-07-15T16:13:00.000+07:00</published><updated>2007-09-26T12:08:05.077+07:00</updated><title type='text'>Kursus Masak "Peluang Bisnis Kuliner Olahan Keju"</title><content type='html'>Rencananya tanggal 4,5 Agustus besok, Bunda In Biz bekerjasama dengan sebuah produsen keju dan susu PT. Yummi Food Utama akan membuat sebuah cooking class yang unik dan lain daripada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tau kan sekarang mahalnya harga Cheese Cake, Tiramisu, Mouse Cake di pasaran ? Pernah loh suatu hari aku iseng pengen nyobain apa sih rasanya nongkrong di sebuah cafe ternama sambil minum kopi dengan merk terkenal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng juga melihat di etalase cake dan kue dari keju yang ada di toko tersebut, ada jejeran kue yang sangat menggoda hati tampilannya. Tapi sayang harganya Rp.13.000/potong..hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, menjelang lebaran sekarang ada baiknya deh kita mengambil kesempatan itu. Kita bisa belajar langsung cara membuat cake-cake cantik untuk hantaran lebaran ataupun untuk hidangan lebaran....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bosen dengan hidangan lebaran yang itu-itu saja ?... Pengen kue lebaran yang lain daripada yang lain ?... Pengen bisnis kue lebaran yang gaks ama dengan orang lain ?.. Pengen bikin kejutan ngasih hantaran buat mertua ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda In BIz lewat BIB EO nya menangkap keinginan dan aspirasi ini untuk para anggotanya dan para bunda lain yang memang pengen menggali peluang bisnis di saat lebaran ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk cooking class ini sangat menarik loh,setiap peserta akan membuat sendiri-sendiri cake nya. On hands training cara belajar siswa aktif deh pokoknya...Jadi setiap peserta juga memegang mixer, menakar bahan dan membakar cakenya itu.. Benar-benar cara belajar siswa aktif deh..hehehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tanggal 4 Agustus ini, Bunda In Biz Cooking Class ini akan membawa tema pelatihan "Variasi Cheese Cake untuk Hantaran Lebaran". Kita akan diajari oleh seorang chef -yang sangat ahli dan terbiasa dalam mengolah keju dan susu ini- bagaimana cara membuat adonan dasar cheese cake yang baik dan benar. Sehingga cake kita bisa terasa lembut di lidah dan sensasi keju nya tidak hilang..Wahhh syedaaap...Menu yang akan diajarkan diantaranya adalah "Mango and Markisa cheese cake" dan  "Carrot Cheese Cake"....mmh sedaaap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tanggal 5 Agustus, kita akan belajar langsung dengan cara siswa aktif "Variasi Tiramisu untuk hidangan Lebaran". Rencana nya tiramisu kita akan lain daripada yang lain...Kita akan menggali resep-resep tiramisu dari negara lain seperti dari Jepang dengan green tea tiramisunya dan lain-lain....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap peserta dari Cooking Class ini akan mendapat merchandise, makan siang dan boleh membawa 2 loyang kue hasil prakteknya sendiri ke rumah..Lumayan kan, untuk ditunjukkan ke suami dan anak-anak...:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk info lengkapnya silahkan diliat di www.bundainbiz.com/cookingclass . Silahkan liat infonya dan langsung daftar ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ayo rancang bisnis Lebaran kita mulai sekarang... Belajar membuat olahan keju yang sekarang memang sedang booming digemari orang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan ke depannya sih, event-event seperti ini akan lebih bisa sering diadakan oleh komunitas Bunda In Biz.. Aku pribadi berharap, komunitas ini bukan hanya menjadi tempat untuk menjalin kerjasama, mencari partner dan network saja. Tapi juga bisa membina dan mengembangkan bisnis para anggotanya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-569284685373581629?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/569284685373581629/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=569284685373581629&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/569284685373581629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/569284685373581629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/07/kursus-masak-peluang-bisnis-kuliner.html' title='Kursus Masak &quot;Peluang Bisnis Kuliner Olahan Keju&quot;'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-2729558150790763773</id><published>2007-07-05T18:54:00.000+07:00</published><updated>2007-07-05T19:06:09.828+07:00</updated><title type='text'>Terlalu Mahal Harganya Buat-ku</title><content type='html'>Ada harga yang harus dibayar untuk segala hal. Bukan selalu uang untuk membayarnya. Bisa waktu, tenaga, perasaan, perhatian, dan cinta. Memang tidak ada yang gratis di dunia ini. Tapi benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa kan Va ?, Cuma dua hari satu malam kok “ adikku bertanya di telepon sore itu. Nadanya setengah memaksa. Mau bagaimana lagi?. Tak mungkin aku menolak, dia adalah adik kandungku dan anak-anaknya adalah keponakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok deh. Jam berapa kamu antar Kiki dan Kaka ?” tanyaku menyerah.&lt;br /&gt;“Pokoknya besok pagi-pagi banget aku sudah ada depan rumahmu. Ya ?” sekali lagi dia menegaskan. Tak ada lagi yang bisa kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah puluhan kali kejadian ini berulang. Berawal ketika adikku, dan suaminya, setahun lalu meninggalkan rumah orang tua kami dan membeli rumah sendiri. Akhirnya mereka dapat mandiri setelah menumpang di pondok mertua indah selama 4 tahun umur pernikahan mereka. Dia, adalah adik pas dibawahku. Boleh dibilang kami berdua lumayan akrab sejak kecil. Tapi kebalikan denganku dia adalah wanita karier yang cukup hebat di usianya yang baru 30 tahun. Sekarang dia adalah pemilik jaringan klinik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kenapa lagi, Jeng?. Mau nitipin Kiki dan Kaka lagi?.” Suara suamiku mengagetkanku. Seperti biasa dia berkata dengan nada kalem tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;“Iya. Ayah gak keberatan kan?” cuma anggukan kepala kuterima darinya. Itulah suamiku, dia cukup mengerti kalau ini adalah masalah sensitif buatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang mengherankan, tapi adikku yang satu ini sama sekali tidak percaya pada pembantu dan baby sitter yang menjaga kedua anaknya. Setiap kali dia harus pergi keluar kota untuk bertugas, pasti dia akan menitipkan kedua anaknya ke rumahku. Padahal ada suaminya yang sudah pasti akan ikut mengawasi anak-anak mereka, tapi tetap saja dia tidak percaya. “Aku pengen benar-benar ada orang yang aku percayai untuk menjaga anak-anak. Ya kamu-lah itu, Va”, katanya. Apakah itu berarti dia tidak mempercayai suaminya yang sekaligus ayah kedua anak mereka? Hehehe....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada harganya untuk semua yang sudah dia dapatkan. Dibandingkan dengan kami, adikku dan suaminya sudah jauh melampaui kami dalam hal materi. Suaminya bekerja sebagai seorang konsultan IT untuk sebuah perusahaan di London, dan adikku adalah seorang dokter gigi muda yang pasiennya antri dimana-mana. Banyak materi yang mereka miliki belum kami miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku berpikir positif menghadapi sikapnya mungkin untuk orang yang biasa memegang kendali di tempat kerjanya, bukanlah sesuatu yang menyenangkan ketika dia harus kehilangan kontrol walau  sebentar saja pada anak-anaknya sewaktu dia sedang keluar kota. Hal ini yang menyebabkan dia harus menitipkan anak-anaknya pada aku, kakaknya, yang pasti bisa berada di bawah kontrolnya, di bawah kendalinya. Yah, walau kendalinya itu harus merepotkan keluargaku, harus membuat kedua anaknya- yang baru berumur 3 tahun dan 10 bulan- boyongan besar-besaran ke rumah uwaknya, harus membuat suaminya mampir  ke rumahku dulu setiap hari sebelum pulang kerumah sendiri demi melepas kangen pada anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang harus berkorban demi kendali dirinya. Bolehkah kukatakan itu sebagai “berkorban” ?. Bukankah seharusnya adikku-lah yang berkorban untuk pilihan hidupnya ? Kenapa yang berkorban harus aku, anak-anaknya dan suaminya? Kenapa bukan dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula aku. Ada harga untuk setiap pilihan yang sudah kulakukan selama ini. Misalnya ketika aku memutuskan total menjadi ibu rumah tangga . Tidak dapat kubayangkan seandainya aku harus bekerja full time, tidak bisa mengantar Brina sekolah, tidak mendapatkan pelukannya menjelang tidur siang, tidak bisa memandanginya ketika dia tertidur, tidak bisa menemaninya belajar, entah jadi apa diriku bila kehilangan semuanya. Dan bagaimana dengan rumahku, siapa yang akan memasak, menata koleksi tanamanku, menyiapkan keperluan suamiku dan semuanya? Bahkan untuk membayangkannya saja aku tak berani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu saja, keputusanku untuk menjadi ibu rumah tangga saja juga sering dikritik oleh teman-temanku, dianalisa oleh mama dan menjadi bahan sindiran adik-adikku. Karena bertentangan dengan kultur keluarga besarku yang sebagian besar perempuannya ikut membantu mencari nafkah. Keputusanku ini juga membuatku harus belajar menata ulang konsep diriku tentang uang. Ketika gadis, Eva yang sudah bekerja walau masih kuliah bisa dengan bebas berbelanja dengan uangnya sendiri. Tapi sekarang uang yang ada di tanganku setiap bulan adalah uang suamiku, walau suamiku tidak pernah mengekang keinginanku tapi aku mesti tahu diri. Bukan, ini tidak berarti aku menjadi kurang berdaya dalam menjalani hidup dan menentukan keinginanku, sekali lagi, ini cuma masalah uang dan bukan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita kira, uanglah yang akan menjadi kunci penyelesaian buat masalah-masalah kita. Sehingga kita terkadang tidak sungkan untuk membayar terlalu mahal untuk yang namanya materi. Kalau kita memang mencari kebahagiaan, ketenangan dan kelengkapan hidup, kupikir terlalu naïf kalau jawabannya adalah uang. Kesimpulan ini-lah yang membuatku memutuskan untuk tidak bekerja diluar rumah. Atau memang seperti yang kukatakan tadi, aku terlalu takut untuk membayar harganya ?. Atau memang ini hanyalah masalah prioritas ?. Mungkin memang aku dan suamiku yang tidak menempatkan materi pada prioritas pertama. Ataukah kami suami istri adalah orang yang mudah puas dengan keadaan materi kami ?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi seperti adikku, dia bekerja bukan untuk semata uang. Setidaknya itu pengakuannya. Dia lebih mengutamakan eksistensi diri, penerapan ilmu dan aktualisasi pribadi diatas materi. Dan memang tidak semua orang bekerja untuk uang. Tapi entah kenapa, aku merasa masih terlalu mahal untuk membayar itu semua bila harus mengorbankan keluargaku, rumah tanggaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa bisa mendapatkan itu semua di rumah bersama anak dan suamiku. Di rumahku aku adalah ratu rumah tangga, aku yang mengambil semua keputusan yang berkaitan dengan keluargaku, aku adalah bunda-nya Brina tempat dia memanggil bila butuh, tempat dia memeluk bila dia sakit dan tempat dia mengadu bila kecewa. Sepertinya sudah lengkap eksistensi dan aktualisasi diriku di rumah. Tak perlu aku mencarinya diluar rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak masalah kamu mau jadi apa. Yang penting adalah bagaimana kamu menjalaninya” Itulah kalimat yang sering kukatakan pada Brina ketika dia meminta pertimbangan tentang sesuatu. Yang ingin aku tanamkan pada anakku sejak kecil bahwa setiap tindakan, perbuatan dan keputusan dalam hidup ada konsekwensinya, ada harganya. Yang perlu dipikirkan bagaimana kita bisa membayar harga itu. Apakah kita bersedia membayar harga itu dengan rentetan konsekwensi di belakangnya. Berapapun harga dan konsekwensi yang harus kita jalani bukanlah masalah. Karena tidak ada istilah salah dan benar dalam hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti aku pun, aku tidak pernah beranggapan bahwa adikku salah karena sudah membayar terlalu mahal untuk pilihan hidupnya dibandingkan denganku. Tapi aku hanya yakin bahwa aku lebih merasa cocok dengan harga yang kubayarkan sekarang. Jadi tanpa menawar dan tanpa berpikir dua kali aku menjalaninya dengan hati lapang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-2729558150790763773?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/2729558150790763773/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=2729558150790763773&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2729558150790763773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2729558150790763773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/07/terlalu-mahal-harganya-buat-ku.html' title='Terlalu Mahal Harganya Buat-ku'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-4572822467417598916</id><published>2007-06-18T18:29:00.000+07:00</published><updated>2007-06-18T18:31:20.039+07:00</updated><title type='text'>Blog Pribadi</title><content type='html'>Banyak yang tanya kepadaku, kenapa sih harus mencantumkan alamat blog pribadi di signature ku ?...Otomatis kan orang pasti akan mampir dan bisa melihat “jeroan” kita, apa gak mengurangi kredibilitas kita ya ?... Emang ada hubungannya antara diet penurunan berat badan sama cerita-cerita ku tentang “remeh temeh” kehidupanku ?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan satu dua orang loh,  yang bertanya seperti ini kepadaku selama aku memutuskan untuk ber-blog ria (menuruti anjuran mba Yaya)…. Bahkan seorang downline sempet “menyindir” aku masalah uang dari cerita di dalam blogku sambil menghubung-hubungkan dengan kehidupanku di dunia nyata. Yah, walaupun sindirannya itu memang ada benarnya tapi tetap saja aku tidak berhak meng-iya kan atau men-tidak kan nya. Karena itulah resikonya “membuka” kehidupan pribadi kita kepada publik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh bener loh, bukan tanpa resiko mencampuradukkan antara kehidupan pribadi dengan bisnis kita. Terutama di MLM, dalam pandangan seorang downline, upline nya haruslah kelihatan seperti manusia yang hampir “sempurna”…Ini pengalaman pibadiku loh, karena seperti itulah dulu aku meilhat up line ku dua tahun yang lalu. Seorang leader di organisasinya haruslah “kelihatan” tenang, berwibawa, agak dingin, energik, cermat dan sederet keunggulan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya kita tidak bakalan deh memilih upline yang ternyata manja sama suaminya, cepet panikan, boros, agak rendah diri dan rada pemalu…Gak mungkin kan ?..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena aku baru  anak bawang di dunia bisnis online, aku berpikir bahwa walaupun kita bertemu lewat email, sms atau telpon, tetap saja klien ku adalah orang yang memerlukan sentuhan pribadi dari ku. Aku merasa bahwa orang lain perlu tahu siapa si evarais ini dengan segala “remeh temeh” nya. Kenapa ? Supaya calon klien atau klien ku percaya kepadaku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata anggapanku ini tidak salah, baru kemarin aku membeli buku “Cyber Branding Through Cyber Market” karya Bob Julius Onggo. Di bukunya yang komplit itu, beliau menulis bahwa walaupun berada di dunia maya tetap saja dalam setiap hati manusia akan ada keinginan untuk mengenal manusia lain yang berhubungan dengannya. Setidaknya pasang foto kita di dalam web bisnis kita, begitu tips dari beliau…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Barrack Obama, calon Presiden Amerika Serikat, tidak sungkan untuk menulis buku tebal tentang kehidupannya pada masa kampanye nya sekarang. Dalam buku nya itu tidak segan-segan Barrack menceritakan tentang kehidupannya yang “terpinggirkan” karena masalah rasial. Bahkan di Jakarta sekalipun, ternyata kehadiran seorang “kulit hitam” juga tidak dihargai.. Tapi semua kisah tentang dirinya ini tidak lantas serta merta menurunkan popularitas dirinya… Bahkan menurut pooling, kesohoran Barack sekarang bisa menggungguli Hillary Clinton… Marketing yang bagus kan ?!....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak heran ketika tiba-tiba seorang klien, menawarkan bibit pohon Mahoni nya untuk menggantikan pohon Petai Cina yang ditebang di depan rumah ku… Ajaib ya, tapi sungguh-sungguh terjadi :)…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-4572822467417598916?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/4572822467417598916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=4572822467417598916&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4572822467417598916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4572822467417598916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/06/blog-pribadi.html' title='Blog Pribadi'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-728274351270784696</id><published>2007-06-03T18:37:00.000+07:00</published><updated>2007-06-03T18:50:29.509+07:00</updated><title type='text'>Miss Anything</title><content type='html'>Siang cukup panas. Berkali-kali kulap titik keringat di dahiku. Tempat kursus melukis ini  pun sepi sekali. Tumben, biasanya banyak ibu-ibu yang menunggui anaknya. Mungkin karena panasnya hari membuat mereka merasa lebih betah dirumah. Kusimak sekali lagi lembaran neraca keuangan di depanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana, Va, tahun ini aku sudah untung kan?” tanya mbak Silvi sekali lagi. Mbak yang masih awet muda ini adalah mama dari Reza teman sekelas kursus Shabrina.&lt;br /&gt;“Emang sih ada selisih besar antara pemasukan dan pengeluaran. Tapi ini bukan laba ya,mbak. Karena belum ada aspek penyusutan barang dalam neraca ini.”&lt;br /&gt;“Loh, bukannya itu masuknya di laporan per-tahun, Va?. Ini kan laporan per-bulan”.&lt;br /&gt;“Ya. Tapi akhir bulan ini mbak Silvi akan membuat neraca tahunan kan?. Disaat itulah kita baru bisa menentukan jumlah laba yang sebenarnya. Itu pun kalau mbak tidak ada hutang atau kewajiban yang harus dibayar akhir tahun ini. Sewa ruko misalnya”&lt;br /&gt;“Aduuh, Va. Kamu ini dokter gigi atau akuntan sih?. Kok bisa segitu detil melihatnya”&lt;br /&gt;“Idiih mbak Silvi, ini mah akuntansi sederhana. Anak SMEA aja ngerti kok. Kesalahan kita adalah terlalu cepat ingin memetik untung, tanpa sadar bahwa belum semua aspek pengeluaran kita tulis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sengaja kulihat sesosok ibu muda berbaju kuning melenggang kearahku. Wah, ini dia `Miss Anything`. Benar saja, dengan suara yang sok akrab dia langsung menyapaku. Gawat nih, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eva, mbak Silvi, apa kabar?. Kok kemarin gak datang pengajian sih?. Seru loh materinya.” Mba Desi namanya. Agak lebih tua dariku. Aktivis masjid komplek-ku ini memang selalu ramah. Tapi banyak orang beranggapan sikap ramahnya itu ada maunya. Ada udang di balik batu. Karena setiap dia selesai beramah tamah dengan kita , pasti dia akan menyodorkan barang dagangannya. Mulai dari baju anak-anak, kue-kue, parfum, kosmetik sampai kain songket. Semua ada, segala ada, oleh karena itulah ibu-ibu menjulukinya Miss Anything.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku nemenin ayahnya Reza ke rumah sakit, check up pasca stroke” Mba Silvi menjawab tanpa menoleh dari buku besarnya. &lt;br /&gt;“Eh, apa tuh mba?. Laporan Keuangan Salon ya?” kulihat mba Desi langsung duduk disamping mba Silvi.  Mba Silvi memang sudah terkenal sebagai juragan salon. Maklum tiga buah salonnya biasa menjadi langganan kami, ibu-ibu orang tua murid.&lt;br /&gt;“Iya. Biasa deh konsultasi sama Eva. Kecil-kecil gitu Eva kan biasa ngurusin bisnis suaminya”. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Dibanding mayoritas ibu-ibu di lingkungan pergaulanku, aku memang termasuk paling muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya lebih enak kalau mba Silvi pakai program akuntansi. Gampang deh mba, tinggal masukin data kita udah langsung tahu keadaan keuangan kita. Adikku yang punya bengkel juga menerapkannya. Sekarang bengkelnya berkembang pesat, karena dia tidak harus direpotkan dengan urusan keuangan” cerocos mba Desi. Mulai nih, dia melancarkan jurus dagangannya. Aku pun menunggu jurus berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O ya ?. Kok bisa? “ tanya mba Silvi datar. Buatku yang cukup akrab dengannya, bisa kulihat sedikit perubahan bahasa tubuhnya menjadi agak waspada.&lt;br /&gt;“Sekarang kan zamannya tekhnologi canggih, mba. Tekhnologi memudahkan kerja kita.” Mba Dewi mulai lagi. “Tanya deh sama Eva yang punya warnet. Berapa ribu informasi terbaru berseliweran di internet tiap hari. Iya kan Va?” Aku cuma mengangguk sambil mengerling jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gitu ya?” mba Silvi masih datar bertanya.&lt;br /&gt;“Nah, mangkanya sekarang aku kasih tahu mba Silvi. Kebetulan adik iparku yang bekerja di Bogasari kerja di bagian computer. Dia biasa bikin program computer kayak gitu” Betul kan dugaanku. Pasti ujungnya dagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalanku dengan mba Dewi terjadi ketika aku baru saja pindah ke komplek perumahan ini. Aku yang memang senang berteman, sangat antusias mendengarkan ceritanya tentang suasana komplek ini beserta segala info yang berguna buatku. Karena sudah hampir lima tahun tinggal di Kota Wisata ini, dia tahu bagus-jeleknya komplek perumahan ini, pokoknya lengkap. Banyak info berguna bagiku yang kudapat darinya. Misalnya seperti jadwal pengajian di masjid komplek, telpon pengaduan gangguan Telkom, restoran dan tempat-tempat enak untuk nongkrong di sini dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada pertemuan kedua, barulah ketahuan belangnya. Kenapa kusebut belang, karena menurutku berteman haruslah didasari sikap tulus tanpa pamrih. Baagaimana aku bisa menolak, ketika tiba-tiba dia menyodorkan seperangkat mukenah dagangannya padahal di lain pihak sudah berjam-jam aku mendengarkan `info berguna` darinya. Apalagi ketika dia mengatakan bahwa dia sengaja menemuiku saat itu untuk memberitahuku info penting tentang penjualan kios di Fresh Market yang sedang dibangun. Bagaimana aku bisa menolak?. Padahal masih ada 2 set mukenah baru pemberian mama dan mertuaku yang belum sempat terpakai dalam lemari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu aku mulai mewaspadai kehadirannya. Bukan apa-apa, mahal ternyata harga untuk berteman dengannya. Tapi bukan aku saja. Kebanyakan ibu-ibu di sini tampaknya juga terhinggapi sindrom Miss Anything. Ini memang hanya dugaanku. Karena tak jarang kuperhatikan satu persatu ibu-ibu mengundurkan diri dari `kancah` obrolan ketika mba Dewi datang. Daripada dipaksa mending lari duluan, kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana mba Silvi?. Kalau memang berminat, nanti sore kusuruh adik iparku menghubungi mba Silvi” mba Dewi berkata antusias. Kulihat mata mba Silvi menatapku minta bantuan.&lt;br /&gt;“Kalo konsultasi awal gak perlu bayar kok, mba. Cukup mba Silvi kasih tahu kebutuhan mba nanti adik iparku bikin usulan proposal ke mba” Sekali lagi Miss Anything melancarkan jurus mautnya. Coba dulu baru bayar. Itulah moto dagangnya yang sangat sulit ditolak. Akhirnya dengan beribu macam alasan kami berhasil melepaskan diri dari Miss Anything, walau harus dengan sedikit berbohong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah harus bermuka badak seperti itu untuk berdagang? Dalam setiap kesempatan menawarkan dagangan walau harus memanfaatkan perasaan orang lain ?. Aku pun berdagang. Tapi buatku tidak harus membuat orang sungkan untuk bilang `tidak`  disaat memang dia tidak memerlukan barang itu. Aku berusaha untuk menjadi pedagang yang ber-etika, berusaha untuk tidak memanfaatkan perasaan sungkan orang untuk menolak kita. Aku belajar banyak pada bapak mertuaku. Beliau adalah pedagang tulen sejak kecil. Tamat SMA dia langsung merantau ke Jakarta, dan langsung memulai usaha pertamanya yaitu berdagang baju di kaki lima. Hingga sekarang dia mempunyai beberapa toko baju di Tanah Abang. Tapi sekalipun dia tidak pernah memaksa orang untuk membeli dagangannya. Selalu ada proses tawar menawar sebelum itu. Kalau terjadi kesepakatan maka selesailah proses jual beli itu tapi bila tidak bukan menjadi masalah bila harus batal. Prinsip berdagang adalah ketika penjual dan pembeli bisa sama-sama senang dan puas, begitu nasehatnya setiap dia bercerita tentang kiatnya berdagang. Tidak boleh ada yang merasa terpaksa harus menjual ataupun tidak boleh ada juga yang merasa harus membeli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang butuh uang, aku pun tahu itu. Tapi tidak langsung menjadikan kita selalu bertindak berdasar uang. Tapi menurutku sebenarnya hal ini berlaku untuk semua hal, bukan hanya dalam berdagang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-728274351270784696?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/728274351270784696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=728274351270784696&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/728274351270784696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/728274351270784696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/06/miss-anything.html' title='Miss Anything'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-646189066129900999</id><published>2007-05-27T06:38:00.000+07:00</published><updated>2007-05-27T06:48:30.241+07:00</updated><title type='text'>Ilusi Uang</title><content type='html'>Uang memang tidak berbatas. Benar juga ungkapan yang bilang  bahwa "99 jawaban dari 100 pertanyaan adalah uang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan pangkal sebuah masalah adalah uang, begitu juga selalu akhir sebuah masalah juga karena uang. Rasa-rasanya tidak ada kata cukup untuk uang. Selalu kurang, bagai meminum air garam. Semakin diminum maka semakin haus kita, Semakin banyak uang maka semakin merasa kekurangan kita. Ada saja keinginan yang sepertinya belum terwujud. Dan untuk mewujudkannya kita perlu uang. Apakah karena tidak ada yang gratis di dunia ini ?. Benarkah semua harus ada harganya ?. Dan benarkah kita harus selalu membayarnya dengan uang ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya adalah ketika aku dan suamiku mencoba untuk menyusun anggaran per-tahun rumah tangga kami. Tradisi ini sudah kami mulai sejak awal pernikahan. Kami selalu menyusun rencana keuangan kami di awal tahun, mengira-ngira berapa besar pengeluaran dan mengira-ngira sumber pemasukan tambahan. Selalu ada yang kami ingin beli setiap tahun. Dan herannya kami juga harus memutar otak berpikir dimana kami harus mencari sumber dana tambahan untuk mewujudkan keinginan kami. Selalu begitu setiap tahun. Seperti tahun ini, kami merencanakan untuk menambah modal bisnis kami. Hitung punya hitung, ternyata besar juga dana yang diperlukan. Padahal ini hanya hitungan kasar saja, belum anggaran terperinci dari sebuah proses penambahan modal sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya tidak terlalu banyak keinginan kami. Tapi kenapa selalu saja kurang uang kami ?. Apakah itu berarti keinginan kami semakin tahun semakin besar. Tidak juga. Tahun kedua sampai keempat pernikahan, kami menginginkan memiliki sebuah rumah. Tiga tahun kami menabung sampai akhirnya terkumpul  uang muka pembelian rumah. Tahun keempat kami menabung untuk uang masuk Playgroup dan Taman Kanak-kanak Brina. Tahun kelima kami menginginkan mobil untuk alat transportasi kami, dan tahun keenam kami harus menabung untuk uang masuk Sekolah Dasar Brina. Tidak ada yang aneh dengan keinginan kami, cuma keinginan dasar sebuah rumah tangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau bisa kita jangan sampai mengambil uang tabungan ya, Jeng.” tegas suamiku. Terus darimana kami harus mengambil dana untuk menambah modal bisnis ku ?. Meminjam dari Bank ?. Ah tak mungkin, suku bunga bank sedang tinggi-tingginya sekarang. Herannya berapapun pemasukan yang kami dapat selalu kurang untuk pengeluaran plus keinginan kami. Padahal gaji yang diterima suamiku sekarang sudah berlipat kali lebih besar daripada gajinya di awal pernikahan kami dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masalah uang adalah masalah persepsi. Ada orang yang menyandarkan standard kecukupan dirinya dengan terpenuhinya semua keinginan. Tapi ada juga orang yang hanya menyandarkan standar kebahagiaan dirinya bila dia masih bisa makan hari ini dan cukup untuk bertahan hidup sampai esok hari. Ada juga yang bilang bahwa uang tidak bisa bohong. Dengan kata lain orang ini berpendapat bahwa bohong bila bisa bahagia kalau tidak ada uang.  Mungkin ada benarnya dan ada salahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus bagaimana dengan keluargaku, dengan aku dan suamiku? Apakah kami juga bersandar pada teori : bahagia berarti ada uang ?. Mungkin disini kami hanya berpikir logis saja. Keinginan kami hanya ingin mencukupi anak kami satu-satunya dengan segala daya upaya yang kami mampu. Kami ingin menyekolahkannya di sekolah terbaik, memberinya les dan kursus terbaik untuk menunjang bakatnya, ingin memberikannya pakaian terbaik, ingin memberikannya makanan terbaik dan ingin memberikannya tempat berlindung terbaik, ingin punya bisnis yang sehat dan bisa menghasilkan laba.... Dan tentu saja, semua itu perlu uang. Iya kan?. Tak dipungkiri lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terbayang bila harus memberikan yang ‘biasa-biasa’ saja pada Shabrina. Kelak dia akan hidup di zaman yang serba maju, mungkin tak terbayangkan oleh generasi kita saat ini. Bagaimana dia bisa bertahan hidup bila dia ‘biasa-biasa’ saja ?. Apalah lagi untuk menyumbangkan sesuatu pada zamannya, pasti diperlukan kemampuan dan ketangguhan yang lebih dari kita sekarang. Tak apa bila kami yang orang tuanya harus mengalah demi dia. Shabrina adalah prioritas rumah tangga kami. Aku dan suamiku juga berangan-angan bisa mempunyai waktu lebih banyak dengan Shabrina. Suamiku juga tidak ingin bekerja seumur hidup, karena bekerja berarti tidak mempunyai banyak waktu untuk diri sendiri dan keluarga. Dari awal pernikahan, perlahan-lahan kami berdua mulai merintis bisnis kecil-kecilan dengan harapan akan menjadi berkembang nantinya. Dan rencana-rencana kami ini memerlukan uang.U-A-N-G.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah benar untuk menjadi yang terbaik harus memerlukan uang ?. Nyatanya orang-orang dahulu yang bisa mencatatkan mencatatkan namanya dalam sejarah bukanlah orang-orang yang berkecukupan. Tekad dan semangat untuk maju yang membuat mereka bisa lebih unggul dibanding orang lain. Tapi kan zaman sekarang berbeda ?. Sekarang semuanya diukur dengan uang. Orang yang berhasil adalah orang yang berkelimpahan materi. Yang hidupnya tidak kekurangan. Atau mungkin ini yang berubah?. Mungkin bukan keinginan untuk memberikan yang terbaik pada anak-anak kita yang mengalami perubahan, karena toh orang-orang tua kita dulu juga menginginkannya. Juga mungkin bukan bagaimana bahagia itu diartikan yang berubah sekarang. Sama saja ‘bahagia” sekarang dan “bahagia” zaman dulu, masih berarti : selalu bersama dengan orang-orang yang kita cintai, di dekat mereka dan memberikan seluruh perhatian kita kepada mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berubah adalah cara pandang kita sendiri. Manusianya yang berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya sebagai manusia kita bisa menentukan mana yang tepat untuk kita. Tapi saat ini, di saat semua informasi begitu terbuka, dengan mudahnya kita bisa mengetahui bahwa cara pandang kita bukanlah mencerminkan diri kita sendiri. Cara pandang kita banyak dipengaruhi oleh orang lain, oleh persepsi diluar diri kita. Jadi ketika orang mempersepsikan A sebagai B maka dengan mudahnya kita menerima. Jadi ketika orang mengatakan bahwa untuk menjadi yang anak terbaik berarti harus dengan sekolah terbaik, kursus terbaik, makanan terbaik dan rumah terbaik- dimana semua ini berarti uang- maka kita pun seratus persen menerimanya. Kita menafikkan faktor peran serta orang tua si anak dalam mendidik, faktor lingkungan si anak dan yang terutama kita menafikkan faktor Tuhan. Begitu pula ketika orang mempersepsikan bahagia itu berarti bisa kumpul dengan keluarga tanpa bekerja sedangkan uang mengalir deras masuk ke kantong kita, maka kita pun mengiyakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal tanpa “uang yang mengalir deras ke kantong kita” pun kita akan bahagia kalau kita bisa selalu berkumpul dengan keluarga. Selalu ada embel-embel kata ‘uang’ yang menyertai kata ‘terbaik’ dan ‘bahagia’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan berpikir logis ?. Kita sudah menjadi manusia-manusia yang diperbudak oleh akal. Tidak bisa diterima satu pendapat kalau tidak ada penjelasan logis diatasnya. Dan memang penjelasan logis untuk ‘terbaik’ dan ‘bahagia’ adalah UANG. Susah sekali kita berpikir diluar kerangka logis bila sudah dibenturkan kepada kepentingan orang-orang tercinta kita. Kita menyangka bahwa otak kita akan menemukan formula tepat untuk menyelesaikan masalah-masalah kita. Kita lupa bahwa kita sebenarnya punya hati. Dan uang bukanlah soal hati. Dan persoalan orang-orang tercinta kita berarti adalah persoalan  hati kita. Tidak masalah kita punya uang atau tidak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-646189066129900999?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/646189066129900999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=646189066129900999&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/646189066129900999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/646189066129900999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/05/ilusi-uang.html' title='Ilusi Uang'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-1655395986234577675</id><published>2007-05-22T18:59:00.000+07:00</published><updated>2007-05-22T19:19:40.235+07:00</updated><title type='text'>Cemburunya Aku ....</title><content type='html'>Cemburunya aku pada suamiku adalah cemburunya seorang perempuan yang seumur hidupnya tidak pernah merasa cemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dilahirkan sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, apapun yang kuminta dan kuinginkan pasti akan terkabul. Itu memang sudah sifatku, tidak ada suatu apapun di dunia ini yang bisa menghalangi aku untuk mendapatkan sesuatu. Aku tidak pernah merasa bersaing dengan orang lain, karena aku tahu bagaimana mendapatkan keinginanku dengan caraku sendiri. Sejak SD sampai kuliah, aku bukanlah pelajar yang teramat cemerlang, prestasi akademikku biasa-biasa saja. Tapi siapa yang tidak kenal Eva illustrator majalah Rohis yang terkenal dengan gambar-gambar nya yang mengharubiru ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa juga yang tidak kenal dengan Eva si mantan ketua I MPK yang merupakan ketua MPK perempuan pertama di SMA favorit unggulan nasional ini ? Siapa yang tidak kenal dengan Eva si bos Kopma kampus yang membuat Kopma kampus-ku menjadi Kopma terbaik di seluruh Indonesia ? Yah, aku tahu benar bagaimana cara mendapatkan keinginanku, bagaimana cara mendapatkan perhatian orang lain tanpa harus bersusah payah bersaing. Aku juga tahu benar bagaimana cara merebut hati orang lain dengan cara yang tidak biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya ketika SMP ketika aku sedang getol-getolnya merintis buletin sekolah, aku tahu benar bahwa aku tidak akan bisa bersaing dengan teman-temanku yang jago menulis. Entah bagaimana caranya, mereka bisa menuliskan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Langsung aku banting setir menjadi penata lay out dan ilustrator  cerpen atau kisah yang ditulis oleh si jago menulis tadi. Dan percaya tidak, gambar-gambar ku yang menghiasi cerpen-cerpen itu malah lebih terkenal dan lebih menarik perhatian dibanding cerpen fiksi temanku. Malah akhirnya aku memiliki halaman sendiri untuk komik petualanganku. Hah, siapa kali ini yang menang ?, begitu pikirku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi berbeda sekali dengan cemburu ku kali ini. Entah kenapa aku tidak pernah bisa bersaing merebut perhatian suamiku dengan seorang perempuan mungil umur 4 tahun  berambut keriting bermata cemerlang. Seorang anak perempuan yang aku juga begitu mencintainya,  anak perempuan tunggal kami yang selalu membuatku merasa disisihkan oleh suamiku. Lucu ?, pasti tidak begitu menurut kalian. Yah, karena kalian terbiasa untuk mengalah. Tapi tidak lucu bagiku yang memang selalu bisa mendapatkan keinginannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang akhir pekan, selalu dihabiskan oleh suamiku untuk berduaan dengan anak perempuan mungil tadi. Sejak sehabis shubuh setiap akhir pekan, suamiku sudah mulai beranjak dari kamarku dan mulai memasuki kamar anak kesayangannya untuk tidur berpelukan sampai matahari mulai menampakkan cahayanya. Setelah itu mereka akan lari pagi bersama, sarapan roti bersama dan nonton TV bersama. Hanya berdua, tanpa aku !. Pernah sih aku mencoba untuk ikut bersama mereka, tapi rasa-rasanya tawa mereka, senyum mereka, canda mereka akan terus seperti itu tanpa ada aku. Rasa-rasanya ada tidak adanya aku tidak akan mempengaruhi mereka. Pernah seharian aku ditinggal sendirian di rumah dan mereka berdua pergi entah kemana. Untuk menekan perasaan ku, aku sibukkan hari itu dengan memasak kue, melamun sambil mencoret-coret sketch book ku dan menjawab email teman-temanku. Dan menjelang Isya baru mereka pulang sambil menenteng ikan hasil pancingan dari Bogor. Wuaah, sebel rasanya apalagi mereka berdua ribut menceritakan pengalaman mancing seharian tadi sambil menyantap brownies bikinanku tanpa sekalipun memuji brownies itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi teringat ketika kurang lebih lima tahun lalu, aku hamil. Kehamilanku hanya berselang 1 bulan dari pernikahan kami. Masih kuingat benar bagaimana begitu bersinar-sinarnya wajah suami kekasihku setiap dia mengantarkan aku kontrol ke dokter. Sepertinya dia sangat antusias, kuingat dia selalu ribut meminta setiap print out hasil USG dari dokter kandungan kami. Dia simpan semua print out itu dalam sebuah map merah jambu, begitu juga foto pertama bayi kami, gelang tangan bayi kami ketika di rumah sakit, cukuran rambut pertamanya waktu aqiqah, puput pusarnya yang sekarang sudah berwarna kehitaman juga ikut-ikutan dikoleksi suamiku. Begitu sayangnya dia pada bayi perempuan kami, sehingga setiap malam tanpa harus dibangunkan dia yang akan menggantikan popoknya, memandangi bayinya dengan takjub ketika sedang kususui dan menidurkannya kembali. Setiap malam, tanpa absen !. Padahal buat seorang engineer yang bekerja berdasarkan projek, dia selalu pulang menjelang tengah malam untuk mengejar tenggat waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu waktu di keheningan malam setelah kami berdua menikmati ibadah suci suami istri, aku tanyakan apakah dia masih mencintaiku sama seperti awal pertemuan kami dulu. Sambil tersenyum dan lekat memandang mataku, dia menjawab bahwa cintanya padaku tidak akan pernah berubah. Aku adalah ibu anak tercintanya, istri satu-satunya dan sahabatnya selalu dimasa senang dan susah. Aku cukup puas dengan jawaban itu, tapi aku kan juga butuh diperhatikan lebih, aku kan juga butuh dipuji seperti dulu, butuh disanjung, butuh di rayu...Cengeng gak sih ?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemburuku pada suamiku adalah cemburu seorang perempuan yang tidak pernah tidak mendapatkan keinginannya. Tapi bagaimana aku akan bersaing cinta dengan anak ku ?. Aku putuskan untuk tidak bekerja di luar rumah karena dia. Aku ingin setiap dia pergi dan pulang sekolah, orang pertama yang akan mendengar celotehnya adalah aku, ibunya. Aku ingin aku adalah orang pertama yang akan menjadi sandarannya bila sedang bersedih. Aku ingin orang yang pertama yang akan menjawab pertanyaannya adalah aku, ibunya. Jangan pernah dia harus mencari jawaban terlebih dulu di luar rumah tanpa mendapatkannya terlebih dahulu dari kami orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu benar rasanya bagaimana mempunyai sesuatu yang sepertinya dekat tapi selalu menjauh begitu aku memerlukannya. Aku ingat bagaimana setiap malam sewaktu kelas 3 SMA dulu, aku harus menahan perasaan setiap berada di meja belajar untuk persiapan UMPTN. Pilihanku pada fakultas itu bukanlah pilihan hatiku. Tapi karena mama selalu bercerita bahwa keinginanya untuk menjadi dokter gigi akan diwariskannya padaku. Aku sendiri jauh di dalam hati ku, kusimpan rapat-rapat tanpa siapapun tahu, ingin sekali masuk ke fakultas seni rupa. Ingin rasanya menceritakan keinginanku ini pada orang tuaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tahu pasti bahwa keinginanku ini akan membuat mereka terluka. Seakan mempunyai sesuatu yang tidak terjangkau rasanya. Mnecintai tapi tidak ingin melukai, mungkinkah itu harus ditanggung oleh seorang anak yang sedang kebingungan ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku begitu mencintai anak ku, sehingga aku berjanji tidak akan mengekang keinginannya, selalu mendukung langkahnya dan tidak akan pernah memaksakan kehendakku. Begitu juga kali ini, aku yang selalu terbiasa berdua dengannya sepanjang hari, sejak dia turun dari mobil jemputan TKnya, sampai menjelang tidur, begitu tidak rela melihat kemesraan nya bersama ayahnya, yang hanya berdua tanpa aku, ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang konyol sebenarnya mencemburui kemesraan suamiku dengan anaknya. Toh, selama ini aku sudah memiliki laki-laki itu dengan cara yang sama sekali berbeda. Dia adalah cinta pertamaku, orang yang pertama kali memegang tubuhku dan orang yang pertama kali mengucapkan cinta padaku. Apalagi yang harus kutuntut darinya. Aku pun adalah cinta pertama baginya. Buatnya aku adalah perempuan pertama yang dia cintai setelah ibunya. Selama hampir tujuh tahun pernikahan kami, tidak pernah sekalipun dia membuatku marah besar, pertengkaran kami bisa dihitung dengan jari. Dia tahu persis sifatku yang keras kepala, sehingga hampir setiap kali suami terkasihku selalu mengalah demi cintanya. Terus mau apa lagi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk seorang istri, aku adalah seorang perempuan yang tidak pernah mau ambil pusing dengan pendapat orang lain tentang diriku. Kalau buat sebagian perempuan lain, konflik dengan mertua atau keluarga suami di awal usia pernikahan adalah hal yang pasti terjadi. Tidak demikian dengan aku. Ibu mertuaku adalah sahabat terbaikku, begitu juga dengan ipar-ipar perempuanku. Tak jarang aku menemani adik iparku bertemu dengan tunangannya. Aku juga sering dimintai uang oleh adik iparku, malah dia lebih senang meminta padaku daripada minta langsung kepada suamiku yang adalah kakak kandungnya. Di awal-awal pernikahan, aku amat menyadari keberadaanku sebagai menantu perempuan dari anak laki satu-satunya di keluarga suamiku. Bisik-bisik pendapat tentangku sering kudengar ketika aku sedang menginap di rumah mertua. Toh, semuanya tidak ada satupun yang berbekas didalam hatiku. Aku tahu bahwa ipar- iparku sempat cemburu padaku. Sempat aku merasa sebagai orang asing dalam keluarga mereka tapi seperti biasanya aku dengan gampang bisa mendapatkan keinginanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya dari keinginan keluarga suamiku untuk menikahkan anak perempuannya yang bungsu. Adik iparku ini hanya berselang umur 2 tahun dari kakak tertuanya yaitu suamiku. Tapi sampai hampir menjelang usia 30 tahun, dia belum mempunyai calon pasangan. Atau lebih tepatnya, karena pemalu, adik iparku ini tidak pernah mempunyai teman laki-laki. Untuk orang Sumatera seperti kami, belum nikah diatas umur 30 tahun merupakan aib tersendiri. Sibuklah keluarga suamiku mencarikan calon suami buat anak mereka, mengenalkannya dengan kerabat dan teman. Saat itu aku hanya tersenyum simpul, aku tahu persis bahwa aku punya saudara sepupu laki-laki jauh di Bangka sana yang persis sama masalahnya dengan adik iparku. Dia adalah dokter baru lulus yang sangat pemalu dan sebulan yang lalu aku sok akrab ber-sms ria dengannya untuk menanyakan kabarnya. Tentu saja, ada udang di balik batu dibalik sms-sms ku pada sepupuku itu. Aku tahu bahwa aku harus menjalin hubungan yang akrab dulu dengan nya sebelum menawarkannya pada adik iparku. Akhirnya perkenalan itu terjadilah, karena mereka sama-sama sudah siap nikah, sekarang mereka berdua sedang menjalin hubungan yang serius...hehehe berhasil juga misiku mengambil hati keluarga suamiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dengan ibu mertua, wah beliau orang yang paling gampang aku ”taklukan”. Sebelum pernikahan pun aku sudah merebut hatinya. Buatnya aku adalah menantu kesayangan. Bahkan dia sering membanding-bandingkan aku dengan anak-anak perempuannya yang lain. Ehem, sepertinya hal inilah  yang membuat aku sempat dicemburui berat oleh ipar-iparku... Kedua iparku adalah perempuan pekerja di luar rumah, mereka bahkan tidak sempat untuk mengobrol walau sebentar  dengan ibunya. Di sinilah aku dengan segala waktu luangku bisa sering menelepon beliau hanya sekedar untuk menanyakan resep rendang yang enak atau membuat asam padeh yang tidak amis. Wah, bisa kurasakan suaranya begitu bahagia, mungkin merasa dibutuhkan oleh seorang anaknya. Aku juga tidak segan membawa anakku pada sore hari tiba-tiba muncul di rumah neneknya membawa sebuah pepaya atau hanya membawa semangkok puding buah yang tidak seberapa nilainya. Setiap kali aku mendapat rezeki dari bisnis ku, aku juga tidak lupa dengan ibu mertuaku itu. Sering sehelai jilbab atau sebuah tas tangan kubelikan untuk beliau. Mungkin perhatian-perhatian yang tidak seberapa ini membuat beliau cepat jatuh hati padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, paling tidak enak bersaing dengan orang lain. Mungkin karena aku orang yang sangat tidak senang dengan konflik, jalan untuk bersaing dengan orang lain selalu kuhindari. Aku selalu mencari jalan lain untuk membuat orang menerima kehadiranku. Aku selalu mencari jalan lain untuk membuat orang memperhatikan aku. Cemburu ? kata itu tidak pernah aku kenal dalam kamus hidupku. Sebisa mungkin sebelum aku bersaing ketat dengan orang lain aku selalu sudah berbelok mencari jalan lain. Begitu juga dalam kehidupanku sebagai seorang perempuan, anak, istri dan menantu. Aku percaya bahwa sebagai seorang manusia sekaligus sebagai seorang perempuan aku memiliki kelebihan lain tanpa aku harus bersinggungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sungguh, untuk kasus cemburu kali ini, aku benar-benar tidak habis pikir. Kenapa aku benar-benar tidak berdaya dibuatnya. Kedua orang yang sama-sama aku cemburui ini adalah orang-orang tercintaku. Mereka punya tempat masing-masing di hatiku. Tapi kenapa ketika mereka sedang berdua, seakan aku tidak berada disana. Jadi sebenarnya aku cemburu pada suamiku atau cemburu pada anakku ?....Entahlah, yang kutahu rasanya aku sangat sayang pada mereka berdua. Mereka adalah alasan terkuatku untuk bertahan hidup sampai saat ini. ..Ataukah ini kah namanya cemburu karena cinta ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ya Alloh, lindungilah selalu orang-orang terkasihku, berilah mereka selalu cinta-Mu, berilah mereka selalu ketulusan untuk saling mencintai apa adanya dan persatukan kami kelak di surga-Mu. Amin...&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-1655395986234577675?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/1655395986234577675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=1655395986234577675&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1655395986234577675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1655395986234577675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/05/cemburunya-aku.html' title='Cemburunya Aku ....'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-3238634644725721968</id><published>2007-05-15T08:10:00.000+07:00</published><updated>2007-05-15T08:20:58.672+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang keluarga-ku'/><title type='text'>Tetangga depan belakang, kanan kiri</title><content type='html'>“Selamat datang Ibu-ibu undangan selamatan pernikahan putra tunggal ibu Haji Mariska sekalian…” suara dari pengeras suara itu mengagetkanku sore ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara apa tuh? Dengan antusias aku longokan kepalaku keluar jendela, Loh ada apa rame-rame di sana?. Supaya lebih jelas lagi aku melangkah menuju teras. Kulihat samar-samar di balik rimbunnya daun pohon sekumpulan ibu-ibu yang menggunakan kerudung berbaju rapi duduk melingkar. Dengan seksama kudengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari pengeras suara di seberang. Ternyata Bowo, anak ibu Haji akan menikah pekan depan rupanya. Terus ini acara apa ya?. Kutajamkan lagi mataku untuk melihat lebih jelas. Ada ibu Mar tetangga sebelah rumahku, ada Tante Mirna tetangga sebelah juga, ada ibu ketua cluster, bahkan ada mbak Vivi yang berlainan blok denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok aku gak diundang ya? Begitu gumamku sambil melangkah kembali ke dalam rumah. Padahal aku kan cukup dekat dengan bu Haji. Tiap berpapasan, pasti aku menegurnya walau tidak berbincang akrab. Begitu juga dengan Bowo, aku-lah yang memberi informasi tentang lowongan pekerjaan di kantor temanku sehingga dia tidak menganggur lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru satu setengah tahun lalu kami pindah ke komplek perumahan di daerah Cibubur ini. Komplek perumahan yang bagus, lingkungannya sudah tertata rapi. Pohon-pohon peneduh jalan juga sudah tumbuh tinggi di sana-sini. Aku-lah yang memutuskan untuk membeli rumah disini karena banyak pilihan sekolah untuk Shabrina di sekitar Cibubur. Tinggal memilih mau ke sekolah yang biayanya murah, menengah atau mahal, semua ada. Hanya uang yang menjadi penentu. Tinggal di sini cukup nyaman. Sistem cluster membuat tidak banyak mobil lalu lalang di jalan depan rumah kami. Sehingga Brina bisa leluasa bermain sepeda atau berlarian sepanjang sore. Dengan tetangga pun kami cukup akrab. Dengan konsep rumah taman yang tak ada pagar antar rumah membuat kami seakan menjadi dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, keputusan membeli rumah ini juga didasari oleh keinginan untuk hidup mandiri di atas kaki sendiri. Sampai lima tahun awal pernikahan, kami masih mengontrak. Kami memang belum sanggup untuk beli rumah sendiri. Dan ketika ada tawaran pinjaman (tanpa bunga) pembelian rumah dari perusahaan suamiku bekerja datang pada kami, tanpa pikir dua kali kami mengambil tawaran itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak penyesuaian dan adaptasi yang kulakukan sejak pindah kesini. Aku harus belajar mengatur rumahku sendiri beda dengan di rumah kontrakan dulu yang cenderung semau gue, mulai sedikit-sedikit belajar menata rumah dan belajar memasak. Dan terutama  adalah aku harus belajar untuk bersosialisasi dengan tetangga. Untuk aku yang mantan aktivis mahasiswa, dari hari ke hari kegiatanku hanya kampus dan rumah. Sangat jarang aku beramah tamah dengan tetangga. Saling mengunjungi, berbagi makanan, adalah sesuatu yang baru buatku. Sama sekali aku tak mengira bahwa masih ada kepedulian seperti itu di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aneh memang, di kompleks perumahan ini hal itu masih dijumpai. Ingat sekali, minggu pertama pindah kesini. Kami langsung melapor ke ketua cluster dan tak terlintas pikiran untuk mengenalkan diri pada tetangga sekitar rumah. Tak disangka malamnya serombongan ibu dan bapak mengetuk pintu rumah kami, dengan senyum lebar mereka memperkenalkan diri mereka satu persatu lengkap dengan nama anak-anaknya. Wah, sungguh kejutan buat kami. Apalagi rata-rata ibu dan bapak tadi sudah lebih tua dari kami. Apakah kami yang lebih muda ini kurang bisa berbasa-basi? Ataukah ini yang namanya tidak tahu tata krama? Tak tahulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu aku mulai belajar menjadi tetangga yang baik. Mulai ikutan arisan cluster dan senam taichi bersama tiap hari minggu di lapangan komplek. Suamiku-Rais- juga mulai ikutan klub mancing bapak-bapak. Tapi kami akui sering kami lakukan hal ini dengan terpaksa. Cuma memenuhi kewajiban. Tidak enak kalau tidak datang. Terus terang kami lebih nyaman bersantai di rumah bila ada waktu luang. Mengobrol bertiga di dalam kamar, Bercanda segala hal, dan baru mandi menjelang sore adalah acara favorit keluarga kami di akhir pekan. Kebetulan aku dan Rais memang tipe anak rumahan sejak kecil – setidaknya begitu kata Mama-mama kami. Ari-arinya dikubur di rumah sih, coba dilarung di laut begitu kata mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku berjalan menuju teras. Sambil pura-pura menyiram tanaman kuamati lagi kegiatan di rumah tetanggaku itu. Oh, sedang shalawatan rupanya. Pelan kusenandungkan shalawat berbarengan dengan suara dari seberang. Kembali aku menerawang jauh teringat pada masa-masa gadisku sebelum menikah. Dulu di tahun 1998 ketika perekonomian kita runtuh karena krisis ekonomi, aku pernah aktif di sebuah LSM yang bergerak di Cilincing. Di LSM  yang kudirikan bersama teman-teman seangkatanku, aku berada di divisi pendidikan. Program kami adalah menjalankan les matematika dan bahasa Inggris gratis buat anak-anak nelayan di Cilincing. Seminggu dua kali dari kampus Salemba kami beramai-ramai naik bis menuju terminal Tanjung Priok dan disambung lagi dengan naik angkot merah jurusan Cilincing. Perkampungan nelayan disana mayoritas dihuni oleh orang Madura. Untuk mendapatkan kepercayaan mereka, kami sempat dua bulan bolak-balik kesana tanpa melakukan apa-apa. Yang kami lakukan hanya duduk-duduk sambil mengobrol dengan sesepuh mereka di rumahnya. Saat itu benar-benar kurasakan kami berenam hampir saja menjadi orang Madura dengan segala tindak tanduk mereka. Canda khas mereka, logat bicara mereka bahkan sampai makanan kesukaan mereka sempat menjadi bagian hidup kami. Kami seakan menyatu dengan mereka. Pernah menjelang hari Raya kurban, LSM kami dimintai bantuan oleh masyarakat disana untuk mempersiapkan pemotongan hewan kurban. Karena acaranya besok pagi-pagi sekali, kami terpaksa menginap di sana. Di rumah salah seorang tokoh masyarakat, kami tidur hanya diatas tikar tanpa bantal. Malam itu sepicing matapun kami tidak tidur karena sibuk mengusir nyamuk laut yang terkenal galak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan sekarang, terutama aku, aku tidak merasa menyatu dengan orang-orang di kompleks ini. Lucu saja rasanya harus setor muka tiap sore mengobrol berbasa-basi dengan para ibu di depan jalan. Bukan apa-apa. Aku pikir obrolan sore itu hanya buang waktu saja, kalau tidak gossip ya ngomongin orang. Jadi-lah aku sering berada di dalam rumah sepanjang sore. Kalau tidak di depan PC, aku akan membaca satu buku yang tertunda. Tapi berbeda dengan Brina, dia punya banyak teman kecil di sekitar rumah sekarang. Dari balik jendela biasanya kuperhatikan dia yang sedang bermain dengan anak tetangga. Wah, aku kalah ngetop dengan Brina di sini. Ibu-ibu di cluster ini lebih mengenalku sebagai Bunda-nya Brina dibanding sebagai Bu Eva. Pernah ketika sedang lari pagi ke danau bersama aku dan ayahnya, tiba-tiba Brina menyalami tangan seorang nenek yang berpapasan dengan kami. Padahal aku tahu persis, dia bukan penghuni blok kami. Tentu saja kami bengong melihat tingkahnya, tapi sang nenek tidak marah malah tersenyum senang.  Selidik punya selidik dengan bertanya-tanya pada pembantuku, ternyata itu adalah eyang-nya Zahra – rumahnya beda tiga rumah dari kami- yang sebulan sekali datang dari Semarang dan menginap di rumahnya. Ternyata `ketenaran` anakku sudah melintasi propinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku memang tidak harus bertanya-tanya ataupun tersinggung karena tidak diundangnya aku ke selametan di seberang. Malah aku seharusnya lebih bisa mengintropeksi diri. Karena seperti kata Emak -nenekku, orang lain itu adalah cermin buat kita. Begitulah kita, maka begitulah orang lain kepada kita. Mungkin aku memang harus belajar ikhlas dan tulus dalam segala hal seperti tulusnya seorang anak, seperti Shabrina. Apalagi pada tetangga, saudara kita yang paling dekat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-3238634644725721968?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/3238634644725721968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=3238634644725721968&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3238634644725721968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3238634644725721968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/05/tetangga-depan-belakang-kanan-kiri.html' title='Tetangga depan belakang, kanan kiri'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-8946196969579154566</id><published>2007-05-08T09:23:00.000+07:00</published><updated>2007-05-08T14:54:05.615+07:00</updated><title type='text'>Anak-anak</title><content type='html'>Bahkan dalam dunia nyata, hubungan seperti itu agak susah terjadi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat orang wanita, dua berkulit sawo matang, dua yang lain bermata sipit dan berkulit putih bersih. Mereka duduk bersila saling berhadapan. Lutut bertemu lutut dengan tangan-tangan yang terkadang saling menepuk. Senyum dan tawa tak lepas dari keempatnya. Entah apa yang mereka bicarakan tapi raut muka mereka terlihat senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pojok lain duduk tiga orang wanita dengan komposisi yang agak ‘aneh’. Seorang wanita berumur, tangannya memegang erat rosarionya. Wanita kedua, berkerudung dan berbusana rapat. Seorang lagi wanita muda berkuncir panjang dengan busana sederhana. Sama seperti yang lain, walau mereka duduk bersisian tapi mata mereka saling menatap dan wajah mereka terlihat senang. Tak lama terdengar bel panjang berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak. Anak-anak lah yang bisa menyatukan semua perbedaan itu. Mereka adalah para orang tua. Demi anak-anak mereka, mereka mau menyingkirkan semua kesungkanan dan keengganan. Mereka bersatu bahu membahu saling tolong satu sama lain menciptakan lingkungan belajar yang baik untuk anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi anak-anak juga, para ibu mau kembali belajar. Tak peduli sudah berapa S yang mereka dapatkan dibelakang nama mereka, para ibu tadi mau dengan tekun mengikuti pelatihan, membayar mahal untuk belajar menjadi orang tua. Demi anak-anak juga, mereka mau melompat seperti kelinci bahkan menari tarian perang Indian. Mereka bersatu bahu membahu saling tolong satu sama lain membuat diri mereka menjadi orang tua yang lebih baik untuk anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak. Tidak ada satupun yang lebih berharga bagi orang tua kecuali anak-anak mereka. Pada seorang anak nilai cinta dan pengorbanan lebur didalamnya. Pada seorang anak nilai ketulusan dan kesungguhan bersatu didalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang, anak adalah karunia terbesar yang diberikan oleh Allah SWT kepada mereka. Sedangkan bagi sebagian orang lagi, anak adalah bencana terbesar buat mereka. Sehingga tidaklah heran ketika ada sepasang suami istri kenalan saya yang selalu dengan bangga memperkenalkan ketiga orang anak mereka sebagai kado terbesar dari Tuhan padahal ketiganya mengalami keterbelakangan mental. Sedangkan ada lagi di pojok Bekasi sana seorang anak membunuh ayah kandungnya gara-gara tidak dibelikan sepeda motor. Buat seorang Nuh AS, anaknya adalah penentangnya yang paling terdepan. Dan buat Muhammad SAW, anaknya adalah penghibur hati ketika orang lain membelakanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun dulu juga seorang anak, punya orang tua. Sekarang kita adalah orang tua dan punya anak. Tapi seringkali kita lupa bagaimana menjadi anak. Memang ingatan kita sangat pendek. Kita bahkan tidak ingat lagi perasaan sedih kita dulu ketika sedang dimarahi. Mungkin memang karena kesalahan kita, tapi bukankah kita tidak sengaja melakukannya. Bukan maksud hati untuk menumpahkan Coca-cola ke karpet baru ibu kita, tapi karena tangan ini tidak sengaja menyenggol gelas. Bukan maksud hati untuk mendapatkan nilai jelek, tapi karena otak ini tidak senang pelajaran matematika. Kita lupa bahwa bukan kepala ini saja yang tertekuk ketika sedang dimarahi, tapi hati ini ikut tertekuk karenanya. Kita sudah lupa menjadi seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orang tua adalah suatu keterampilan yang harus dipelajari. Menjadi orang tua memerlukan energi yang besar. Dulu sebelum menikah, saya berpikir bahwa menyusui bayi itu gampang, naturally saja dan seringkali heran melihat teman-teman yang mengambil kursus menyusui dikala hamil. Tapi setengah jam setelah melahirkan, baru saya sadari bahwa menyusui bayi adalah sebuah hubungan, lebih kompleks dari sekedar memberikan susu. Dan tekhniknya pun ternyata harus dipelajari agar saya dan bayi saya sama-sama merasa nyaman. Bukan sekedar memasukkan mulut bayi ke puting kita. Ternyata ini sebuah keterampilan yang harus dipelajari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum anak saya lahir, saya juga selalu berpikir bahwa Allah SWT sudah menganugerahi saya insting untuk menjadi orang tua buat anak saya. Buktinya Allah SWT sudah mempercayai saya untuk hamil. Pastilah saya bisa menjadi orang tua, pikir saya. Tapi baru setahun umur anak saya, saya baru menyadari bahwa anak saya adalah seseorang yang berbeda dari saya. Dia bukan saya. Dia punya keinginan sendiri, punya pilihannya sendiri. Bagaimana saya bisa memahaminya? Dia sama sekali berbeda dengan saya. Darimana saya tahu apa keinginannya, apa saja pilihannya? Ternyata saya harus belajar. Ternyata menjadi orang tua adalah sebuah keterampilan yang harus dipelajari.&lt;br /&gt;Mungkin kita juga adalah orang yang berbeda dengan suami kita. Tapi kita sama-sama orang dewasa. Kita bisa saling bicara, mengkomunikasikan maksud dan tujuan kita. Mungkin walau kita berbeda tapi kita bisa duduk satu meja. Tapi bagaimana kita berunding dengan seorang anak bermata bulat yang baru berumur setahun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Allah SWT ‘hanya’ menganugerahi kita insting mencintai, menyayangi dan melindungi anak kita. Tapi ternyata menjadi orang tua tidaklah cukup hanya dengan bekal cinta, kasih sayang dan perlindungan. Allah SWT mengharuskan kita untuk cari tahu bagaimana kita bisa menjadikan kertas putih jiwa anak kita terisi dengan tinta warna-warni kebahagiaan. Mengharuskan kita mencari tahu bagaimana caranya kelak anak-anak kita menjadi seorang yang baik dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kalau manusia adalah makhluk dengan ingatan jangka panjang, maka kita bisa bercermin dari pengalaman kita menjadi anak dulu. Dan tidak mengulangi perbuatan salah orang tua kita. Tapi masalahnya, manusia tidak seperti itu. Sesuai dengan fitrahnya, manusia selalu lupa. Oleh karena itulah saya menyadari bahwa saya mesti belajar. Belajar menjadi orang tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menatap makhluk mungil didepan saya -rambutnya yang mirip ayahnya, mata dan hidungnya sudah pasti itu mirip saya- membuat saya kehilangan kata-kata. Apakah begini rasanya memiliki sesuatu yang sangat dicintai tapi tidak selamanya? Apakah begini rasanya mengira mempunyai sesuatu yang merupakan bagian diri ini tapi ternyata tidak ? Harus bagaimana saya kepadanya? Bisakah saya menjadi ibu yang baik baginya? Bisakah saya menjadi tauladannya?  Bisakah saya selalu menjadi tempat pelariannya dikala ia sedih? Bisakah saya selalu jadi temannya? Bagaimana kalau ternyata saya kelak mengecewakannya?, menyakitinya?, membuat ia menangis? Bagaimana kalau saya tidak bisa membahagiakannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mau berkorban apapun untuk dia. Saya mau lakukan apapun untuk dia. Dan saya tidak akan mau dibalas untuk semua pengorbanan dan semua perbuatan saya itu. Saya ikhlas, saya memang hidup untuknya. Anak-ku, bunda cinta padamu….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-8946196969579154566?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/8946196969579154566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=8946196969579154566&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8946196969579154566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8946196969579154566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/05/anak-anak.html' title='Anak-anak'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-6050211443977783486</id><published>2007-04-30T18:32:00.000+07:00</published><updated>2007-05-01T08:57:59.276+07:00</updated><title type='text'>Bangkrut !</title><content type='html'>Tahu rasanya terjatuh ?...Sakit sangat sakit... Apalagi bila kita jatuh ke dalam lobang yang tidak pernah kita sangka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun yang namanya kebangkrutan. Wajar saja jika mengalami kebangkrutan karena yang namanya hidup pasti ada saatnya diatas dan ada saatnya berada dibawah. Tidak mudah untuk bangkit dari sebuah kejatuhan. Butuh jiwa besar untuk berkaca diri, "Apa sebenarnya salah saya ?", "Dimana sebenarnya salah saya ?"...Dan yang namanya menelanjangi diri di depan cermin bukanlah sesuatu yang enak untuk dinikmati. Melihat benjolan selulit disana-sini, melihat pinggul yang tidak seperti gitar lagi, melihat dada yang tidak indah lagi.. Huiih apa enaknya melihat satu persatu kejelekan diri sendiri ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi, ketika aku membantu membenahi rumah seorang teman yang terpaksa harus dijual karena terlibat hutang. Bukan karena usahanya, bukan karena bisnisnya dia berhutang. Tapi karena gaya hidup yang tidak sesuai buat dirinya. Sedih, hanya itu kata yang melintas dalam kepalaku ketika satu persatu harta yang dulu dia sangka adalah aset buatnya dinaikkan ke atas truk. Ranjang besar dengan kasur springbednya, lemari besar 3 pintu, buffet besar tempat pajangan, furniture ruang tamu, 2 buah televisi, dan sebagainya, dan sebagainya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih... karena merupakan sebuah perjuangan buat aku dan suamiku membeli barang-barang seperti itu buat mengisi rumah kami. Tidak mudah seperti temanku, kami melewati satu perjuangan untuk mendapatkannya. Ingat kisah kami mengontrak di sebuah gang sempit di awal pernikahan kami. Ingat kosong melompongnya ruang tamu kami saat itu, ingat ketika harus memasak di kompor yang harus diletakkan begitu saja di atas lantai, ingat motor butut pertama kami, ingat ranjang ku semasa gadis yang terpaksa ku"pinjam" dari mama, ingat setiap detil bau got yang selalu menyertai hujan di gang sempit itu, ingat setiap keberisikan yang terjadi setiap malam karena banyak orang nongkrong di depan rumah kami, ingat setiap kernyitan tidak senang keluarga besar kami ketika harus datang ke rumah kami, ingat setiap perkataan sindiran dari mereka setiap menyinggung keadaan rumah kami. Semua ini kami jalani selama 5 tahun dalam 6,5 tahun umur pernikahan kami sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah sekalipun kami mengeluh apalagi mencoba untuk mencari jalan pintas keluar dari proses yang memang harus kami jalani ini. Kami berdua tahu dan sadar sekali, bahwa orang tua kami bukanlah orang berada yang bisa memberikan setumpuk warisan buat kami. Dengan kedua kaki kami, kami harus berdiri tegak dan mandiri menjalani hidup apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang sulit dan penuh liku. Tapi kami tidak pernah mau terjebak dalam sebuah kesemuan. Kami hidup semampu kami. Kami tidak mau berhutang. Itulah prinsip kami. Kenyataan bahwa kami baru mampu mengontrak rumah di sebuah gang sempit, kenyataan bahwa kami belum bisa "mengisi" perabot rumah kami, kenyataaan bahwa hanya motor butut yang baru mampu kami beli untuk menjadi kendaraan kami. Itulah kenyataan yang harus kami jalani hari demi hari. Tidak apa-apa, tidak masalah...Semua akan tiba waktunya..Itu saja yang kami yakini !...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi, melihat satu persatu barang-barang milik temanku pelan-pelan dinaikkan ke atas truk membuat aku tambah menyadari bahwa kita tidak akan memperoleh sesuatu bila memang belum tiba waktunya. Tidak akan ada gunanya kita mempersingkat proses itu, tidak akan ada gunanya kita mencoba berlari. Semuanya ada waktunya, dan semuanya akan terjadi ketika sudah saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa gunanya merengkuh sesuatu yang sebenarnya belum bisa terengkuh. Bisa-bisa terjerambab nanti. Apa gunanya mengejar sesuatu yang memang belum bisa kita raih. Bisa kecewa kita nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuntum bunga akan mekar pada waktunya, buah mangga akan matang bila sudah waktunya dan si kecil kita pun akan merangkak bila memang sudah waktunya. Semua hal di dunia mempunyai waktunya masing-masing, dan kita harus sabar serta berteguh hati melewati prosesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih saja kupandangi rumah besar bertingkat dua bergaya minimalis yang akhirnya telah kosong itu, sebelum aku mengunci pintunya. Aku ucapkan salam perpisahan kepada siapapun makhluk yang ada didalamnya. Entah kemana si mantan pemilik rumah. Entah kemana perginya temanku itu. Mungkin dia sedang menyesali kesalahannya, mungkin dia sedang bercermin diri atau malah dia sedang berlari dari kenyataan. Yang aku tahu, dia tidak boleh mengulangi lagi kesalahannya. Dia harus belajar berani menghadapi kenyataan. Dia harus belajar bersabar dan sedikit perlahan menjalani hidupnya. Yang terpenting, dia harus belajar bahwa dia tidak boleh hidup dalam dunia yang tidak nyata. Jangan sekali-kali lagi !...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-6050211443977783486?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/6050211443977783486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=6050211443977783486&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6050211443977783486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6050211443977783486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/bangkrut.html' title='Bangkrut !'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-4607828241019827027</id><published>2007-04-21T12:10:00.000+07:00</published><updated>2007-04-21T12:42:34.459+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang Shabrina'/><title type='text'>Obrolan kemarin malam</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RimiR1ekgEI/AAAAAAAAABM/1qggFiEWoCo/s1600-h/IMG_0145.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RimiR1ekgEI/AAAAAAAAABM/1qggFiEWoCo/s200/IMG_0145.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5055750483996868674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap anak itu unik. Kadang orang tua yang menginginkan anaknya persis seperti dirinya. Orang tua sering mempersepsikan dirinya kepada anaknya. Padahal mereka berbeda, walau sedarah mereka bukanlah satu individu yang sama. Bukan hanya memaksakan ‘menjadi’ kita, tapi harapan-harapan kita pun sering kita jejalkan pada anak-anak kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan aku. Aku yang selalu mandiri sejak kecil karena diasuh oleh pembantu, sangat risau melihat Shabrina yang selalu menempel padaku. Memang sih, keinginanku sendiri untuk mengurus Shabrina sejak bayi tanpa bantuan mbak atau baby sitter tapi sungguh aku tak menyangka bahwa ini menyebabkan anakku menjadi sulit berpisah denganku. Susah sekali untuk pergi meninggalkan Shabrina, walau aku pergi hanya sebentar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepingin sekali kadang-kadang pergi sendiri sejenak melepaskan atribut ke-istri-an dan ke-bunda-an ku. Pingin sekali-kali menginap kumpul bareng teman-teman kuliah dulu, tapi sepertinya tak mungkin. Pernah dulu setahun lalu aku nekat pergi menginap ke Puncak dalam rangka reuni SMA-ku, baru 12 jam aku disana suamiku sudah menelponku mengabari bahwa tiba-tiba saja suhu badan Shabrina naik dan tidak mau makan bila tidak disuapi oleh bundanya. Sungguh berbeda 180 derajat denganku. Sejak TK, mama sudah sering pergi tugas keluar kota meninggalkan suami dan anak-anaknya karena pekerjaannya sebagai auditor. Dalam sebulan bisa sepuluh hari mama di luar daerah. Frekuensi tugas luar kota mama cukup sering dan selama itu meninggalkan anak-anaknya hanya bersama papa dan pembantu saja di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya akhir bulan ini aku dan tiga sahabatku berencana untuk melancong ke Lombok selama 2-3 hari. Kebetulan salah satu sahabatku berasal dari sana, pulang kampung sekalian jalan-jalan ngajak teman, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh sayang, gak mungkin banget dong. Nanti kan tante-tante semua yang ikut. Fira, Citra, Shasa tidak ada yang ikut mamanya kok.” &lt;br /&gt;“Ya udah, bunda gak usah pergi aja”. Oalah, kok jadi aku yang harus batal pergi ?. Kutatap lagi mata bulatnya, ada kebingungan disana. &lt;br /&gt;“Kalo bunda gak ada, nanti aku sama siapa ?”&lt;br /&gt;“Kan ada ayah, sayang. Terus nenek, kakek dan tante Amel juga nemenin kamu di sini. Nanti bunda minta tante Amel ajakin kamu jalan deh”, bujukku.&lt;br /&gt;“Ah, sama ayah gak asyik, bunda. Aku maunya sama bunda aja” Tambah susah nih kalo begini, pikirku. &lt;br /&gt;“Bunda kan juga mau refreshing, cinta. Bunda pengen juga senang-senang sama temen-temen bunda”.&lt;br /&gt;“Emang bunda sekarang gak seneng ya, bun ?. Ayah sama aku sering bikin bunda pusing ya?”&lt;br /&gt;“Bukan begitu. Seperti kamu juga, sekali-kali kamu juga pengen kan sendirian di dalam kamar tanpa diganggu ayah dan bunda. Iya kan ?.”&lt;br /&gt;“Aku gak ngerti. Kalo aku sendirian di kamar aku kan gak ninggalin siapa-siapa. Tapi kalo bunda ke Lombok, berarti bunda ninggalin ayah dan aku” Wah, salah analogi tadi, kataku dalam hati. &lt;br /&gt;“Aku gak mau pergi sekolah sendiri, makan siang sendiri, tidur siang sendiri. Aku maunya ada bunda”&lt;br /&gt;“Bunda ada terus di sini, nak. Bunda tidak meninggalkan kamu. Bunda cuma pergi sebentar” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huih, seandainya aku bisa cerita bagaimana dulu neneknya sering sekali meninggalkan bundanya ini sendirian. Bukan sesuatu yang aneh untuk Eva kecil harus berangkat sekolah sendiri, harus belajar sendiri, harus makan malam sendiri. Memang mulanya akan terasa aneh, tapi toh akhirnya bundanya ini baik-baik saja sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo bunda gak ada, sama siapa aku harus cerita ?” katanya lagi. Bingung aku. Sepertinya bidadari kecilku ini banyak temannya. Bahkan kata gurunya dia termasuk anak supel di kelasnya. Aduh nak, keluhku, zaman sudah cukup maju untuk hanya mempersoalkan jarak. Toh sekarang ada telepon, walau bundamu ini jauh kita masih bisa saling ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku gak bakal bisa tidur kalo gak dipeluk bunda dulu. Jangan pergi ya, bun?.” Kayaknya sudah mulai didramatisir nih, pikirku. Sepertinya aku harus mulai bicara logis dengannya.&lt;br /&gt;“Shabrina, kamu sudah besar sekarang. Pasti bisa mengurus diri sendiri. Tidak harus mesti ada bunda”&lt;br /&gt;“Tapi bun, aku kan masih TK, aku belum dewasa, Bun..”. Nah loh..Dia udah mulai ngomong tentang kedewasaan, hehehe.... &lt;br /&gt;"Bukan begitu maksud bunda, nak. Tapi tidak ada salahnya dua orang yang saling mencintai pun terpisah sekali-sekali"&lt;br /&gt;“Maksud bunda?”&lt;br /&gt;“Maksud bunda, Hidupmu akan terus berjalan walau tidak ada bunda di sampingmu. Semua akan berjalan baik-baik saja” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan kami malam tadi tidak menemukan titik temu. Mungkin memang belum sampai kesana tingkat kemandirian anakku. Baginya aku masih sangat diperlukan sebagai penyemangat dan pemandu soraknya. Aku memang tidak bisa terlalu memaksakan proses ini. Biarlah secara perlahan kepercayaan diri anakku akan mekar berkembang dengan sendirinya. Biarlah waktu yang membuktikan bahwa walaupun bundanya tidak secara fisik ada di sampingnya tapi selalu ada menemani dalam hatinya. Mungkin dia masih terlalu takut untuk berjalan sendirian setelah sekian lama selalu berjalan bergandengan tangan denganku. Walau ada sisi hati yang merasa agak kecewa karena ketidakmengertian ini, ada sisi hati lain yang berbunga karena masih merasa dibutuhkan olehnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya aku memang harus memperlambat langkahku karena ternyata Shabrina lebih lambat memaknai arti kata ‘perpisahan’ dibanding Eva kecil dulu. Tapi tentu saja, bukan berarti Eva dulu lebih baik dibanding Shabrina sekarang. Ini hanya masalah waktu. Waktu yang anak-anak kita butuhkan untuk terbang lepas dari orang tuanya. Dan sekali anak panah itu lepas dari busurnya, tidak akan pernah tahu kita ke arah mana dia akan berbelok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang pasti, sepertinya batal juga refreshingku ke Lombok...hehehe&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-4607828241019827027?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/4607828241019827027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=4607828241019827027&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4607828241019827027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4607828241019827027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/obrolan-kemarin-malam.html' title='Obrolan kemarin malam'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RimiR1ekgEI/AAAAAAAAABM/1qggFiEWoCo/s72-c/IMG_0145.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-6056105926534236629</id><published>2007-04-18T17:41:00.000+07:00</published><updated>2007-04-18T17:49:19.607+07:00</updated><title type='text'>Bisnisku, Cintaku</title><content type='html'>Mengelola bisnis sendiri buat seorang perempuan adalah bagaikan memelihara cinta. Butuh pengorbanan, ketelatenan, kesabaran dan yang terpenting butuh konsistensi. Sungguh, terkadang kita sering salah mengartikan bisnis yang kita lakukan saat ini hanya sekedar ajang mencari uang. Yah, siapa yang tidak butuh uang saat ini. Mungkin sebagai seorang perempuan kita senang menjadi seorang ibu, menjadi seorang istri yang senantiasa berada di samping suami dan anak-anak. Tapi menghasilkan uang adalah sebuah pencapaian tersendiri karena dengan bisa menghasilkan uang maka ada nilai kemandirian dan harga diri disana. Apalagi kalau kita bisa juga sekaligus membantu keuangan keluarga. Tapi tidak lantas uang-lah yang menjadi tujuan utama kita dalam memulai bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, memulai sesuatu haruslah karena cinta. Memulai sesuatu lebih bagus bila karena ada ketertarikan di sana. Begitu pun dengan memulai sebuah bisnis. Aku teringat ketertarikan pada bisnis konsultasi nutrisi yang sekarang aku jalani berawal dari adanya ikatan emosi dengan produk nutrisi ini. Sebuah program diet yang berhasil mengubah hidup ku 180 derajat. Kondisi kegemukan yang dulu aku kira merupakan takdir karena keturunan, kondisi kegemukan yang dulu aku kira adalah suatu hal yang wajar karena sudah melahirkan dan proses menyusui selama 1 tahun, kondisi kegemukan yang dulu aku kira merupakan suatu hal yang wajar buat pemakai kontrasepsi. Dan pandangan ini langsung sirna ketika diri ini berhasil menurunkan berat badan melalui program nutrisi ini. Itulah awal semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bilangan Jakarta Selatan sana, ada sebuah rumah makan khas Betawi yang menyajikan makanan asli Betawi yaitu Pucung Lele dan Gabus. Rumah makan ini hanya buka mulai pukul 10.00 sampai 14.00 dan rumah makan ini tidak memiliki cabang dimanapun. Penampilan rumah makan itu tidak bagus, bahkan cenderung sederhana berada di sebuah pinggir jalan. Tak ada papan nama besar terpasang di depan rumah makan itu, tapi saat makan siang kita bisa melihat pelanggan harus antri untuk mendapatkan kursi. Pak Haji yang merupakan pemilik rumah makan menyapa langsung para pelanggannya sambil tersenyum rendah hati. Di pundaknya tersampir lap untuk mengelap meja yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggannya. Sambil tertawa-tawa, si Pak Haji bisa memperbincangkan segala hal dengan pelanggannya, mulai dari pertandingan sepak bola tadi malam sampai kurs dolar yang naik turun. Sedangkan sang istri sibuk melayani pembeli di belakang etalase. Tapi jangan main-main dengan omsetnya, dalam sehari Pak dan Bu Haji bisa mengantongi omset Rp.5-6 juta. Coba hitung kira-kira berapa keuntungan bersih mereka di bisnis makanan  yang notabene bisnis ini bisa menghasilkan laba 20%-40%. Yang istimewanya, di teras rumah makan itu tersedia puluhan tandan pisang yang bisa diambil gratis oleh para pengunjung ketika mereka pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sekilas, model usaha Pak Haji ini tidak memenuhi syarat sebuah bisnis modern yang memang sangat ”mengagungkan” sistem. Padahal kalau saja Pak Haji mau bisa saja beliau membuka cabang di tempat lain dengan sistem franchise misalnya. Tapi kenapa tidak dia lakukan hal ini ?. Dari wawancara singkat dengan beliau, Pak Haji dengan lugunya mengakui bahwa dia tidak mengerti cara mengelola cabang di tempat lain. Beliau hanya tahu bahwa dengan berdagang makanan betawi ini dia bisa menyelamatkan budaya betawi yang sudah terpinggirkan sekarang. Terlihat bahwa pak Haji begitu sangat mencintai budaya nenek luhurnya ini. Dengan hanya memiliki satu cabang di depan rumahnya ini, dia bisa menyapa satu persatu langganannya. Dan bukti kecintaan beliau pada bisnisnya ini tergambar dari cara beliau menangani pemilihan setiap ikan untuk masakan pucung nya. Dia pilih satu persatu ikan yang akan dimasak dari pemasok yang sudah dia percayai bertahun-tahun. Menurutnya setiap pelanggan rumah makannya  harus mendapatkan ikan yang sama kesegaran, ukuran dan besarnya. Luar biasa !&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika kita melakukan sesuatu dengan cinta, maka otomatis akan terpancar keluar hasilnya. Orang akan lebih nyaman berada dekat kita, orang akan merasa lebih terbuka, lebih maklum pada setiap kekurangan kita. Begitu pula dengan bisnis kita. Ketika kita membuat sebuah kalung manik dengan cinta, di sela pembuatannya mungkin kita bisa bayangkan bahwa si pemakai pasti akan bertambah cantik bila mengenakan kalung ini. Pasti berbeda hasilnya dengan kalung hasil kerajinan massal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita menemukan bisnis yang kita cintai? Mulailah dengan mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Apa sih ketertarikan saya sebagai seorang perempuan, apakah saya senang dengan anak-anak, senang mengajari orang lain, senang dengan pendidikan ? Ataukah saya senang berbagi, senang memecahkan masalah orang lain , senang dengan kata „mengelola“ ? Dari sinilah kita bisa memupuk rasa cinta kita dengan memfokuskan bisnis kita pada ketertarikan yang kita miliki. Pernah dengar, ada seorang ibu di California yang membuat website tentang ”bagaimana memilih nama buat anjing anda ?”  dan ternyata bisa mendulang ribuan dollar dari websitenya itu?. Ibu ini senang dengan makna di belakang setiap nama dan dia tahu bahwa jutaan orang di seluruh dunia mempunyai anjing peliharaan- yang pasti membutuhkan nama !. Robert T.Kiyosaki juga  adalah seorang pengusaha yang mengembangkan bisnisnya dari kecintaannya mengajarkan sesuatu untuk orang lain. Dengan kecintaan nya mengajar itu, Kiyosaki bisa membuat bisnis penerbitan buku, bisnis pelatihan kewirausahaan, bahkan bisnis properti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta juga yang bisa membuat kita cepat bangkit dari keterpurukan. Apabila suatu hari, bisnis kita mengalami kebangkrutan maka lebih mudah untuk bangkit bila kita mencintainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukanlah bisnis kita dengan satu gairah yang paling mendasar dari dalam diri kita. Jangan pernah melakukan sesuatu karena hal-hal lain di luar diri kita. Karena sebagaimana hidup, maka bisnis kita pun memerlukan pupuk yang berasal dari cinta dan kasih sayang kita. Sebuah pemikiran sederhana bahwa cinta akan menghasilkan kekuatan bisa mendasari kita juga untuk menetapkan hati pada sebuah bisnis. Tidak melulu hanya uang dan kekayaan yang kita cari di dunia ini. Tapi rasa puas karena bisa menolong orang lain, rasa puas karena bisa membuat orang lain sejahtera, sangat sangat lebih berarti dibanding uang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-6056105926534236629?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/6056105926534236629/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=6056105926534236629&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6056105926534236629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/6056105926534236629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/bisnisku-cintaku.html' title='Bisnisku, Cintaku'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-8553373599120139092</id><published>2007-04-16T18:09:00.000+07:00</published><updated>2007-04-16T18:23:24.782+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang keluarga-ku'/><title type='text'>Buat Seorang Pria</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RiNcbCZ7LGI/AAAAAAAAABE/DSvjcMZ11rc/s1600-h/ngedot_3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RiNcbCZ7LGI/AAAAAAAAABE/DSvjcMZ11rc/s200/ngedot_3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5053984826411658338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabbi….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdoa untuk seorang pria, yang menjadi bagian dari hidupku&lt;br /&gt;Seorang pria yang sungguh mencintai Mu lebih dari segala sesuatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria yang akan meletakkan ku pada posisi kedua dihatinya setelah Engkau&lt;br /&gt;Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk MU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria yang mempunyai sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau&lt;br /&gt;Dan memiliki keinginan untuk meneladani sifat-sifat Agung Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria yang mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia&lt;br /&gt;Seorang pria yang mempunyai hati yang bijak bukan hanya sekedar otak yang cerdas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria yang tidak hanya mencintai ku tetapi juga menghormatiku&lt;br /&gt;Seorang pria yang tidak hanya memuja ku tapi dapat juga menasehatiku ketika aku berbuat salah&lt;br /&gt;Seorang pria yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tetapi karena hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi&lt;br /&gt;Seorang pria yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika berada di sebelahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya&lt;br /&gt;Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya&lt;br /&gt;Seorang pria yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya&lt;br /&gt;Seorang pria yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku juga meminta ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatlah aku menjadi seorang perempuan yang dapat membuat pria itu bangga&lt;br /&gt;Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintai Mu, sehingga aku dapat mencintainya dengan cinta Mu, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikanlah sifat Mu yang lembut sehingga kecantikanku datang dari Mu bukan dari luar diriku&lt;br /&gt;Berikanlah aku tangan Mu sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikanlah aku penglihatan Mu sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya bukan hal buruk saja.&lt;br /&gt;Berikanlah aku mulut Mu yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaan Mu dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari, dan aku dapat tersenyum padanya setiap pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bilamana akhirnya kelak kami akan bertemu di padang mashyar, aku berharap kami berdua dapat mengatakan “Betapa besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku seorang yang dapat membuat hidupku menjadi lebih sempurna”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kau tentukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(puisi dari seorang teman)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-8553373599120139092?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/8553373599120139092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=8553373599120139092&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8553373599120139092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8553373599120139092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/buat-seorang-rria.html' title='Buat Seorang Pria'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RiNcbCZ7LGI/AAAAAAAAABE/DSvjcMZ11rc/s72-c/ngedot_3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-8243789904880314405</id><published>2007-04-14T08:02:00.000+07:00</published><updated>2007-04-14T13:41:18.233+07:00</updated><title type='text'>Ayah Botak !</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RiAx5CZ7LEI/AAAAAAAAAA0/9YcZfytYdZY/s1600-h/ayahku.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RiAx5CZ7LEI/AAAAAAAAAA0/9YcZfytYdZY/s200/ayahku.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5053093637877607490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suami-ku botak !..Katanya terakhir kali dia membotak kepalanya sewaktu dia SMA dulu kira-kira 13-14 tahun yang lalu. Lucu juga sih ngeliat dia dengan penampilan baru...Masih tetep ganteng sih :), tapi kok kayaknya seperti ada yang hilang ya ?.. (yang hilang ya rambutnya dong..hihihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan ayah tercinta membabat habis rambutnya adalah karena dia lagi bosen beraaaat..Wah, sempet sih terpikir apa yang bikin dia bosan banget begitu ? Pekerjaannya kah ? ... Istri nya kah ?... Rumah kami kah ?... atau...? Banyak pikiran kembali berkecamuk ketika akhirnya ayah pun memutuskan untuk mengambil cuti panjang 14 hari dari kantor..Sepanjang umur pernikahan kami yang hampir 7 tahun ini, belum pernah ayah cuti kerja selama ini.. Ada apa dengan ayah ?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan ?...Capek ?...Jemu ?...Mungkin itulah alasan yang memang sedang suamiku rasakan saat ini..Perasaan yang wajar karena itu manusiawi sekali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun sering sekali dilanda kebosanan..Diantara kesibukan mengurus rumah, anak dan bisnisku... Pengen sekali-kali lepas dari predikat "istri dan bunda" walau sehari saja... Bayangkan saja setiap hari itu-itu saja yang harus aku lakukan setiap hari..Dari jam ke jam dari pekan ke pekan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah setiap manusia memang sudah dilahirkan untuk menjalani takdirnya ?... Benarkah yang namanya takdir dan suratan itu tidak bisa diubah ?... Dan banyakkah yang harus dikorbankan ketika kita berkeras untuk tidak menjalani takdir itu ?.. Apakah setiap manusia membawa misi dengan takdirnya masing-masing ?... Adakah yang harus dia emban dibalik setiap perjalanan takdirnya ?..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu lulus SMA dulu, aku sempat ragu-ragu untuk memilih kemana aku akan kuliah.. Yang terpikir pokoknya aku harus kuliah untuk membahagiakan papa dan mama.. Padahal jauh di sudut hatiku, aku ingin belajar menjadi seorang penulis, pedagang atau pengusaha , tapi keinginan mama untuk menjadikan aku seorang dokter membuatku akhirnya memilih Fakultas Kedokteran Gigi sebagai pilihan pertama ku di UMPTN..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika akhirnya Alloh SWT meluluskan aku , Aku anggap ini sebagai takdir hidup yang harus aku jalani dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari aku lewati sebagai seorang mahasiswa kedokteran gigi. Yang namanya bosan jangan ditanya, karena aku menjalani kuliah ini bukan dengan kemauanku... Tapi aku tahu aku harus kuat menjalani takdirku...Akhirnya aku "kombinasikan" kejemuanku di kampus dengan asa-ku. Aku aktif menjadi aktivis senat mahasiswa. Aku banyak menuliskan pikiran-pikiranku lewat majalah kampus, aku asah bakat kepemimpinan dan bakat dagang-ku dengan menjadi ketua koperasi mahasiswa. Merintis dari bawah koperasi mahasiswa di lingkungan FKG UI yang sebelumnya adalah sebuah institusi yang penuh dengan korupsi dana oleh para pengurus sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang harus sesekali keluar dari rutinitas kita sehari-hari karena kita tidak mungkin mengubah takdir hidup kita. Aku tahu dan sadar bahwa bila saja aku menolak untuk menjalani takdirku, menjalani kehidupanku dari hari ke hari maka aku tidak akan menjadi eva yang sekarang.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, kalo saja dulu aku memutuskan untuk tidak berkuliah di UI, mungkin aku tidak akan dipertemukan dengan suamiku :), kalo saja dulu aku tidak menjalani kuliahku dengan baik mungkin aku tidak akan bisa menjadi seorang ibu rumah tangga yang sekaligus bisa berbisnis juga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun  Alloh tahu yang terbaik buat kita.. Dan apabila kita sedang lelah dan bosan, tidak ada salahnya untuk menepi sebentar sembari merenungkan arti kehadiran kita di dunia, untuk siapa dan apa sebenarnya kita hidup di dunia ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi diri sendiri ? untuk uang ? untuk keluarga ? untuk anak ? atau sebenarnya kita hanya mampir sebentar di dunia untuk menuju kehidupan lain yang lebih panjang setelahnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ya Rabb,&lt;br /&gt;Jangan sampai Kau butakan mata hatiku dan keluargaku dari hal-hal yang fana&lt;br /&gt;Buatlah kami selalu menyadari bahwa nikmat-Mu lebih besar buat orang-orang yang bersabar&lt;br /&gt;Buatlah kami selalu menyadari bahwa hidup kami, takdir kami mempunyai tujuan yang akan membawa kebahagiaan abadi kelak&lt;br /&gt;Kuatkanlah kami dari kebosanan dan kejemuan karena mengejar materi, mengejar nama baik, dan mengejar apapun yang bernama "dunia"&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-8243789904880314405?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/8243789904880314405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=8243789904880314405&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8243789904880314405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/8243789904880314405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/botak-dan-bosan.html' title='Ayah Botak !'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RiAx5CZ7LEI/AAAAAAAAAA0/9YcZfytYdZY/s72-c/ayahku.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-2972133798056386390</id><published>2007-04-11T07:10:00.000+07:00</published><updated>2007-04-11T13:52:51.989+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang segala hal'/><title type='text'>Pohon Petai Cina</title><content type='html'>(Pohon petai cina besar di depan rumahku ditebang hari ini. Dahannya yang biasanya menjulur kesana kemari bagai payung raksasa sekarang tak ada lagi. Semilir angin yang menimbulkan suara gemerisik pada daunnya juga tidak akan ada lagi. Kelelawar yang tidur bergantungan juga tidak akan ada lagi.)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengapa harus merusak sesuatu untuk sesuatu yang belum terjadi ?... &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku ingat lima tahun lalu ketika pertama kali aku dan pak Rais memulai bisnis pertama kami suami-istri. Saat itu kami baru menikah dan mempunyai sedikit modal dari hasil uang angpau pesta pernikahan kami. Alih-alih membeli mebel atau men-DP mobil dari uang itu, langsung terlintas untuk membuka usaha yang bisa kami jalankan berdua sepertinya lebih "romantis" buat kami.  Kami memulainya dengan meraba-raba. Melewati setiap rintangan dengan senyuman, melewati setiap belokan dengan penuh harap. Bahkan ketika akhirnya setelah 5 tahun usaha kami itu merugi dan harus ditutup, tetap saja semuanya ada hikmah dan pelajaran yang bisa kami ambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memelihara sesuatu dari kecil, merintis sesuatu dari yang bukan apa-apa menjadi “something” adalah pekerjaan yang bukan main-main. Berawal dari tidak punya modal sama sekali atau dengan modal puluhan juta rupiah, tetap saja kita harus memulai langkah pertama dengan kesungguhan. Kebanyakan dari kita sering membayangkan mendapatkan langsung untung yang besar dari usaha kita. “Orang-orang hanya tahu keberhasilan saya saja. Mereka tidak pernah bertanya bagaimana ribuan kali saya jatuh” begitu kata Toyota, pemilik industri nomor satu di Jepang. Kita mungkin juga tidak pernah tahu bagaimana Kolonel Sanders yang sudah tua renta ribuan kali ditolak ketika menawarkan resep ayam gorengnya ke banyak restoran. Yang seringkali kita lihat dari keberhasilan seseorang hanyalah buahnya saja. Hasil yang diperoleh dari bertahun-tahun usaha dan berkali-kali jatuh juga merugi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(Pohon petai cina itu yang membuat ku dulu jatuh cinta pada rumah ini. Kira-kira setahun lalu ketika pertama kali kulihat rumah biru ini, kehijauan dan kerindangan pohon petai cina besar itu yang sebenarnya menghangatkan hatiku. Sejuknya setiap hari ketika aku sedang berkutat di depan computer di pinggir jendela, entah untuk menjawab email atau hanya sekedar browsing, aku bisa melihat kegagahan dan keangkuhan pohon itu. Benar-benar makhluk Alloh yang indah.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah enaknya memetik sesuatu dari hasil keringat sendiri. Sejak kecil aku selalu dibiasakan untuk menjual sesuatu dulu sebelum mendapatkan sesuatu. Pernah ketika mahasiswa, aku menitipkan gelas-gelas kecil pudding buah di kantin kampus, kadang aku titipkan juga mie goreng yang aku bungkus dalam plastic mika kecil. Semua itu kulakukan karena aku ingin sekali mempunyai sebuah HP. Terbayang berapa bulan aku harus mengumpulkan receh demi receh keuntungan ku setiap hari. Untuk membeli HP Siemens seharga Rp.300.000 (waktu itu tahun 1998) papa hanya memberi aku modal Rp. 20.000 yang harus aku putar untuk mendapatkan Rp. 300.000. Yang namanya merugi sering kali aku rasakan saat itu. Namanya jual makanan, kalau tidak laku ya tidak bisa dijual lagi untuk besoknya. Teruuus saja selangkah demi selangkah aku mengumpulkan uang, memasak pudding dan mie goreng di pagi buta sebelum pergi kuliah, membungkusinya satu persatu dengan penuh doa “Ya Alloh, semoga daganganku habis terjual hari ini..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau sekarang pohon petai cina besar itu ditebang karena pengelola komplek takut rubuh ketika hujan angin itu sama saja dengan membunuh jiwa-jiwa di dalamnya. Jiwa yang sudah sekian lama menggantungkan hidup pada pohon besar itu, jiwa yang sudah sekian lama menjadikan pohon besar itu sebagai tempat tinggal, juga jiwa ku yang merasa teramat terluka melihat pohon itu roboh perlahan-lahan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sama saja dengan merusak sesuatu untuk sesuatu yang belum pasti terjadi… Apakah manusia memang tidak terbiasa untuk memelihara sesuatu, apakah manusia tidak pernah mnghargai sesuatu yang tumbuh dari kecil dan menjadi besar tanpa mengganggunya,  apakah manusia memang tidak terbiasa untuk menghargai sesuatu sekecil apapun itu dengan pandangan kasih ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Wahai bapak yang merasa berkuasa, Kenapa tidak dipangkas saja dahan-dahan nya ?..Kenapa harus ditebang habis pohon besar-ku itu ?..)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-2972133798056386390?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/2972133798056386390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=2972133798056386390&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2972133798056386390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2972133798056386390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/pohon-petai-cina.html' title='Pohon Petai Cina'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-4713551891964249358</id><published>2007-04-10T07:36:00.000+07:00</published><updated>2007-04-10T08:01:49.301+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang segala hal'/><title type='text'>Saya Bukan Saingan Anda, Pak !</title><content type='html'>Jangan khawatir saya akan mengambil bagian rejeki anda. Jangan khawatir saya akan mencaplok pelanggan anda. Jangan khawatir saya akan lebih ngetop dibanding anda. Jangan khawatir saya akan melebihi anda. Jangan khawatir saya akan menyalip anda. Jangan khawatir saya akan mengurangi rezeki anda. Saya bukan saingan anda,Pak !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma seorang ibu rumah tangga, Pak. Saya berbisnis untuk mencari kepuasan batin. Bukan buat menghidupi anak istri seperti anda ! Saya berdagang karena memang sejak kecil saya sering melihat mama saya berdagang. Bukan untuk menyekolahkan anak seperti anda !. Saya berdagang karena saya ingin punya kegiatan lain di luar profesi saya sebagai ibu rumah tangga. Bukan sebagai pekerjaan utama seperti anda !. Saya menjalankan bisnis saya karena saya ingin anak saya juga bisa berdagang seperti saya kelak. Bukan karena saya butuh banyak duit seperti anda !. Saya cuma seorang perempuan. Saya bukan saingan anda, Pak !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma seorang perempuan, Pak. Saya seorang istri juga seorang bunda. Saya tidak pernah merasa terancam oleh siapapun. Karena seorang bunda terbiasa melihat sesuatu dengan welas asih. Saya tidak pernah merasa tersaingi oleh siapapun. Karena seorang perempuan terbiasa untuk memberi tanpa pamrih. Saya tidak pernah merasa direndahkan oleh siapapun karena sebagai seorang bunda saya terbiasa untuk senang dan gembira melihat kemajuan anak saya. Saya tidak pernah memperlakukan orang dengan tidak fair. Karena sebagai seorang perempuan kami adalah hamba yang mempunyai tempat istimewa di mata Alloh SWT. Saya bukan saingan anda, Pak !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah kepada Alloh SWT, suami saya masih bisa mencukupi kebutuhan saya. Alhamdulillah, saya merasa sudah berlebih sekarang. Alhamdulillah saya tidak harus berlaku kasar kepada saingan saya. Alhamdulillah yang namanya rezeki terus mengalir kepada keluarga saya. Alhamdulillah saya masih bisa menyisihkan 20% rezeki kami untuk anak yatim. Alhamdulillah kami sekeluarga masih bisa terhindar dari riba. Alhamdulillah kami sekeluarga tidak terjerat hutang. Alhamdulillah kami masih punya tempat berteduh, tidak harus mengontrak dan pusing setiap tahunnya. Saya bukan saingan anda, Pak !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak marah anda tidak pernah menggubris pemikiran saya. Saya tidak akan marah. Saya tidak marah anda tidak senang pada saya. Tapi perlu anda tahu, saya tidak butuh anda ! Saya bukan saingan anda, Pak !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang bukan saingan anda karena saya lebih baik berkali-kali lipat dibanding anda !. Mau bukti ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-4713551891964249358?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/4713551891964249358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=4713551891964249358&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4713551891964249358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4713551891964249358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/saya-bukan-saingan-anda-pak.html' title='Saya Bukan Saingan Anda, Pak !'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-1212958288177383141</id><published>2007-04-08T10:20:00.000+07:00</published><updated>2007-04-08T10:30:33.835+07:00</updated><title type='text'>Duka Buat Beya</title><content type='html'>Berita penuh kesedihan ini aku terima dari beberapa milis yang aku ikuti dalam beberapa hari lalu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Putri kami tercinta Nabila Khaufi Zahra (Beya), umur 4.5 tahun, telah&lt;br /&gt;meninggalkan rumah (hilang) sejak tanggal 3 April 2007 pagi, dan sampai&lt;br /&gt;sekarang belum ada kabar keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Red: anak tersebut hilang di sekitar halaman depan rumahnya. Masih di dalam&lt;br /&gt;rumah. Itupun dia sedang bermain dengan eyang putrinya yg sedang bersih2 halaman&lt;br /&gt;itu.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon bantuannya bagi siapa saja yang menemukan ananda, agar menghubungi alamat&lt;br /&gt;berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Sugeng / Ibu Tutik&lt;br /&gt;Alamat : Klitren Lor GK 3 No.40,&lt;br /&gt;Yogyakarta&lt;br /&gt;Telp. 0274 545479&lt;br /&gt;081 568 403 400 (Ibu Tutik)&lt;br /&gt;081 328 364 423 (Bp.Sugeng)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih untuk semuanya.&lt;br /&gt;Semoga Allah mendengarkan do'a kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Sugeng.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pagi ini jam 08.18 seorang teman dari kerabat keluarga Beya memberitahu aku lewat SMS bahwa Beya sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innalillahi Wa Innailaihi Rajiun....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Beya cantik, jadilah engkau bidadari surga yang akan menjemput orang tua-mu di akhirat kelak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggulah mereka ya nak, sambutlah mereka nanti dengan senyumanmu yang paling manis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beya, damailah kau disamping-Nya..Amin Ya Rabbal'alamiin...&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-1212958288177383141?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/1212958288177383141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=1212958288177383141&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1212958288177383141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/1212958288177383141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/duka-buat-beya.html' title='Duka Buat Beya'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-3924314955499985450</id><published>2007-04-06T20:55:00.000+07:00</published><updated>2007-04-06T21:18:25.450+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang diri-ku'/><title type='text'>Keras Kepala-nya Eva</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RhZV9v3GFtI/AAAAAAAAAAs/fMI0EecbMCY/s1600-h/DSC_0201.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RhZV9v3GFtI/AAAAAAAAAAs/fMI0EecbMCY/s200/DSC_0201.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5050318551450523346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Gaul dong, Va. Masa sampai sekarang penampilan kamu begitu-gitu aja. Jeans, kaos, bosen deh lihatnya. Aku kira setelah dua tahun kita gak ketemu, kamu bakal berubah.”. Loh, apa yang salah dengan penampilanku?. Aku merasa nyaman dengan jeans dan kaos seperti ini. Atau karena gaya pakaianku tidak pernah berubah sejak kuliah dulu ?. Mau diapakan lagi, aku tidak pernah punya cukup keberanian untuk memakai tanktop atau sejenisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walau sekarang kita udah tidak seperti dulu lagi, kita harus trendy, Va. Jangan kalah sama cewek-cewek diluar sana. Bisa-bisa suami kita beralih pandangan deh. Liat nih aku. Kamu pasti pangling liat aku kan ?. Aku pengen kasih tahu pada dunia bahwa aku masih berjiwa muda”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku?, Rais ?, akan mengalihkan pandangan dariku hanya karena seorang cewek centil berambut merah palsu dan berbaju ‘trendy’ ?. Tidak mungkin, batinku yakin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Va, Va, jangan diem aja. Kamu marah ya aku kritik begitu?” Aduh, si ibu satu ini. Rasanya dia lebih repot mengurus penampilan dan perasaan orang lain daripada berkaca sendiri. Tak tahukah dia bahwa sikapnya membuatku merasa bahwa dia sudah terlalu jauh mencampuri wilayah pribadiku yaitu kebebasanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emang menurut kamu, aku ini gak gaul ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya lah. Coba lihat, kamu tetap seperti Eva yang kukenal waktu kuliah dulu. Padahal kan, kamu sekarang sudah 31 tahun. Seharusnya kamu lebih merawat diri kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidak terawat ?. Begitu maksudmu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Eva. Tidak terawat dan tidak menjadi lebih baik. Gimana sih kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih definisi ‘gaul’, ‘tidak terawat’ dan ‘menjadi lebih baik’ ?. Kalau saja tidak kuingat bahwa perempuan didepanku ini adalah sahabat lamaku pasti sudah dari tadi kuajak berdebat. Inilah kelemahanku. Aku terlalu lemah untuk mendebat pendapat  orang lain, takut menyakiti hatinya. Apalagi ini kawan lamaku. Kurang gaul ?. Apa iya? Walau aku ‘hanya’ ibu rumah tangga, tapi aku aktif di berbagai kegiatan. Dari arisan komplek sampai anggota milis filatelis. Adu referensi tentang mode tas atau sepatu terbaru pun boleh. Atau mau tahu tentang proses pengadilan Saddam Husein, boleh coba diskusi denganku. Temanku juga banyak. Mulai dari tukang jamu langgananku sampai Pak Bram –sesama anggota milis penggemar suplir- yang partner pengacara Gani Djemat. Apalagi tidak terawat. Mungkin aku bukan ‘salon freak’ yang harus setiap dua minggu sekali creambath atau mani-pedi disana, tapi untuk urusan penampilan boleh periksa sekujur tubuhku. Memang sih, aku bukan tipe yang terlalu memprioritaskan penampilan, tapi aku bisa mempertahankan berat badanku di berat ideal. Aku ikut klub body language seminggu dua kali. Dan yang terpenting setiap tahun aku selalu general check up di rumah sakit. Aku dan suamiku juga rajin lari pagi tiap Sabtu dan Minggu. Dan selama ini tidak ada yang komplain tentang kulit wajahku. Walau tidak semulus dan seputih Tamara Blezinsky, tapi wajahku cukup manis dengan sedikit bekas-bekas jerawat yang memang susah dihilangkan. Dan menjadi lebih baik?. Ini yang memerlukan pemikiran mendalam. Aku yakin, saat ini masih banyak kekuranganku sebagai seorang istri dan seorang ibu. Terkadang aku masih suka ngambek ketika suamiku pulang terlambat. Atau sering juga aku merajuk ketika keinginanku untuk membeli baju baru harus tertunda. Aku juga sering meledak marah pada Shabrina ketika sabarku sudah habis. Atau aku pernah juga merasa malas dan bosan karena rutinitasku di rumah. Tapi aku sedang dalam proses menjadi lebih baik sekarang. Aku yakin itu. Karena aku merasakannya, aku tahu dengan pasti. Sekarang aku jauh lebih matang memandang hidup. Obsesiku terhadap uang juga berubah menjadi lebih bijak sekarang. Ketertarikanku dengan agama juga membuatku lebih tenang sekarang. Bisnis-ku juga berjalan baik. Walau sepertinya aku di rumah saja tapi boleh adu besar penghasilanku sebulan dengan seorang dokter gigi yang baru selesai PTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua perubahan itu harus ditunjukkan secara fisik ?. Apakah kita harus merubah penampilan kita supaya orang lain tahu tentang perubahan kita ?. Atau mungkin yang dibicarakan sahabat lamaku ini sebatas perubahan fisik saja?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu kamu tidak melihat penampilanku berubah dibandingkan dulu, begitukah?” tanyaku minta penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eva sayang, ini bukan masalah penampilan saja. Yang namanya perubahan di dalam pasti akan terpancar ke luar lewat lahiriah kamu.” jawabnya sambil tersenyum. “Aku yakin, bahwa cara kamu memandang hidup saat ini pasti  tidak jauh beda dengan Eva yang dulu. Yang selalu easy going, tidak memperdulikan pendapat orang dan cuek sama lingkungan. Benar kan?.” Sekali lagi aku terhenyak mendengar penilaiannya. Wah, ternyata seperti itulah dia menilaiku selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang ada yang salah dengan hal itu ?. “ kataku kalem. Kulihat mata berlensakontak biru di depanku membelalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada yang salah sih. Tapi kamu bisa berubah menjadi lebih baik” katanya lugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata di balik kalimat- kalimat kritikannya ini dia menyimpan maksud tersembunyi dari hanya menegurku soal jeans dan kaos. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi aku mencoba untuk mendengar dan menyelami maksud tegurannya. Tidak ada ruginya, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari dulu aku gak setuju kamu hanya di rumah saja, Va. Kamu kan sahabat dekatku  di kampus. Seharusnya kamu bisa menjadi partnerku sekarang. Kita bisa buka klinik dimana-mana kalau kita kerja bareng.” katanya sambil menghela nafas. Kutatap tajam-tajam manik matanya mencari sesuatu disana. Tidak ada kebohongan disana, dia mengatakan yang sebenarnya. Akhirnya keluar juga ganjalan yang sebenarnya dari sekian banyak kritikan pedasnya padaku dari tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba kalau kamu ikuti jejak-ku. Mungkin kamu gak harus berkutat di rumah aja kayak sekarang. Gak bosen kamu ya Va ?" sambungnya lagi sambil memainkan kacamata di tangannya."Mana idealisme kamu dulu untuk menjadi wanita karier,Va. Membuat klinik untuk para kaum dhuafa, aku gak ngerti kenapa kamu berubah seperti ini"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mirna, aku ngerti kalau kamu kecewa sama aku. Kita memang selalu bersama sejak dulu. Tapi kamu dulu bilang, kamu bisa mengerti keputusan dan pilihanku. Kenapa kamu mengungkitnya lagi sekarang. Aku bahagia, Mir. Mungkin aku tidak akan pernah mewujudkan mimpi kita dulu untuk mempunyai jaringan klinik di mana-mana. Tapi aku menemukan kenyataan lain, Mir. Aku bisa menemukan kebahagiaan lain. Dan itu adalah keluargaku”. Keluar juga isi hatiku yang kupendam dari tadi. Entah kenapa, aku merasa bukanlah menjadi haknya untuk beranggapan bahwa hidupnya lebih baik dari aku dengan hanya dia bisa memakai jas blazer itu dan menaiki mobil mewah atas namanya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku melihat kamu tidak berubah, Va.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku memang tidak harus berubah, Mir. Aku puas atas diriku. Tuhan sudah memberi banyak nikmat padaku. Tak ada yang bisa kulakukan selain bersyukur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia harus berubah untuk kehidupannya. Kalau tidak dia akan tertinggal oleh zaman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mau berubah. Beginilah aku. Aku hanya ingin menjadi lebih baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang benar katanya, aku cukup keras kepala untuk mengakui ada beberapa pendapatnya yang perlu kudengar. Mungkin memang benar usahaku kurang kuat untuk menjadi orang yang lebih baik, sehingga orang lain tidak melihat ada perbedaan pada diriku. Banyak yang harus kukoreksi dari diriku dan kehidupanku. Aku mengerti kalau dia tidak bermaksud menyakiti hatiku. Dia hanya memakai kacamatanya untuk melihat kehidupanku. Dan seperti katanya, aku memang tidak peduli apa kata orang tentang kehidupanku. Dia memang benar, aku memang agak keras kepala.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-3924314955499985450?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/3924314955499985450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=3924314955499985450&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3924314955499985450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3924314955499985450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/keras-kepala-nya-eva.html' title='Keras Kepala-nya Eva'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RhZV9v3GFtI/AAAAAAAAAAs/fMI0EecbMCY/s72-c/DSC_0201.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-9215569738520959731</id><published>2007-04-06T20:28:00.000+07:00</published><updated>2007-04-06T22:23:02.765+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang Rais'/><title type='text'>Ayah Sayang Jeng</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RhZPHP3GFsI/AAAAAAAAAAk/oQWagZfsrDc/s1600-h/yayah2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RhZPHP3GFsI/AAAAAAAAAAk/oQWagZfsrDc/s200/yayah2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5050311018077886146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa ya jeng, ayah sayang banget sama ajeng” begitu bisiknya tadi malam menjelang tidur. Kekasihku ini memang memanggilku ‘diajeng’ sebagai panggilan kesayangan. Tak tahu kenapa. Padahal kami berdua bukanlah orang Jawa, tapi aku senang dengan nama sayangku itu. Kesannya romantis dan lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jeng juga sayang sama ayah.” Sahutku manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ayah suka sedih kalo jeng marah-marah sama ayah” suamiku menarikku dalam pelukannya.Aku hanya tersenyum kecil mendengar kalimat terakhir itu. Hal inilah yang membuat aku sangat mencintainya. Tak pernah sekalipun dia menegurku secara langsung. &lt;br /&gt;Selalu dengan kata-kata yang lembut dan tidak menyakitkan hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuingat kejadian kemarin sore, kejadian sepele sebenarnya. Sore itu suamiku sudah berjanji untuk pulang lebih awal karena ingin mengantarkanku kontrol kawat gigiku ke dokter gigi. Biasanya aku pergi sendirian untuk kontrol bulanan ini. Tapi aku dan suamiku ingin sekali makan kepiting di Telaga sepulang dari dokter gigi malam ini. Sepanjang pagi dan siang sudah terbayang-bayang nikmatnya kepiting saos padang seafood “Telaga” di kepalaku. Sudah lama rasanya aku tidak ke sana, sudah terbayang akan berpedas-pedas ria malam itu. Dulu waktu hamil Shabrina, sering sekali suamiku mengajakku ke seafood di kelapa gading. Tanpa nasi, aku bisa melahap satu porsi ikan gurame bakar sendirian. Aku memang ngidam seafood waktu hamil dulu. Satu porsi kerang dara dan cumi asam manis juga adalah favoritku. Wah, gembiranya aku hari itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja menjelang sore ketika aku baru saja tiba di rumah dari menjemput Brina kursus lukis, suamiku menelepon mengatakan bahwa dia tidak bisa ikut pergi ke dokter gigi dan menyuruhku langsung kesana. “Nanti ayah jemput jeng di Depok, terus kita langsung aja ke Telaga. Ada meeting sore sebentar nih”, begitu janjinya. Tapi tunggu punya tunggu -setelah hampir satu jam bengong di ruang tunggu praktek dokter - janji itu pun dia batalkan karena ternyata meeting sore itu berlanjut sampai maghrib. Marahnya aku malam itu ditambah dengan pembatalan lewat sms membuatku cemberut ketika dia tiba di rumah. Memang sih, kulihat penyesalan di mukanya. Tapi karena sudah kadung terbayang lezatnya kepiting pedas membuatku tidak semudah itu memaafkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah maunya kita sayang-sayangan aja kayak gini. Gak usah cemberut, marah-marah, atau ngomel-ngomel” kata suamiku lagi sambil mengelus-elus punggungku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abis ayah bikin kesel sih. Harusnya ayah gak usah janji kemarin, jadi jeng gak kebayang-bayang enaknya kepiting. Ayah nyebelin” aku menjawab sambil pura-pura masih marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah sering bikin kesel jeng ya?. Maaf ya sayang, ayah gak bermaksud begitu kok. Emang ayah sering banget gak menepati janji sama jeng. Tapi itu karena terpaksa banget bukan disengaja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maunya ayah, jeng harus gimana sih kalo ayah lagi bikin sebel kayak kemarin ?. Jadi jeng gak usah cemberut dan marah- marah lagi” kataku membuka diskusi. Kutarik tubuhku dari pelukannya dan menatap matanya siap untuk bertukar pendapat. Kulihat mukanya langsung berubah serius. Kutarik-tarik rambut ikalnya yang mirip sekali dengan rambut Shabrina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jeng juga gak mau marah-marah sama ayah. Emang enak cemberut dan marah-marah ?. Capek hati, capek pikiran “ sambungku lagi. Senyumnya langsung mengembang mendengar perkataanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm, gimana ya ?. Kalo ayah maunya kita gak usah saling marah atau saling cemberut. Kita damai-damai aja.” Suamiku berjalan duduk ke pinggir tempat tidur. “Ayah juga sedih kalo ngeliat jeng marah-marah. Jeng kan udah capek ngurusin Shabrina dan rumah kita seharian, masa harus capek hati lagi sama ayah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud ayah, jeng gak boleh marah dan kesel sama ayah gitu ?. Walau ayah salah, jeng harus senyum dan seneng aja gitu?.” Tentu saja aku bingung mendengar pernyataannya. Wah, gimana kalau tidak ada yang namanya perasaan marah di hati manusia. Menurutku Tuhan memberikan rasa marah sebagai penyeimbang rasa saling menyayangi. Ada marah ada sayang, ada cinta ada benci, ada suka ada duka, itu adalah dua sisi mata uang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan begitu maksud ayah, istriku sayang. Jeng boleh marah, boleh kesel tapi mungkin jeng juga harus mudah memaafkan. Jadi kesel dan marahnya gak harus berkepanjangan dan membuat jeng capek hati capek pikiran” dia menyahut sambil memandangiku. Aduhh, cintaku, batinku. Dalam sekali makna kalimatmu barusan. Kami akhiri obrolan malam itu dengan tidur saling berpelukan sampai pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah bisa begitu mudah memaafkan ?. Mungkinkah memaafkan bisa menyembuhkan luka hati karena kecewa ?. Memaafkan yang seperti apa ?. Bukankah dengan orang lain marah ketika sedang kecewa pada kita membuat kita tahu bahwa kita sudah menyakiti hatinya?. Bukankah marah disini bisa diartikan sebagai suatu kontrol buat diri kita agar lebih berhati-hati dalam bersikap pada orang lain?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kupikirkan baik-baik pagi ini, aku baru mengerti maksud tegurannya padaku. Mungkin aku memang harus mudah memaafkan, harus lebih berlapang hati dalam melihat kesalahan orang lain. Terutama bila yang bersalah itu adalah orang yang kita cintai. Yakin-lah bahwa mereka tidak akan pernah sengaja untuk menyakiti hati kita. Mana mungkin kita membuat menangis orang yang kita sayangi. Yang ada hanya kekhilafan mereka bukanlah kesalahan mereka. Dan sebagai orang yang saling menyayangi dan mencintai, kita pasti punya sejuta keranjang kata ‘maaf’ buat mereka. Tak akan pernah habis kata maaf itu dari hati kita. Memaafkan dan memaklumi adalah dua hal wajib dalam mencinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah memang untuk tetap memaafkan ketika kita marah atau dikecewakan oleh orang lain. Tapi sikap pemaaf adalah sikap yang selalu diambil oleh orang-orang besar sepanjang zaman untuk membuat derajat mereka lebih mulia dibanding orang lain. Mungkin kita harus memilah-milah hal-hal apa saja yang membuat kita marah pada orang lain. Mungkin kita sekarang harus bisa membedakan mana hal yang sepele dan mana hal yang prinsip. Sehingga kita tidak harus mudah marah dan kecewa pada hal-hal yang remeh temeh. Mungkin selama ini aku memang sudah banyak mengeluarkan energi hanya untuk marah dan kesal karena hal-hal sepele. Padahal banyak hal sepele di dunia ini. Dan tidak akan berubah hidup kita karena hal-hal sepele itu. Jadi kenapa harus diambil pusing ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula masih banyak kebaikan suamiku dibanding tingkahnya yang bikin kesal itu. Aku jatuh cinta padanya dulu karena dia selalu menerima aku apa adanya, tidak pernah menuntut di luar kemampuanku. Aku mabuk cinta padanya karena dia lemah lembut tidak pernah sekalipun dia berlaku keras padaku. Dia juga adalah ayah yang hebat buat anaknya. Tak banyak laki-laki yang mau ikut mengurus anaknya seperti dia. Dia juga selalu berlaku baik pada keluarga besarku, satu-satunya menantu yang bisa ngobrol panjang dengan wak Nasim yang sok tahu itu. Dia juga pintar mencari uang, syukur pada Tuhan kami tak pernah kekurangan materi selama ini. Dia juga ganteng, cerdas, hebat dalam bercinta. Dia juga….Ah, jadi kangen padanya ……..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-9215569738520959731?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/9215569738520959731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=9215569738520959731&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/9215569738520959731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/9215569738520959731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/ayah-sayang-jeng.html' title='Ayah Sayang Jeng'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RhZPHP3GFsI/AAAAAAAAAAk/oQWagZfsrDc/s72-c/yayah2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-7295546983469042797</id><published>2007-04-06T20:14:00.000+07:00</published><updated>2007-04-06T20:24:21.200+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang segala hal'/><title type='text'>Percakapan dengan Seorang Teman</title><content type='html'>“Kenapa sih kamu harus mengeluh terus?. Banyak yang lebih tidak beruntung darimu”&lt;br /&gt;“Tapi salahkah aku berharap lebih dari perkawinan ini?. Semuanya sudah kuberikan. Masa gadisku, karierku, cita-citaku, harapanku, semuanya”&lt;br /&gt;“Benarkah?. Benarkah tidak ada satu hal pun yang kau dapat dari perkawinanmu?.”&lt;br /&gt;”Ya. Yang ada hanya lelah, capek dan jemu”&lt;br /&gt;“Tapi kau seorang istri. Tidak banyak orang bisa mendapat berkah itu”&lt;br /&gt;“Buat apa kalau itu hanya berarti merasa diri tidak nyaman dan selalu tertekan?”&lt;br /&gt;“Tapi kau seorang ibu. Kau mempunyai dua orang anak yang sehat, sempurna dan cantik. Kau beruntung”&lt;br /&gt;“Tapi tidak menjadikan hidupku lebih berharga”&lt;br /&gt;“Kenapa kau selalu mengatakan semuanya untuk dirimu?. Ketidakberhargaan dirimu, tertekannya dirimu, capeknya dirimu, lelahnya dirimu. Apakah kau tidak pernah merasa itu tidak adil?”&lt;br /&gt;“Dunia ini pun sudah tidak adil buatku. Tidak ada yang berpihak padaku. Tidak ada yang berpihak pada seorang perempuan”&lt;br /&gt;“Iyakah?.”&lt;br /&gt;“Tidak usah bertanya seperti itu. Coba kau tanyakan sendiri pada hatimu”&lt;br /&gt;“Sudah. Seringkali. Tapi anehnya aku tidak pernah merasa itu semua adalah salah dunia.”&lt;br /&gt;“Itulah kita perempuan. Kita menamakannya nasib”&lt;br /&gt;“Satu pertanyaan penting, sebenarnya apa persisnya yang kamu inginkan dari hidupmu?”&lt;br /&gt;“Aku cuma berharap bisa hidup tenang, menjadi diriku sendiri tanpa ada embel-embel lain yang memberatkanku”&lt;br /&gt;“Tapi memang begitulah hidup. Tanpa menjadi seorang perempuan pun, hidup ini sudah berat”&lt;br /&gt;"Ya enak saja kamu bicara begitu. Kamu punya suami yang baik, tidak pernah menuntutmu dan hidupmu berkecukupan”&lt;br /&gt;“Itu kan cuma menurutmu saja. Pernahkah kau tanyakan sungguh-sungguh tentang masalahku?”&lt;br /&gt;“Tanpa bertanya aku sudah tahu apa masalahmu. Paling hanya bingung menentukan warna karpet yang cocok untuk cat baru rumahmu setiap tahun”&lt;br /&gt;“Sinis sekali kamu”&lt;br /&gt;“Itulah kamu. Kamu terlalu naïf melihat dunia ini. Bagimu semua yang kamu jalani adalah suratan takdir”&lt;br /&gt;“Bukankah itu jauh lebih meringankan diri?"&lt;br /&gt;“Masa? Kamu jadi merasa cepat puas kan?. Tidak iri kamu melihat teman-teman kuliah kita dulu yang sudah jadi?”&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;“Kamu tidak iri melihat Ika, Riri, Evi, mereka sudah jauh meninggalkan kita”&lt;br /&gt;“Maksudmu hanya karena mereka bekerja dan mempunyai penghasilan yang besar?”&lt;br /&gt;“Ya”&lt;br /&gt;“Mereka pasti punya masalah sendiri. Tidak ada orang yang bebas dari masalah”&lt;br /&gt;“Tapi setidaknya mereka tidak harus berpegang pada kata nasib. Mereka bisa lebih bebas menentukan nasib mereka sendiri”&lt;br /&gt;“Bukankah selama ini kamu sudah memilih?”&lt;br /&gt;“Ya. Tapi aku merasa hanya menjadi seperti ini bukanlah pilihan terbaikku”&lt;br /&gt;“Begitu pula dengan suami dan anak-anakmu?. Kamu merasa semua itu bukan yang terbaik buatmu?”&lt;br /&gt;“Aku yakin bisa lebih baik dari sekarang”&lt;br /&gt;“Misalnya seperti apa?”&lt;br /&gt;“Aku yakin bisa menaklukan dunia”&lt;br /&gt;“Caranya?”&lt;br /&gt;“Aku mahasiswi pintar di kampus dulu. Lulus kuliah aku langsung bekerja. Tanpa menganggur lagi. Aku yakin bisa menjadi wanita karier yang berhasil sekaligus menjadi istri dan ibu yang baik”&lt;br /&gt;“Kenapa kamu dulu tidak mewujudkannya?”&lt;br /&gt;“Ya itulah salahnya dunia. Tidak adil pada perempuan.”&lt;br /&gt;“Maksudmu kamu dipaksa harus memilih salah satu?”&lt;br /&gt;“Ya. Dan baru kusadari sekarang kalau aku bisa menjalaninya berbarengan”&lt;br /&gt;“Berarti itu memang pilihanmu?”&lt;br /&gt;“Itu memang pilihanku. Tapi lebih adil kalau kita tidak usah disuruh memilih”&lt;br /&gt;“Siapa yang dulu menyuruhmu memilih?”&lt;br /&gt;“Tentu saja keadaan. Keadaan yang memaksa”&lt;br /&gt;“Bukan hatimu sendiri yang menyuruhmu memilih?. Bukankah hidup ini memang pilihan?”&lt;br /&gt;“Tapi aku ingin semuanya”&lt;br /&gt;“Kalau begitu kenapa kamu harus tidak puas saat ini. Bukankah dunia sudah memberikan semuanya untukmu?”&lt;br /&gt;“Pasti kamu mau bilang bahwa aku sudah memiliki suami, anak, keluarga, tapi kan hanya itu saja yang aku punya sekarang”&lt;br /&gt;“Maksudmu kamu juga ingin jabatan, karier, dan uang?”&lt;br /&gt;“Ya. Juga eksistensi diri, implementasi ilmu dan kepuasan batin”&lt;br /&gt;“Hal-hal itu yang tidak kamu dapat selama ini?”&lt;br /&gt;“Ya”&lt;br /&gt;”Dengan kata lain perkawinanmu tidak bisa memberikan eksistensi diri atau kepuasan batin?”&lt;br /&gt;“Ya begitulah.”&lt;br /&gt;“Kenapa kau tidak berusaha mendapatkannya?”&lt;br /&gt;“Aku memang tidak pernah mencoba karena aku harus memilih”&lt;br /&gt;“Kalau begitu itu salahmu, bukan karena dunia tidak adil”&lt;br /&gt;“Kenapa aku harus menyalahkan diriku karena tidak bisa mencapai sesuatu yang maksimal ?”&lt;br /&gt;“Kamu kan tidak bisa menjalani keduanya”&lt;br /&gt;“Aku hanya belum pernah mencoba”&lt;br /&gt;“Tapi kamu sudah dewasa. Seharusnya kamu tahu apa yang kamu pilih. Dan itu tidak akan bisa selalu  sesuai keinginanmu”&lt;br /&gt;“Kenapa tidak?. Kulihat kamu selalu mendapatkan semua keinginanmu”&lt;br /&gt;“Ah, yang benar? “&lt;br /&gt;“Kamu bisa mendapatkan suami yang baik, anak yang cantik, rumah yang bagus, mobil yang bagus, keluarga yang harmonis. Iya kan?”&lt;br /&gt;“Kamu yakin sekali kalau semua itu keinginanku”&lt;br /&gt;“Karena kulihat kamu sudah puas dengan semuanya”&lt;br /&gt;“Tapi itu bukan keinginanku. Itu adalah hadiah dari Tuhan buatku.”&lt;br /&gt;“Berarti kamu mendapatkan lebih dari keinginanmu kan?. Kamu tidak harus memilih karenanya”&lt;br /&gt;“Aku sudah memilih. Dan aku bahagia karena pilihanku. Oleh karena itulah Tuhan banyak memberi hadiah buatku karena aku bersyukur”&lt;br /&gt;“Sekarang kita mau ke sSetiabudi atau ke toko buku ?”&lt;br /&gt;“Nah, sekarang kita harus memilih kan?. Dan tampaknya kita memang harus memilih karena Jakarta sangat macet pada jam begini. Atau kamu pikir kita harus mencoba keduanya?. Boleh saja, tapi kamu yang beli bensinnya ya !”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-7295546983469042797?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/7295546983469042797/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=7295546983469042797&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7295546983469042797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7295546983469042797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/hidup-adalah-pilihan.html' title='Percakapan dengan Seorang Teman'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-83102620276721043</id><published>2007-04-06T11:44:00.001+07:00</published><updated>2007-04-06T16:24:45.341+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang diri-ku'/><title type='text'>Rais dan Aku</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RhXUlf3GFrI/AAAAAAAAAAc/k8tt8lprGv4/s1600-h/ayah.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RhXUlf3GFrI/AAAAAAAAAAc/k8tt8lprGv4/s200/ayah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5050176297838712498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bukannya aku tidak mau patuh pada suami. Rasa-rasanya keinginanku saat ini tidak berlebihan. Apakah memang ada perbedaan cara pandang antara laki-laki dan perempuan dalam hal ini?. Pertanyaan tadi yang terus menggangguku, ketika hampir saja terjadi konflik terbuka dengan suami tercintaku. Entah kenapa, kurasakan dia terlalu memaksakan kehendaknya padaku saat ini. Bukankah aku bisa menentukan pilihanku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huih, berbeda sekali dengan Rais yang kukenal. Pertama kali kenal dia di kampus kami dulu, Rais adalah cerminan sosok demokratis dan liberal khas anak Fisika. Enak saja dia merancang tugas yang bertentangan dengan aliran sang dosen sehingga nilai D sering dia terima. Tapi tidak pernah tercetus sekalipun pikiran untuk merubah cara pandangnya. Baginya keindahan suatu ilmu adalah di saat dia bisa menuangkan secara total, sekali lagi, secara total ekspresi dirinya. “Dinding” yang mencuat dengan komposisi yang tidak kompromis terhadap aturan baku adalah karya-karya monumentalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga di Senat kampus, buatku yang anak kedokteran, sikap Rais yang sering menyederhanakan masalah, hatta itu adalah masalah prinsip, sering tidak masuk akal sehatku. Bagiku kalau yang namanya sudah aturan ya tetap harus ditaati. Tapi bagi Rais, ketua Senatku dulu ini, siapa pun orang yang bisa memberikan ide terbaik untuk memecahkan sebuah masalah maka peraturan orang itu-lah yang akan dipakai. Apa pun caranya. Buat Rais, cara yang paling efektif dan efisien untuk menyelesaikan masalah adalah ketika kita mencoba berdiri diluar jauh dari masalah itu. Termasuk mencoba keluar dari aturan, norma ataupun kepatutan yang biasa dilakukan. Semakin `gila` jalan keluarnya, maka biasanya semakin efektif solusinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sikapnya yang bebas merdeka, yang selalu terbuka pada pendapat orang lain, yang selalu menghargai setiap potensi orang itu-lah yang membuatnya terpilih menjadi ketua Senat selama dua periode. Di bawah kepemimpinannya sudah banyak teman-temanku yang dulu `bukan apa-apa` menjadi mekar berkembang menjadi mahasiswa-mahasiswa yang bisa diperhitungkan kiprahnya. Rais sendiri bukanlah tipe pemimpin yang senang berada di depan. Dia lebih senang kalau kiprahnya tidak terlihat. Begitu ungkapnya dulu padaku yang sering kusambut dengan cibiran bibir. &lt;br /&gt;Masih jelas terbayang ketika kampusku menjadi tuan rumah pendeklarasian satu kesatuan aksi mahasiswa yang cukup berperan tahun 1998. Di saat teman-temannya yang sama-sama penggagas organisasi ini satu persatu diwawancarai koran, majalah dan stasiun TV, Rais dengan santai menggamitku pergi dan membawaku ke toko buku untuk merayakan ulang tahunnya. Padahal dia-lah otak yang merancang struktur organisasi ini sehingga bisa menjadi kesatuan aksi mahasiswa yang memegang puncak komando untuk para mahasiswa di Jawa dalam gelombang reformasi 1998. Boleh dibilang kesatuan aksi ini adalah cikal bakal angkatan 98 yang sekarang pentolannya banyak menjadi petinggi partai dan anggota majelis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kupungkiri hal-hal itulah yang membuatku jatuh cinta padanya. Sederhana, terbuka, bebas, dan apa adanya, serasa dia bukanlah berasal dari dunia kepalsuan ini. Di dekatnya aku bisa menjadi Eva yang sebenarnya. Bukan Eva yang anak sulung, bukan Eva yang anak kedokteran gigi, bukan Eva yang aktivis mahasiswa . Nyaman sekali berada di sampingnya. Di dekatnya aku bisa menangis panjang karena kesal pada Mama yang selalu memaksakan kehendak, di dekatnya aku bisa melamun menatap tingginya ombak pantai Pangandaran tanpa resah belum belajar untuk kuis esok, di dekatnya bisa kurasakan betapa dia sangat menghargai Eva sebagai seorang manusia. Dengan segala pilihanku dan segala konsekwensi yang bakal kuhadapi nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belajar banyak darinya. Tapi tidak pernah sekalipun dia berlagak seperti guru  di depanku. Dia tetaplah Rais, kekasihku yang menerimaku apa adanya. Bahkan di awal-awal pernikahan kami, ketika aku memutuskan untuk total menjadi seorang ibu rumah tangga. Tidak ada satupun komentar keluar dari mulutnya, hanya senyuman sayang saja yang mengiringi dekapannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kubalik-balik halaman indeks warna di salon muslimah langganan kami ini.&lt;br /&gt;“Jadi gak coloring-nya, Bu?” terhenyak aku mendengar pertanyaannya.&lt;br /&gt;“Nah, warna ini yang lagi ngetrend sekarang, Bu. Hazelnut gelap, cocok deh sama kulit Ibu” katanya dengan suara agak mendesak.&lt;br /&gt;Pagi ini, hari Sabtu yang memang sudah sangat kunantikan sepanjang minggu. Aku dan sahabat akrabku –Dhanti- sudah menyusun janji untuk pergi ke salon langganan kami. Berbeda dengan Dhanti yang mantan cover girl, sudah lama aku tidak ke salon. Hampir tiga bulan. Maklum rambutku yang lurus ini tidak memerlukan perawatan yang rumit. Tinggal dipotong bob pendek, diberi hair tonic tiap malam dan sesekali creambath sendiri di rumah. Tapi hari ini lain. Aku dan Dhanti berencana mengubah warna rambut kami. Pengen variasi dan ganti gaya saja, begitu alasan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semuanya bermula dari pertanyaan suamiku yang dilontarkannya sesaat sebelum aku mengulas sapuan bedak terakhir di wajahku. “Tumben semangat banget. Biasanya kamu paling males nemenin Dhanti ke salon, Va?”. Langsung dengan berapi-api kubeberkan rencana kami untuk mengecat rambut kami. Tak disangka wajahnya berubah menjadi serius dan menohokku dengan kalimat “Aku gak setuju, ah. Aku lebih suka kalo kamu biasa saja, Va”. Tentu saja ini diluar dugaanku. Kalimat “…Aku lebih suka kalo kamu biasa saja” akhirnya menjadi perdebatan kami pagi ini. Menyebalkan, karena kali ini pendapatnya sama sekali tidak logis buatku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berulangkali Dhanti meyakinkan sejak tadi, bahwa ini hanya soal warna rambut. “Itu tidak mengubah diri kamu, Va. Kamu tetap Eva, yang istrinya Rais dan bundanya Shabrina. Tidak ada yang berubah. Lagian kamu kan pake jilbab. Gak bakal kentara perubahan warna rambut kamu di mata orang lain” begitu katanya. Tapi benarkah ini tak mengubah diriku?. Benarkah warna rambut tidak penting buatku? Atau memang suami-ku saja yang membesar-besarkan masalah. Kalau memang aku merasa bisa bebas memilih, kenapa kali ini aku merasa bimbang ?. Bukankah ini rambutku, tubuhku? Dan seperti kata Dhanti tadi, aku pun tidak akan berubah hanya gara-gara warna rambutku. Kenapa aku harus begitu peduli pada perasaan suamiku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dhan, aku mau potong rambut dan creambath aja deh” akhirnya keluar juga keputusanku. Dhanti membelalakan matanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Aku tahu kamu pasti akan memutuskan itu, Va” lanjutnya tulus.&lt;br /&gt;Kuurai lagi kejadian tadi pagi. Kuhadirkan wajah suami tercintaku. Kucoba untuk memahami perasaannya. Mungkin memang saat inilah aku harus menerima dia apa adanya. Sisi dirinya yang selama ini tidak pernah kuketahui. Mungkin tidak masalah buatnya, bila aku memutuskan total menjadi ibu rumah tangga. Mungkin tidak masalah buatnya, bila aku belum mau memberi adik lagi buat Shabrina. Tapi mengubah warna rambutku adalah masalah besar buatnya. Dan aku akan menerima itu sebagai rasa sayangku padanya. Mencoba untuk menghargai pendapat dan kemauannya. Walau memang terasa agak konyol buatku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-83102620276721043?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/83102620276721043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=83102620276721043&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/83102620276721043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/83102620276721043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/rais-dan-aku.html' title='Rais dan Aku'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RhXUlf3GFrI/AAAAAAAAAAc/k8tt8lprGv4/s72-c/ayah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-2248600912241263932</id><published>2007-04-05T17:35:00.000+07:00</published><updated>2007-04-06T16:23:57.168+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang keluarga-ku'/><title type='text'>Tambah Anak (kenangan di arisan keluarga)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RhTWJP3GFpI/AAAAAAAAAAM/h8yu-bgerJo/s1600-h/nenek_2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RhTWJP3GFpI/AAAAAAAAAAM/h8yu-bgerJo/s200/nenek_2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5049896536553952914" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(foto Shabrina bersama Nenek Surti)&lt;/em&gt;     Kalau saja aku bisa memutar waktu, malas rasanya berada disini. Diantara kerumunan Om, Tante, Uwak dan Mamak yang mengobrol riuh sambil tertawa-tawa. Entah apa yang mereka perbincangkan sampai harus mengorbankan telinga orang-orang di sekelilingnya. &lt;br /&gt;“Nah, ini dia Eva betino kito. Ngapo belum nambah anak hah?..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu lagi itu lagi pertanyaan yang harus kuhadapi setiap aku bertemu salah satu dari mereka. Sedangkan suamiku dengan santainya duduk bersila diatas tikar sambil tersenyum-senyum melihat kusutnya mukaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tambah lah anak tu. Jangan lamo-lamo. Dak takut kalo ketuoan hah?”&lt;br /&gt;“Insya Allah, Wak”. Yah, hanya itu jawaban standar yang terlontar dari mulutku. Mau gimana lagi, pahit mulut ini menjelaskan alasanku kepada mereka juga tak bakal mendapat tanggapan yang konstruktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tau gak sih susahnya mengurus anak itu?, gerutuku dalam hati. Tanpa sadar kuperhatikan satu persatu orang-orang tua yang duduk didepanku. Tante Sumi adalah keponakan Mamaku yang paling besar. Rambutnya yang hitam masih tergelung rapi, khas wanita seberang. Anaknya ada tujuh orang dan semuanya laki-laki. Ya, Tuhan, tanpa sengaja aku berucap sambil membayangkan repotnya dia setiap hari. Om Irwan, sepeninggal istrinya karena kanker delapan tahun lalu dia menikah lagi, dan total jumlah anaknya dari istri pertama dan kedua adalah sepuluh orang. Wah, padahal si Om hanyalah guru PNS biasa. Bagaimana ya dia harus menyekolahkan sepuluh anaknya?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pinggir tembok menyandar pada pilar ada Kakek Imron. Beliau masih terhitung sepupu Kakekku. Tapi dibanding dengan Kakek yang sudah mulai pikun sekarang, Kakek Im - begitu kami biasa menyapanya- masih segar bugar. Mulutnya masih sibuk mencangklong pipa hitamnya. Yang ini pun sami mawon, dengan dua istri yang dinikahinya dia mendapat delapan orang anak. Bahkan anaknya yang terkecil masih seumuran denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak anak tu banyak rezeki, Va. Nah, liat lah Uwak-mu ini tak pernah habis harta karena dua belas anak” yang ini adalah komentar Wak Nasim si saudagar sepatu. Terang saja dia enteng berucap seperti itu, toko sepatunya menyebar di tiap mall yang ada di Jakarta ini. Itu mah gak fair,Wak. Tapi kalau kulancarkan protesku, dia hanya tertawa terbahak-bahak sampai matanya berlinang air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang ibu adalah pengalaman paling ajaib yang pernah terjadi pada diriku. Setelah sepuluh bulan setengah janin-ku belum lahir juga, dokter kandunganku akhirnya memutuskan untuk “memaksanya” keluar. Operasi caesarku enam tahun lalu adalah operasi pertama buatku. Seumur hidup belum pernah aku masuk ke kamar operasi. Tak sampai 30 menit, lahirlah Shabrina bidadari kecilku dengan tangisan keras seakan protes karena “dipaksa” melihat dunia. Tak pernah kubayangkan bayi kecil itu ternyata langsung mengubah Eva 180 derajat. Melihat bayi itu tidur dalam pelukan membuat diri ini tidak berarti apa-apa tanpa dirinya. Hilang sudah egois-ku, kekanakan-ku, harga diriku, yang ada hanya dia. Tertatih sebagai ibu baru, aku belajar mengasuhnya sendiri. Kususui dia dengan harapan besar, kuayun dia dengan cita yang tinggi dan kubelai dia dengan kasih abadi. Berpisah dengannya bisa membuatku gelisah bukan kepalang. Apalagi setiap pagi menjelang, ketika aku terpaksa meninggalkannya pada Neneknya. Kuliahku yang tinggal menjalani kerja praktek di rumah sakit mengharuskanku berpisah dengannya selama delapan jam setiap hari, tapi sungguh itu seperti seabad lamanya. Dan tangisanku –lah yang menjadikan seakan malam-malam begitu kelam ketika dia jatuh sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua momen itu masih terbayang jelas di mataku. Bahkan masih bisa kurasakan sakitnya puting susuku yang lecet berat ketika menyusui anakku. Semua masih jelas terasa. Kesibukanku makin bertambah ketika dia mulai “sekolah”. Karena ikutan tren, aku memasukkannya ke sebuah sekolah ala bermain saat Shabrina berumur 2 tahun. Saat itu aku ikutan berlari ketika dia berlari, ikut melompat ketika dia melompat, ikut bernyanyi “the itsy bitsy spider” lengkap dengan gerakan tangannya. Dia ikut kelas toddler, akupun ikut ngintil sebagai toddler juga. Kuat gak ya aku mengulangi semua kejadian itu?. Apakah masih ada sisa tenaga untuk adiknya nanti?. Pertanyaan itu yang terus menggaung saat aku mencoba menelisik kesanggupan diri untuk hamil lagi. &lt;br /&gt;Mataku kembali melirik kumpulan orang yang sedang duduk di depanku, tapi sekarang fokusnya berpindah pada kumpulan “generasi muda”-nya. Kebanyakan dari kami mempunyai lebih dari 4 orang saudara kandung. Suku kami memang mengagungkan anak. Bagi suku kami, anak adalah harta terbesar dan berguna untuk menjaga kelangsungan budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas kuingat, bagaimana Mama harus susah payah bekerja membanting tulang ikut membantu Papa bekerja siang malam demi untuk menghidupi kami tujuh bersaudara. Tak jarang kulihat Mama terpaksa meloloskan gelangnya ke toko emas untuk biaya kuliah kami. Kuingat juga Mama yang terkantuk-kantuk menunggui kakak belajar sampai jauh malam, Papa yang begitu sabar melerai pertengkaran kami, dan sempitnya kamar-kamar tidur kami yang terpaksa harus dihuni oleh  3 orang didalamnya. Tapi, benar, aku tidak pernah melihat Papa atau Mama kesusahan karena tingkah kami. Selalu mereka bersikap apa adanya seperti layaknya orang tua. Mereka marah kalau kami salah, mereka menangis kalau kami kecewakan dan mereka bahagia saat kami senang. Tak ada tuntutan atau permintaan balasan pada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiap anak itu ada pintu rezekinya, Va” terngiang kembali kata-kata Mama ketika kami sedang mengalami kesulitan keuangan karena di PHK-nya Papa. Mama percaya itu bahkan beliau sering mengatakan bahwa dia sudah membuktikannya. “Kau mesti percaya bahwa ada tiga hal yang pasti akan selalu ada rezekinya dari Tuhan. Untuk menyekolahkan anak kita, untuk membuatkannya tempat berlindung dan untuk menikahkannya”.  Percaya gak percaya, tapi kupikir benar juga isi kalimat tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tingkat ketergantungan-ku pada Alloh yang kurang kuat dibandingkan dengan orang-orang tua dulu. Kalau semua sudah disandarkan pada-Nya, maka semua hal menjadi blaur dan tidak terjelaskan. Nilai inilah yang mulai tergeser di zaman materialisme ini. Di zaman yang semuanya diukur lewat materi dan tampilan fisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak, tidak bisa memberikannya rumah yang terbaik, tidak bisa memberikannya susu dan makanan yang terbaik, itulah sebenarnya awal semua ini. Tapi bukan berarti dulu orang-orang tua kita tidak punya kekhawatiran seperti ini juga. Mereka pun mempunyai kekhawatiran yang sama. Tapi mengapa mereka seakan tidak tergoyahkan?. Bukankah selama ini mereka - orang-orang tua kita – juga sudah memberikan yang terbaik buat kita ? Pendidikan terbaik, rumah terbaik bahkan makanan terbaik. Kemudian apa yang membedakan kita sekarang dengan mereka dulu?. Zaman-kah yang berubah ?. Tapi haruskah keyakinan bersandar pada-Nya pun harus berubah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante bunda, kenapa sih rambut Kakek warnanya putih semua?” tau-tau keponakan-ku yang baru berumur lima tahun sudah berada didepanku dengan tampang lucunya. Kupandangi wajah tengilnya. Dan kududukan dia ke pangkuan. Andai saja dia sudah mengerti maka akan kujelaskan panjang lebar bahwa rambut putih Kakeknya adalah bukti kerja keras beliau menghidupi kami semua, anak-anaknya..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-2248600912241263932?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/2248600912241263932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=2248600912241263932&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2248600912241263932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/2248600912241263932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/tambah-anak-kenangan-di-arisan-keluarga.html' title='Tambah Anak (kenangan di arisan keluarga)'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SLb48GpvOhQ/RhTWJP3GFpI/AAAAAAAAAAM/h8yu-bgerJo/s72-c/nenek_2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-7256801067766729887</id><published>2007-04-05T16:44:00.000+07:00</published><updated>2007-04-06T16:25:44.093+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang diri-ku'/><title type='text'>Obrolan kantin Sekolah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Tercenung kupandangi wajah berkacamata didepanku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;“Aku gak biasa meminta sih. Masa untuk beli bedak aja aku harus minta ke suamiku..”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Siang itu adalah siang yang panas, ditambah dengan keriuhan khas kantin sekolah, disanalah aku dan dua orang teman sedang mengisi waktu sambil menunggu anak-anak kami pulang sekolah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;“Mungkin kamu gak risih untuk melakukan itu,Va. Tapi sejak kuliah aku sudah mandiri. Uang kuliah kucari sendiri tanpa minta orang tua lagi. Mungkin karena itu aku sekarang memutuskan bekerja juga..”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kupandangi lagi wajah itu. Yah, baru sekitar setengah jam ini kami mengobrol akrab. Biasanya kami hanya bertukar senyum layaknya dua ibu yang kebetulan saling berpapasan. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah pasca liburan panjang Lebaran. Buat kami, para ibu yang biasa mengantar dan menunggui anak di sekolah, rutinitas ini membuat kami sering bertemu. Tapi lain halnya dengan hari ini, bermunculan-lah muka-muka “baru” yang biasanya hanya muncul ketika penerimaan raport. Pertemuan dengan dua teman ngobrolku kali ini juga dimulai dengan sapaan saling bertukar kabar yang akhirnya disepakati untuk minum jus bersama di kantin sekolah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“&lt;em&gt;Emang enak sih, bisa mengurus anak sendiri, mengurus rumah sendiri. Gak usah pusing kayak aku sekarang. Tiap abis Lebaran, pasti masalah pembantu dan suster yang bikin mumet kepala. Terpaksa deh harus cuti, harus ngepel sendiri, nyapu sendiri, jemput anak sendiri. Jadi upik abu deh setahun sekali..”&lt;/em&gt; sekali lagi pemilik wajah itu tertawa lepas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Anganku melayang pada mama yang tinggal berlainan kota denganku. Bekerja adalah hidup buat mama. Hampir separuh usia beliau abdikan dirinya pada departemen milik negara. Kenapa seakan aku menemukan sosok mama pada temanku hari ini. Berlainan denganku, mama adalah seorang wanita pekerja. Dia selalu bangun sebelum subuh jauh sebelum anak dan suaminya bangun. Walau kami punya pembantu, tetap saja mama sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Mengaduk susu, mengulek bumbu nasi goreng dan sebagainya. Dan tepat ketika jam besar kami berdentang enam kali, mama langsung pergi membelah keriuhan kota. Ingatanku akan mama adalah saat dimana mama pulang menjelang maghrib dengan beragam tentengan oleh-oleh untuk kami. Dan panggilannya kepadaku ketika menjelang Isya untuk memijit kakinya membuatku rindu harum minyak tawon miliknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;“ Capek sih kerja kayak gini. Tapi aku gak bakal tahan kalo gak megang duit, Va. Belum lagi membayangkan harus di rumah seharian. Bisa bosen aku !”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kali ini anganku kembali melayang jauh pada seorang Bi Neng yang sudah puluhan tahun mengabdi sebagai pembantu di rumah mertuaku. Sosok agak pincang yang selalu tersenyum walau ada memar lebam di wajahnya. Satu-satunya alasan ibu mertuaku masih mempekerjakan Bi Neng walau dia sudah tua adalah Siti, anak semata wayang pasangan Bi Neng dan Mang Karja. Siti adalah seorang gadis manis kelas 2 SMA yang sering kumintai bantuan untuk membantuku menjaga Shabrina di rumah ketika aku harus bepergian. Sering ketika dia datang, wajahnya kelabu. Dan tanpa penjelasan apapun darinya, aku sudah tahu bahwa penyebabnya adalah pertengkaran orang tuanya. Pukulan demi pukulan yang sering dilakukan oleh Mang Karja yang penjudi itu kepada istrinya-lah yang kupikir membuat Siti menjadi anak pendiam dan tertutup.&lt;br /&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Padahal kamu kan dokter gigi, Va. Gak pengen tuh praktek?. Aku ada temen loh yang punya klinik gigi. Mungkin kamu bisa kurekomendasikan untuk praktek disana”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Aku hanya bisa tersenyum sambil menghirup jus jeruk di depanku. Tak sengaja kulihat kening mulusnya berkerut dan sambil mendecak-decakkan mulutnya dia geleng-gelengkan kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;“Kan enak, Va, bisa Bantu-bantu suami. Bener deh kalo aku gak kerja mungkin sampe sekarang kami belum bisa punya rumah”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Sembari memainkan jari, kembali lagi pikiranku melayang. Kali ini tertambat pada momen romantis enam tahun lalu; “lamaran koboy” ala Rais yang kini jadi suamiku. Pagi masih dingin sekali di kaki gunung Halimun, ketika serombongan pencinta alam dari Universitas Indonesia bersiap berangkat menempuh perjalanan mendaki gunung berkabut itu. Aku yang baru saja dilantik sebulan lalu menjadi anggota kelompok ini masih gelagapan membenahi bawaanku. Ketika nyaris saja aku menjatuhkan carierku karena salah posisi, tak disangka sepasang tangan menahannya dan si pemilik tangan langsung menyambungnya dengan pertanyaan: “Maukah kamu jadi ibu buat anak-anakku?”. Walau kami berjalan menembus kabut tapi tak pernah kurasakan pagi sehangat hari itu dalam hidupku. Enam bulan kemudian kuputuskan untuk mengikatkan diriku selama-lamanya dalam pernikahan kami. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;“Bisa aja sih aku berhenti kerja sekarang. Tapi kayaknya gaji suamiku gak bakal cukup deh untuk kebutuhan sehari-hari. Apa-apa kan mahal sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Tak terasa mataku menajam memperhatikan gerombolan murid-murid SMA yang sedang asyik ngobrol sambil bertukar lagu dengan HP- nya. Aku jadi terkenang pada Emak; nenekku yang masih terus memanjakanku walau aku sudah SMA. Bertolak belakang dengan mama, Emak -yang adalah ibunya- adalah seorang guru Sekolah Rakyat (setara SD di zaman Belanda) yang akhirnya memutuskan untuk berhenti mengajar ketika anak bungsunya lahir. Pernah dulu aku sering tak habis pikir, bagaimana bisa Emak yang tidak berpendidikan tinggi bisa mengantar ketujuh anaknya -empat laki-laki dan tiga perempuan- menjadi sarjana semua. Kalau kutanyakan hal itu, tak ada satupun jawaban terlontar dari mulut Emak kecuali tangannya yang langsung mendekapku dalam pelukannya yang seakan tak berujung. Sedangkan Abak -kakekku- adalah seorang mantan pejuang yang tidak pernah mau tahu “urusan perempuan”. Badannya yang masih tegap sampai sekarang, masih kuat digunakan mengayuh sepeda tiap pagi. Untuk cucu-cucunya, Abak bukanlah tempat bermanja walau terkadang sering kulihat dia termenung-menung memandangi album foto keluarga besar kami. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Ah, kalau saja kita yang perempuan-perempuan ini tidak harus dibebani sekian banyak tanggung jawab, mungkin kita bisa jadi diri sendiri, ya Va. Enggak harus dibebani kerja, anak, suami atau rumah. Menurut kamu gimana, Va?”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Krriiiiiiiiiiiing…………Deringan bel panjang membuatku tidak bisa menjawab pertanyaan pertama darinya buatku di obrolan panjang kami siang ini. Dan ketika aku berbalik dari tempat duduk, kulihat seorang anak keriting berkuncir dua mengembangkan tangannya sekaligus tak lupa berteriak keras “Bundaa…….” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sambil kugandeng tangan kecilnya, kujawab dalam hati pertanyaan temanku tadi bahwa menjadi siapapun tidak menjadi soal buat seorang perempuan. Yang penting adalah bagaimana kita akhirnya bisa bahagia dengan pilihan kita, bisa tersenyum ketika menjalani konsekwensinya dan bisa bersyukur ketika menyelesaikannya. Aku belajar banyak dari Mama, Bi Neng, Emak, bahkan dari diriku sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-7256801067766729887?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/7256801067766729887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=7256801067766729887&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7256801067766729887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/7256801067766729887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/obrolan-kantin-sekolah.html' title='Obrolan kantin Sekolah'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-4573829197841170021</id><published>2007-04-05T16:40:00.000+07:00</published><updated>2007-04-06T16:26:13.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang segala hal'/><title type='text'>Jangan deket-deket sama tukang kritik !</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Jangan pernah deket-deket sama orang negatif !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya apa ? Orang yang negatif adalah orang selalu melihat sesuatu atau seseorang dari sisi kekurangan atau kelemahan saja. “Wah, masih gemuk kok, Va, katanya udah diet ?”, “Kayaknya baju itu terlalu rame deh, coba dikurangin rendanya”, “Menurutku pendapat kamu itu mustahil. Padahal waktu kita sempit”, “Kamu sih pake kurir lokal, coba pake yang internasional gak bakalan barangmu gak nyampe kayak sekarang&lt;br /&gt;Capek ?..iya capek bener kan dengerin semua komentar “orang negatif” dengan semua pendapat dia yang “kayaknya”, “menurutku”, “Seandainya..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya orang negatif adalah seorang pengkritik tulen. Dia menyangka bahwa dirinya yang paling benar, dirinya yang paling hebat. Padahal diatas langit masih ada langit kan ?..Seorang pengkritik juga bukan seorang pemimpin. Karena seorang pemimpin pasti mempunyai hati yang luas dan lapang untuk melihat kemampuan orang lain. Seorang pengkritik juga bukan orang tua yang baik, karena orang tua selalu punya welas asih dengan anaknya. Seorang pengkritik juga bukan seorang organisatoris yang baik kaena dia tidak bakal bisa bekerjasama dengan siapapun. Seorang pengkritik jangan sekali-kali dijadikan teman karena dia pasti akan membuat kita menjadi “pecundang” terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengkritik juga biasanya tidak pernah mau belajar lebih jauh tentang sesuatu yang dikritiknya. Karena seandainya saja, dia adalah seorang yang gemar melihat lebih dalam maka tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang pantas dikritik. Karena yang kekurangan/kelemahan adalah sisi lain dari kelebihan. Dan kekurangan adalah jamak terjadi pada diri manusia yang hamba Alloh ini. Bahkan ada yang bilang bahwa keunggulan masusia dibandingkan makhluk lain karena dia mempunyai banyak kekurangan. Sehingga manusia diciptakan Alloh SWT sebagai makhluk pembelajar yang tidak pernah puas akan dirinya. Sifat pembelajar ini yang akan membuat manusia bertahan hidup. Ini adalah insting alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih bedanya kritik dengan kebohongan ? Aku selalu menganggap orang yang mengkritik ku melakukan kebohongan. Tidak perlu aku tanggapi apalagi sampai dipikirkan berhari-hari. Bikin mumet !. Sedangkan saran ? Saran adalah batu bata buat kehidupan. Jangan pernah berhenti meminta saran kepada orang lain dan jadikan hal ini sebagai kebiasaan. Wah, berarti eva anti dikritik ya ? Bukan itu. Sebagai pedagang jangankan dikritik, ditolak mentah-mentah pun sudah menjadi makanan kita sehari-hari..Tul kan ya Bun ?..Tapi kritikan berbeda jauh dengan penolakan. Karena penolakan adalah sebuah peluang tersembunyi, sedangkan kritikan adalah “sampah” buat ku. Ketika ditolak, maka kita pasti akan terus berfikir untuk melihat apa yang perlu dibenahi, misalnya apa yang tidak menarik dari cara promosiku, apa yang belum pas dari presentasiku, atau apa yang membuat calon prospek tidak jadi mengikuti program ku. Nah, dengan mengevaluasi sebuah penolakan, biasanya datang kreativitas yang tidak terduga untuk kembali memperbaiki kesalahan kita dikemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling parah kalau seseorang mengkritik kita dengan mengada-ada. Seperti dicari-carinya kesalahan “kecil” kita diantara seabreg keberhasilan kita yang lain. Ini yang syusyeh…Karena apa ? Yang namanya energi negatif pasti akan cepat menyebar seperti halnya juga energi positif. Jadi ketika dia menyatakan kekurangan “kecil” kita tadi, biasanya orang-orang di sekeliling yang kebetulan mendengar pasti juga akan mengiyakan. Dan energi negatif ini juga akan cepat menyebar dalam diri, visi dan hati kita bila tidak cepat-cepat kita mengenyahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jangan pernah deket-deket sama tukang kritik…Apalagi menirunya…Karena bisa dipastikan tukang kritik tidak akan pernah berhasil dalam hidupnya. Pasti !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-4573829197841170021?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/4573829197841170021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=4573829197841170021&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4573829197841170021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/4573829197841170021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/04/jangan-deket-deket-sama-tukang-kritik.html' title='Jangan deket-deket sama tukang kritik !'/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-888274972688804664.post-3155137891953522967</id><published>2007-03-27T23:09:00.001+07:00</published><updated>2007-03-27T23:09:00.919+07:00</updated><title type='text'>My First Blog </title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Hari pertama nge-blog, pake word 2007….Woww keren !&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/888274972688804664-3155137891953522967?l=evarais.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evarais.blogspot.com/feeds/3155137891953522967/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=888274972688804664&amp;postID=3155137891953522967&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3155137891953522967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/888274972688804664/posts/default/3155137891953522967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evarais.blogspot.com/2007/03/my-first-blog.html' title='My First Blog '/><author><name>evarais</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08307176753346964828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_SLb48GpvOhQ/R4YqQ7fFI5I/AAAAAAAAAEE/C-znv6nPGos/S220/eva-shabrina.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
